Ditulis oleh: Salman Abu Sitta*
Gaza, NPC – Saat menulis artikel ini di Kuwait, saya mendengar deru pesawat nirawak yang melintas di atas kepala—terbang dari dan menuju Iran, Israel, serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan ini. Itu adalah contoh nyata kekuatan senjata. Namun, kekuatan tersebut masih jauh berada di bawah kekuatan pemikiran.
Terpidana penjahat perang Benjamin Netanyahu mungkin tidak dikenal karena kebijaksanaan historisnya, tetapi secara tidak sengaja ia pernah menyinggung analogi antara Genghis Khan dan Yesus Kristus—yakni perbandingan antara kekuatan senjata dan kekuatan pemikiran.
Kekuatan senjata bersifat sementara. Ia melemah dan lenyap dalam waktu singkat ketika sumbernya tidak lagi mampu mempertahankan daya tersebut. Sejarah penuh dengan contoh semacam itu. Adolf Hitler adalah salah satunya. Netanyahu dan Zionisme, dalam pandangan ini, merupakan contoh yang tengah terbentuk.
Sebaliknya, kekuatan pemikiran bersifat bertahan lama. Saat ini, miliaran manusia menganut agama Kristen dan Islam tanpa berada di bawah kendali kekuatan senjata.
Sejak 1948, ketika saya menjadi pengungsi pada usia sepuluh tahun akibat invasi Zionis ke Palestina, saya mengalami langsung berbagai peristiwa: Nakba 1948, Agresi Tripartit 1956, krisis pengalihan Sungai Yordan pada 1964 saat Israel membangun National Water Carrier, serangan ke Lebanon pada 1982 dan 2006, Intifada (1987–2005), Perang Oktober 1973, invasi Irak ke Kuwait pada 1990, Great Return March 2014–2018, hingga upaya kembalinya pengungsi Gaza ke rumah mereka pada Oktober 2023. Namun, tidak satu pun dari peristiwa tersebut—betapapun mematikan—mengubah persamaan yang ada.
Israel menyerang Palestina dan negara-negara di kawasan dengan dukungan Amerika Serikat untuk mencapai tujuan permanen: penundukan. Namun, dalam tujuh dekade, tujuan itu belum tercapai. Permusuhan terhadap Israel mengakar di kawasan, sementara posisinya di dunia kian dipandang sebagai negara paria. Kegagalan ini menunjukkan bahwa kekuatan senjata tidaklah abadi.
Kekuatan pemikiran—yang berlandaskan perdamaian dan keadilan—tidak hadir dalam pola pikir Zionisme. Sebaliknya, rakyat Palestina tidak pernah goyah dalam tekad untuk kembali ke tanah air mereka.
Di panggung global, gambaran ini semakin jelas. Sekitar dua miliar orang di dunia menganut agama Kristen, mengikuti ajaran Yesus Kristus yang telah berlangsung selama dua milenium dan akan terus berlanjut.
Sekitar dua miliar lainnya adalah Muslim, mengikuti ajaran Nabi Muhammad yang telah berlangsung selama 15 abad—dan kini menjadi salah satu agama dengan pertumbuhan tercepat.
Warisan Israel selama tujuh dekade terakhir, dalam narasi ini, dibangun di atas pendudukan, pembunuhan, pembersihan etnis, dan genosida.
Dalam periode yang sama, jumlah penduduk Palestina meningkat dari 1,5 juta menjadi 15 juta jiwa. Saat ini, separuh dari mereka tinggal di tanah air mereka, namun berada di bawah pendudukan dan sistem apartheid.
Separuh lainnya tersebar di seluruh dunia, mewakili Palestina yang dibungkam. Banyak tokoh terkemuka lahir dari diaspora ini, seperti Edward Said, Ghada Karmi, dan Susan Abulhawa, yang menyuarakan kisah Palestina ke tingkat global.
Kini, penduduk Palestina disebut memiliki jumlah pemegang gelar doktor (PhD) per kapita yang tinggi di dunia. Mereka menorehkan prestasi di berbagai bidang—politik, sains, hingga keuangan. Namun, Israel, yang kini dihuni oleh gelombang imigran baru dari Eropa Timur, tetap menolak hak mereka untuk kembali.
Seruan “Free Palestine” menggema di jalan-jalan kota di seluruh dunia, lebih kuat dari sebelumnya. Bagi rakyat Palestina, hak untuk kembali adalah sesuatu yang sakral, sah secara hukum, dan tak terelakkan. Mereka tidak akan melepaskannya—dan meyakini akan mencapainya. Dengan demikian, pada akhirnya, saya yakin bahwa kekuatan pemikiran akan mengungguli kekuatan senjata.
___
*Salman Abu Sitta adalah pendiri sekaligus Presiden Palestine Land Society yang berbasis di London, sebuah lembaga yang berfokus pada dokumentasi tanah dan rakyat Palestina.
Ia merupakan penulis enam buku tentang Palestina, termasuk karya komprehensif Atlas of Palestine 1917–1966 dalam edisi bahasa Inggris dan Arab, Atlas of the Return Journey, serta lebih dari 300 makalah dan artikel mengenai pengungsi Palestina, hak untuk kembali, sejarah Nakba, dan isu hak asasi manusia.
Selama lebih dari 40 tahun, ia dikenal luas atas kontribusinya dalam mendokumentasikan dan memetakan wilayah serta demografi Palestina. Memoarnya yang mendapat banyak pujian, Mapping My Return, mengisahkan kehidupannya di Palestina serta perjuangan panjangnya sebagai pengungsi untuk kembali ke tanah airnya.
(T.FJ/S: MEE)