Bayangkan sebuah tempat di mana tanahnya menyimpan jejak kaki para nabi, di mana udaranya membawa aroma keberkahan ribuan tahun, dan di mana setiap jengkal batunya adalah saksi bisu dari dialog antara bumi dan langit. Itulah Al-Quds, atau Yerusalem, kota yang tak pernah tidur dalam dekapan sejarah. Di jantung kota ini, berdirilah Masjid Al-Aqsa, sebuah permata arsitektur dan spiritual yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Namun, hari ini, keindahan itu tertutup mendung kelabu. Suara azan sering kali teredam oleh desing peluru, dan langkah para jemaah terhenti oleh barikade besi.
Mengapa tempat sekecil ini mampu menggetarkan dunia? Mengapa setiap peristiwa di sini menjadi barometer kedamaian global? Mari kita melangkah lebih jauh, menembus lorong waktu sejarah, membedah realitas pahit di lapangan, hingga mengintip nubuat masa depan yang telah dikabarkan ribuan tahun lalu. Ini bukan sekadar kisah tentang bangunan tua; ini adalah narasi tentang harga diri, iman, dan perjuangan panjang manusia mencari keadilan di bawah bayang-bayang penindasan.
Masjid Al-Aqsa bukan sekadar situs arkeologi; ia adalah bagian tak terpisahkan dari identitas teologis tiga agama Samawi. Bagi umat Islam, Al-Aqsa adalah tanah suci yang diberkahi sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surah Al-Maidah ayat 21. Allah memerintahkan kaum Nabi Musa untuk memasuki tanah suci ini sebagai bentuk ketaatan. Pentingnya Al-Aqsa semakin mengakar melalui peristiwa Isra Mi’raj, di mana Rasulullah SAW menempuh perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Al-Aqsa sebelum naik ke Sidratul Muntaha. Posisi ini menempatkan Al-Aqsa sebagai masjid tersuci ketiga, sebuah simbol perlindungan warisan agama yang tak ternilai.
Namun, sejarah Al-Aqsa juga merupakan catatan panjang tentang perlawanan terhadap penindasan. Sejak berabad-abad lalu, wilayah ini telah menjadi medan pertempuran melawan berbagai gelombang penjajahan. Memasuki era modern, luka itu semakin menganga. Sejak tahun 1967, Israel mulai memegang kendali penuh atas wilayah Yerusalem Timur, termasuk kompleks Al-Aqsa. Sejak saat itu, upaya untuk mengubah status quo dilakukan secara sistematis. Kaum Muslimin sering kali diganggu, kedaulatan warga Palestina dikebiri, dan ancaman terhadap kehidupan sehari-hari menjadi makanan rutin bagi penduduk setempat.
Ulama besar seperti Sayyid Qutb menekankan bahwa menjaga Al-Aqsa adalah soal kehormatan umat. Namun, realitanya Israel terus menggencarkan rencana pengubahan struktur bangunan di sekitar kompleks masjid. Pembangunan permukiman ilegal Yahudi di atas tanah-tanah warga asli telah menghancurkan ketenteraman sosial. Praktik pengusiran paksa penduduk kampung dari rumah mereka sendiri menjadi bukti nyata adanya diskriminasi sistemik. Di satu sisi, umat Islam dibatasi ruang geraknya untuk beribadah di dalam masjid, sementara di sisi lain, kelompok Zionis diberikan kebebasan luar biasa untuk memasuki kawasan suci tersebut. Implikasi politik dari kendali ini sangat kompleks, mencerminkan ketegangan geopolitik Timur Tengah yang melibatkan dimensi kekuasaan, identitas budaya, dan kerinduan religius yang saling berbenturan.
Maju ke masa kini, pada tahun 2026, ketegangan mencapai titik didih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi momentum kedamaian justru berubah menjadi periode yang penuh sesak dengan kecemasan. Sejak pecahnya perang besar yang melibatkan kekuatan regional pada akhir Februari 2026, otoritas Israel menerapkan kebijakan tangan besi dengan alasan “keamanan nasional”. Akses menuju Kota Tua Yerusalem ditutup total bagi siapa pun yang bukan penduduk asli atau pemilik toko di sana.

Puncaknya terjadi pada 20 Maret 2026, saat umat Islam merayakan Idul Fitri. Masjid Al-Aqsa yang biasanya menampung ratusan ribu jemaah saat salat Id, tiba-tiba menjadi sunyi mencekam. Kota Tua berubah menjadi “kota hantu”. Hanya apotek dan toko makanan pokok yang diizinkan beroperasi, sementara para pedagang Palestina tercekik oleh kebangkrutan ekonomi yang parah. Bagi warga Yerusalem, merayakan Idulfitri tanpa bisa bersujud di Al-Aqsa adalah sebuah “patah hati” kolektif.
Namun, semangat jemaah tidak padam. Ribuan orang datang membawa sajadah di bawah lengan mereka, berkumpul di depan gerbang-gerbang Kota Tua yang tertutup rapat. Mereka meneriakkan takbir, mencoba menerobos blokade untuk sekadar mendekat ke tembok suci. Balasan yang mereka terima adalah kekerasan; polisi menggunakan pentungan, gas air mata, dan granat suara untuk membubarkan massa. Dalam sebuah momen yang mengharukan, polisi sempat mengalah beberapa menit, membiarkan jemaah mengambil posisi di jalanan dekat Gerbang Herodes. Seorang imam berdiri di atas bangku plastik, menyampaikan khutbah singkat yang memicu air mata: “Ya Tuhan, berikanlah kemenangan kepada orang-orang yang tertindas.”


