Proyek “The Greater Israel”: Ambisi Teritorial Israel Kuasai Tanah Syam hingga Madinah

Konsep “Israel Raya” dipahami sebagai visi ekspansionis yang mengklaim wilayah Tepi Barat yang diduduki, Gaza, sebagian Lebanon, Suriah, Mesir, dan Yordania. (Foto: Abir Sultan/Pool/Reuters]

Dunia hari ini tidak lagi sekadar menyaksikan rentetan konflik di Timur Tengah sebagai dinamika geopolitik biasa. Jika kita menarik garis lurus dari pesisir Gaza yang hancur hingga pegunungan di Lebanon Selatan, sebuah pola besar mulai terbaca dengan jelas, yakni sebuah skenario yang melampaui narasi “pertahanan diri” yang selama ini didengungkan di panggung diplomasi Israel.

Kita tengah berdiri di ambang sejarah di mana garis perbatasan tanah Arab yang telah bertahan selama puluhan tahun sedang coba dihapus dan digambar ulang. Apa yang kita saksikan di Lebanon hari ini bukanlah konflik biasa, melainkan manifestasi nyata dari ambisi kuno yang kini bangkit kembali dengan dukungan militer penuh: Proyek The Greater Israel (Israel Raya).

Artikel ini akan membedah bagaimana visi teologis Israel-Yahudi abad ke-19 bertransformasi menjadi kebijakan militer abad ke-21 yang mengancam kedaulatan teritorial negara-negara di kawasan tersebut.

Akar Ideologi Greater Israel: Dari Buku Harian Herzl ke Lencana Seragam IDF

Fondasi dari ambisi The Greater Israel bukanlah hal baru. Akar ideologinya dapat dilacak lebih dari satu abad yang lalu melalui pemikiran Theodor Herzl, bapak Zionisme. Dalam buku hariannya yang ditulis pada akhir abad ke-19, Herzl secara eksplisit mendiskusikan tuntutan teritorial yang akan diajukan: “Wilayah: dari Sungai Mesir hingga Sungai Efrat…” (Herzl, 1960). Bagi Herzl, negara Yahudi bukanlah entitas statis dan final, melainkan organisme yang terus bergerak memperluas kekuasaannya hingga terwujudnya negara Yahudi bernama Israel Raya. Ketika ditanya mengenai luas tanah yang dibutuhkan, ia memberikan jawaban yang menjadi dasar ekspansionisme hingga hari ini: “Kita akan meminta apa yang kita butuhkan – semakin banyak imigran, semakin banyak tanah.”

Simbolisme ini secara muncul kembali ke ruang publik baru-baru ini. Kemarahan meledak di dunia Arab setelah beredarnya foto seorang tentara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) yang mengenakan lencana peta “Israel Raya” di seragamnya- sekalipun ini bukanlah hal baru. Peta pada lencana tersebut bukan sekadar gambar biasa, melainkan pernyataan politik yang menegaskan bahwa tujuan penjajahan israel mencakup wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat, mencakup sebagian Mesir, Lebanon, Suriah, Irak, Arab Saudi (termasuk Madinah), seluruh Yordania, dan wilayah Palestina. Munculnya simbol ini di tengah kecamuk perang menunjukkan bahwa visi Herzl bukan lagi sekadar catatan sejarah yang berdebu, melainkan identitas yang dihidupkan kembali di medan tempur.

(Foto: Nournews.ir)

Visi ini diperkuat oleh politisi modern seperti Avi Lipkin, yang pada Januari 2024 menyatakan bahwa perbatasan Israel pada akhirnya akan membentang dari Lebanon hingga Gurun Besar di Arab Saudi, bahkan mencakup Mekah dan Madinah untuk “disucikan”. Dukungan terhadap visi ekspansif ini kini mengalir dari berbagai spektrum politik Israel, mulai dari kelompok religius mesianik hingga tokoh sekuler seperti Yair Lapid, yang menyarankan agar perluasan wilayah disesuaikan dengan gambaran alkitabiah.

Lebanon Selatan dan “Model Gaza” Baru

Fenomena terbaru di Lebanon Selatan memberikan bukti material bahwa teori “Israel Raya” sedang diwujudkan melalui tindakan nyata. Berdasarkan laporan media Israel, Channel 14, militer Israel telah mulai membangun 18 lokasi militer baru jauh di dalam wilayah kedaulatan Lebanon. Langkah ini bukan sekadar operasi pengejaran milisi, melainkan reorganisasi teritorial secara masif untuk mewujudkan apa yang mereka sebut sebagai The Greater Israel. Diskusi di tingkat kabinet Israel telah mencapai keputusan bulat untuk mempertahankan kendali penuh atas wilayah Lebanon hingga Sungai Litani, bahkan melampauinya di beberapa area strategis.

