Gaza dan Ancaman Kelaparan Baru, di Tengah Eskalasi Regional

(Foto: Abdelhakim Abu Riash/ Al Jazeera)

Matahari pagi di Jalur Gaza, kini tidak lagi membawa ketenangan yang diharapkan selama bulan suci Ramadan. Seiring dengan pecahnya konfrontasi militer terbuka antara Israel dan Iran, wilayah kantong yang masih berjuang pulih dari puing-puing genosida ini mendadak terlempar ke dalam krisis baru. Bukan suara ledakan di langit Gaza yang menjadi ancaman utama saat ini, melainkan sunyinya jalur logistik yang mendadak terkunci rapat.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah telah menciptakan efek domino yang instan di pasar-pasar lokal Gaza. Hanya dalam hitungan jam setelah berita serangan tersebar, stabilitas sosial yang rapuh mulai goyah. Masyarakat, yang didorong oleh trauma kolektif atas blokade panjang, berbondong-bondong menguras rak-rak toko kelontong. Gula, tepung, minyak goreng, dan ragi yang merupakan komoditas yang menentukan kelangsungan hidup harian, menghilang dari peredaran. Hal ini memicu lonjakan harga yang tak terkendali di tengah bulan puasa.

Trauma Kelaparan dan Naluri Bertahan Hidup Rakyat

Bagi penduduk Gaza, penutupan penyeberangan perbatasan oleh COGAT (badan militer Israel yang mengelola urusan sipil) bukan sekadar prosedur keamanan standar. