Blokade Mematikan di Gaza: 10 Pasien Palestina Meninggal Setiap Hari Akibat Israel Larang Evakuasi Medis

Gaza, NPC – Sebanyak 10 penduduk Palestina sebagaimana dilaporkan MEE, pada Senin (23/06/2026), meninggal setiap hari di Gaza akibat pembatasan ketat yang diberlakukan Israel, yang menghalangi akses mereka terhadap perawatan medis darurat di luar wilayah tersebut, demikian disampaikan Kementerian Kesehatan Palestina.

Direktur Departemen Informasi kementerian itu, Zaher al-Wahidi, pada Senin (23/03) mengatakan bahwa “setiap hari, antara enam hingga 10 pasien yang menunggu untuk bepergian ke luar negeri guna mendapatkan pengobatan meninggal dunia”.

Ia menyebutkan setidaknya terdapat 195 kasus yang diklasifikasikan sebagai mengancam jiwa, dan memperingatkan bahwa jika tidak segera dievakuasi dalam beberapa jam ke depan, nyawa mereka berada dalam risiko serius.

Selain itu, terdapat 1.971 kasus darurat lainnya yang harus segera dievakuasi dalam hitungan pekan, atau berpotensi memburuk menjadi kondisi kritis seiring penurunan kesehatan mereka. Di antara kasus-kasus tersebut, terdapat sekitar 4.000 anak-anak serta 4.000 pasien kanker yang membutuhkan penanganan segera.

Evakuasi medis dari Gaza selama ini menjadi tantangan berat bagi ribuan penduduk Palestina akibat blokade berkepanjangan yang diberlakukan Israel terhadap wilayah tersebut. Sejak dimulainya perang yang disebut sebagai genosida di Jalur Gaza, pembatasan tersebut semakin diperketat, terutama setelah pasukan Israel menguasai penyeberangan Rafah beserta wilayah sekitarnya.

Penyeberangan Rafah, yang terletak di perbatasan selatan Gaza dengan Mesir, merupakan satu-satunya jalur keluar-masuk bagi pejalan kaki dan barang yang tidak melalui wilayah Israel. Jalur ini menjadi akses vital bagi penduduk sipil Palestina dan distribusi bantuan, tetapi telah ditutup sejak pasukan Israel mengambil alih kendali pada Mei 2024.

Pembukaan kembali penyeberangan Rafah, yang menjadi bagian dari kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober, juga telah lama didesak oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan berbagai organisasi kemanusiaan.

Dampak Perang terhadap Iran

Pada awal Februari, penyeberangan tersebut sempat kembali beroperasi secara terbatas di kedua sisi untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun, setelah sebelumnya dihancurkan oleh pasukan Israel dan ditutup.

Dalam pengaturan baru, ditetapkan bahwa 50 penduduk Palestina diizinkan masuk ke Gaza dari Mesir setiap hari, sementara sekitar 150 warga lainnya diizinkan keluar dari wilayah tersebut setiap harinya. Namun, banyak pasien dan pendamping mereka ditolak untuk melakukan perjalanan keluar dari wilayah Gaza yang diblokade Israel.

Sepanjang Februari, hanya 490 pasien yang berhasil dievakuasi, angka yang oleh Wahidi disebut sebagai “sangat tidak memadai”.

“Kami membutuhkan evakuasi sebanyak 400 orang per hari, dan setidaknya 200 orang sebagai jumlah minimum, yang dapat menyelesaikan penanganan pasien dan korban luka dalam waktu enam bulan,” ujarnya.

Pembatasan terhadap evakuasi medis juga semakin diperketat dalam beberapa hari terakhir di tengah perang Israel-Amerika Serikat dengan Iran, dengan penutupan kembali penyeberangan pada 28 Februari.

Pekan lalu, operasional penyeberangan kembali dibuka, tetapi tetap di bawah pembatasan ketat. Sejak dibuka kembali pada 19 Maret, tidak lebih dari 24 pasien beserta pendampingnya yang berhasil dievakuasi.

Para pasien menghadapi berbagai kendala, termasuk prosedur perjalanan yang panjang dan melelahkan, keharusan memenuhi persyaratan dari pihak Israel, serta dampak konflik dengan Iran.

Wahidi mencatat bahwa lebih dari 1.400 pasien dari total 20.000 orang telah meninggal sejak 7 Mei 2024 sebagai akibat dari blokade yang diberlakukan Israel.

Sementara itu, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza menyebutkan sembilan orang telah meninggal dunia akibat serangan Israel sejak awal libur Idul Fitri, dengan 30 orang lainnya mengalami luka. Serangan terbaru ini terjadi di tengah laporan pelanggaran yang hampir terjadi setiap hari sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober.

Selama periode gencatan senjata tersebut, pasukan Israel dilaporkan telah membunuh lebih dari 687 orang dan melukai 1.845 lainnya. Sejak dimulainya genosida di Gaza, pasukan Israel disebut telah membunuh lebih dari 72.000 penduduk Palestina di Gaza, serta menghancurkan hampir 80 persen infrastruktur wilayah tersebut.

(T.FJ/S: MEE)

 

You might also like