Dalam menjalankan misi ini, militer Israel menggunakan “Model Gaza”. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan secara terbuka bahwa pola penghancuran total yang diterapkan di Rafah dan Beit Hanoun kini akan dilakukan di Lebanon Selatan. Strateginya tetap konsisten: hancurkan infrastruktur sipil, putus jalur pergerakan penduduk, dan kosongkan wilayahnya. Lebih dari satu juta warga Lebanon telah dipaksa mengungsi, meninggalkan desa-desa yang kemudian diratakan untuk membangun prasyarat fisik bagi pendudukan permanen.

Langkah ini mencerminkan konsep “Zionisme 2.0” yang bertujuan membangun peradaban baru berpusat di Israel dengan mengubah basis material dan ekonomi dunia melalui penguasaan lahan strategis. Dengan menetapkan garis pertahanan baru sejauh 8 kilometer ke dalam wilayah Lebanon, Israel sebenarnya sedang menggambar ulang peta kedaulatan tanpa memedulikan hukum internasional, menciptakan apa yang sering disebut sebagai “zona penyangga” sebagai diksi halus untuk praktik aneksasi yang terstruktur.

 

Asap mengepul setelah serangan Israel di Tyre, Lebanon, pada 24 Maret [Al Jazeera/Stringer/Reuters]

Rencana Pembubaran Negara Arab sebagai Strategi “Pecah Belah” Kawasan

Keberhasilan ekspansi ini sangat bergantung pada lemahnya negara-negara di sekitar Israel. Di sinilah Rencana Oded Yinon (1982) memainkan peran krusial. Dalam esainya, “Strategi untuk Israel di Tahun 1980-an”, Yinon merinci sebuah buku panduan untuk pembubaran negara-negara Arab. Baginya, setiap negara Arab adalah kandidat untuk dipecah berdasarkan garis etnis atau agama demi menjamin keamanan absolut Israel.

Yinon memandang Lebanon sebagai preseden atau contoh awal. Pembubaran total Lebanon menjadi provinsi-provinsi kecil dianggap sebagai kunci untuk memicu kehancuran serupa di Suriah dan Irak. Visi Yinon mencakup pembentukan negara-negara kecil yang saling bermusuhan, seperti negara Syiah Alawi di pantai Suriah dan negara Sunni di Aleppo, sehingga Israel dapat mendominasi kawasan tersebut dengan strategi divide et impera (pecah belah dan kuasai).

Strategi penaklukan ini tidak hanya menargetkan tanah, tetapi juga kekuatan militer negara tetangga. Serangan terhadap infrastruktur Suriah dan keterlibatan dalam ketegangan regional melawan Iran adalah bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan bahwa tidak ada kekuatan regional yang mampu menantang dominasi Israel. Hal ini sejalan dengan platform politik lama yang menolak keberadaan negara Palestina dan menolak kembali ke perbatasan tahun 1967, yang oleh Ralph Schoenmann disebut sebagai “Strategi Penaklukan” yang telah lama diamini oleh berbagai faksi politik di Israel.

Geopolitik Saul Cohen: Timur Tengah yang Dianggap Tanah Kosong

Secara akademis, pembenaran atas ekspansi ini ditemukan dalam teori geopolitik Saul B. Cohen. Dalam karyanya, Geopolitics (2015), Cohen memperkenalkan konsep “Shatterbelt” atau Sabuk Penghancur untuk mendeskripsikan Timur Tengah sebagai wilayah yang secara struktural terfragmentasi dan terus mengalami restrukturisasi radikal. Cohen membedakan wilayah berdasarkan “Wilayah Nasional Efektif “, daerah dengan aktivitas ekonomi dan kepadatan penduduk tinggi yang layak dikuasai.

Menariknya, dalam peta geopolitiknya, Cohen menandai seluruh wilayah Israel sebagai wilayah efektif, sementara mengabaikan sebagian besar wilayah Yordania, Mesir, dan Arab Saudi sebagai wilayah yang tidak memiliki “Wilayah Nasional Efektif”. Konsep ini secara halus melegitimasi klaim bahwa wilayah-wilayah di luar perbatasan Israel saat ini adalah tanah “kosong” atau “tidak produktif” yang dapat diambil alih. Konsep “pertumbuhan organik” yang ia usung memberikan dasar ilmiah bagi aspirasi Israel untuk terus berkembang layaknya organisme hidup yang membutuhkan ruang tambahan atau Lebensraum.

Teori ini menjadi sangat berbahaya ketika diterapkan dalam kebijakan luar negeri. Jika wilayah negara berdaulat dianggap sebagai “wilayah nasional tidak efektif” secara subjektif, maka integritas teritorial bangsa lain menjadi tidak lagi sakral. Inilah yang memicu kekhawatiran besar di negara-negara tetangga; Presiden Erdogan bahkan memperingatkan bahwa khayalan tentang “Tanah yang Dijanjikan” ini pada akhirnya akan mengincar wilayah Anatolia jika tidak dihentikan segera.

Implikasi Global: Perlawanan Diplomasi dan Risiko Perang Luas

Ambisi Israel Raya tidak berjalan tanpa perlawanan. Di panggung internasional, Spanyol muncul sebagai suara hati nurani Eropa. Perdana Menteri Pedro Sanchez secara tegas menyatakan bahwa Israel berupaya menimbulkan tingkat kerusakan yang sama di Lebanon seperti di Gaza. Ia memperingatkan bahwa perang gabungan AS-Israel terhadap Iran saat ini menghadirkan skenario yang “jauh lebih buruk” daripada invasi Irak 2003, dengan potensi dampak yang merusak stabilitas ekonomi dan keamanan dunia secara sistematis.

Spanyol telah mengambil langkah radikal dengan menerapkan embargo senjata total dan menarik duta besarnya. Kecaman serupa datang dari Kanada dan Prancis yang menekankan bahwa integritas wilayah Lebanon tidak boleh dilanggar. Namun, tantangan terbesar bagi proyek Israel Raya datang dari dinamika regional yang mulai satu suara. Kekuatan regional seperti Iran dan sekutunya, serta bangkitnya kembali Irak sebagai kekuatan ekonomi, menciptakan kapasitas tanding yang dapat menghambat perluasan perbatasan Israel dengan kekerasan.

Di sisi lain, rencana Israel untuk menjadi pusat perdagangan yang menghubungkan Asia dan Eropa menghadapi tantangan besar dari inisiatif global lain seperti Belt and Road Initiative (BRI) Tiongkok dan peran Turki sebagai pusat energi. Regionalisme dan multipolaritas yang berkembang saat ini memaksa Israel untuk memilih: terus mengejar visi ekspansionis yang isolasionis, atau beradaptasi dengan tatanan ekonomi baru yang menuntut penghormatan terhadap kedaulatan negara tetangga.

Masa Depan Peta Timur Tengah

Kita kini berada di persimpangan jalan sejarah yang sangat krusial. Proyek “The Greater Israel” bukan lagi sekadar impian teologis dalam buku harian Herzl atau esai strategis Oded Yinon, melainkan sebuah realitas militer yang sedang berlangsung di Lebanon Selatan dan Tepi Barat. Penggunaan “Model Gaza” di wilayah utara atau Lebanon Selatan adalah sinyal jelas bahwa garis-garis perbatasan impian Israel yang ada di lencana tentara IDF sedang digambar ulang dengan kekuatan senjata.

Jika ambisi ini dibiarkan berjalan tanpa hambatan, Sungai Litani hanyalah sebuah titik henti sementara dalam perjalanan menuju visi yang lebih luas. Peta Asia Barat sedang mengalami transformasi paksa yang mengabaikan Piagam PBB dan konsensus internasional tentang perdamaian. Dunia kini harus memilih: tetap diam menyaksikan normalisasi aneksasi ini, lalu membiarkan Tanah Syam hingga Madinah dikuasai Israel, atau mengambil langkah nyata sebelum visi “Israel Raya” ini mengubah wajah dunia secara permanen dan memicu konflik yang tak akan pernah berakhir. Lebih dari itu, bila visi Israel Raya benar-benar dibiarkan berjalan tanpa perlawanan, terkhusus dari kaum muslimin, sudah jelas tak hanya Masjid al-Aqsa di Baitul Maqdis yang akan dikuasai, melainkan juga Tanah Haramain Mekah dan Madinah, akan jatuh kepada entitas penjajah Israel.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

Shahak, I. (2019, September 13). “Greater Israel”: The Zionist Plan for the Middle East: The Infamous “Oded Yinon Plan” (M. Chossudovsky, Ed. & Intro.). Global Research. (Karya asli diterbitkan 2013 oleh Association of Arab-American University Graduates, Inc.). http://www.globalresearch.ca/greater-israel-the-zionist-plan-for-the-middle-east/5324815

Middle East Political and Economic Institute, “Greater Israel: an Ongoing Expansion Plan for the Middle East and North Africa”, MEPEI, July 6, 2024. https://mepei.com/greater-israel-an-ongoing-expansion-plan-for-the-middle-east-and-north-africa/

Lauren Frayer & A Martínez, “Israel says plan to expand into Lebanon will provide ‘defensive buffer’”, NPR, March 25, 2026. https://www.npr.org/2026/03/25/nx-s1-5759313/israel-says-plan-to-expand-into-lebanon-will-provide-defensive-buffer

Zein Khalil, “Israel plans to expand military presence up to 8 km inside Lebanon: Report”, AA, March 25, 2026. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-plans-to-expand-military-presence-up-to-8-km-inside-lebanon-report/3879405

Al Jazeera, “Spain’s PM says Israel to inflict on Lebanon same destruction as in Gaza”, Al Jazeera, March 25, 2026. https://www.aljazeera.com/news/2026/3/25/spains-pm-says-israel-to-inflict-on-lebanon-same-destruction-as-in-gaza

J.E Rosenberg, “As Iran war rages, Netanyahu builds ‘Greater Israel’ from Palestinian and Lebanese land”, People ‘s World, March 24, 2026. https://www.peoplesworld.org/article/as-iran-war-rages-netanyahu-builds-greater-israel-from-palestinian-and-lebanese-land/

You might also like