Ironisnya, ketakutan tidak hanya datang dari darat. Hanya beberapa jam setelah salat Id berakhir, langit Yerusalem dihiasi oleh kilatan cahaya rudal balistik. Pecahan rudal yang berhasil dicegat jatuh hanya beberapa ratus meter dari kompleks Al-Aqsa, merusak tempat parkir di Kawasan Yahudi. Insiden ini menegaskan bahwa Al-Aqsa kini berada di tengah pusaran perang modern yang sangat mengancam. Penutupan masjid selama 10 hari terakhir Ramadhan dan Idulfitri ini tercatat sebagai yang terlama dan paling menyakitkan dalam sejarah pendudukan sejak 1967, sebuah tanda bahwa hukum internasional dan kebebasan beragama sedang berada di titik terendah.
Di tengah tragedi ini, umat Islam melihat peristiwa di Al-Aqsa melalui kacamata iman yang lebih dalam, yakni eskatologi atau ilmu tentang akhir zaman. Keberkahan Baitul Maqdis bukan hanya soal sejarah masa lalu, tapi juga tentang janji masa depan. Wilayah Syam (yang mencakup Palestina, Suriah, Yordania, dan Lebanon) diyakini sebagai panggung utama peristiwa-peristiwa besar menjelang kiamat. Hadis-hadis sahih menyebutkan bahwa Baitul Maqdis akan menjadi markas terakhir bagi perjuangan antara kebenaran dan kebatilan.
Salah satu momen krusial yang dinanti adalah turunnya Nabi Isa AS. Berdasarkan riwayat Muslim, Nabi Isa akan turun di menara putih sebelah timur Damaskus, kemudian berjalan menuju Baitul Maqdis untuk bergabung dengan Imam Mahdi. Di sana, di gerbang Bab Ludd, Nabi Isa akan mengakhiri fitnah terbesar umat manusia dengan membunuh Dajal. Oleh karena itu, bagi umat Islam, upaya mempertahankan Al-Aqsa bukan sekadar masalah sengketa tanah, melainkan bentuk kesetiaan pada akidah dan persiapan menghadapi fitnah akhir zaman.
Rasulullah SAW bersabda bahwa akan selalu ada segolongan umatnya yang teguh membela kebenaran di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Mereka tidak akan goyah meski disakiti atau ditinggalkan. Hal ini menjadi motivasi keagamaan bagi warga Palestina untuk tetap bertahan di tanah mereka (ribat). Namun, tanggung jawab ini tidak hanya dibebankan pada rakyat Palestina semata. Ulama bersepakat bahwa tanah ini adalah amanah seluruh umat Islam. Perjuangan membebaskan Al-Aqsa harus dilakukan secara holistik: melalui kekuatan diplomatik, bantuan material, hingga gerakan sosial seperti boikot produk yang mendukung penjajahan (BDS).
Di era globalisasi ini, persatuan umat adalah kunci. Mengambil inspirasi dari Piagam Madinah, umat Islam harus membuang ego nasionalisme sempit dan fanatisme mazhab. Kesadaran sejarah harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa Al-Aqsa adalah jantung yang jika ia sakit, maka seluruh tubuh umat akan merasakannya. Solidaritas ini bukan hanya soal retorika di media sosial, tapi aksi nyata untuk menentang “genosida” yang sedang terjadi.
Al-Aqsa adalah cermin bagi dunia. Jika ia tertutup dan berselimut kekerasan, itu adalah tanda bahwa keadilan global sedang sakit. Namun, selama masih ada kaum muslimin yang berani membentangkan sajadahnya di depan barikade senjata, selama itu pula harapan akan kemerdekaan tetap menyala. Perjuangan ini adalah lari maraton, bukan sprint; ia membutuhkan napas iman yang panjang dan strategi yang cerdas.
Sebagai langkah awal, mari kita memperdalam literasi kita mengenai sejarah suci ini. Dukungan kita, sekecil apa pun, baik melalui doa yang tulus, bantuan kemanusiaan yang konsisten, maupun kesadaran untuk tidak mendukung ekonomi penjajah, adalah kepingan puzzle yang akan menyusun kemenangan di masa depan.
Fuad Nur Zaman
Sumber:
Kamaruddin, K., Ismail, S., & Abu Bakar, M. (2025). Pengaruh keberkatan Al-Aqsa terhadap perpaduan umat Islam di akhir zaman [The impact of the blessing of Al-Aqsa on the unity the Muslim Ummah in the end times]. Journal of Islamic, Social, Economics and Development (JISED), 10(77), 224–233. https://doi.org/10.55573/JISED.107718
Aruk Hanedar, “Israel bans Eid prayers at Al-Aqsa Mosque, citing security restrictions”, Anadolu Agency, March 20, 2026. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/israel-bans-eid-prayers-at-al-aqsa-mosque-citing-security-restrictions/3872376
Charlie Summers, “Cops forcefully clear Eid prayers outside Jerusalem’s Old City amid Iran war closure”, The Times of Israel, March 20, 2026. https://www.timesofisrael.com/cops-forcefully-clear-eid-prayers-outside-jerusalems-old-city-amid-iran-war-closure/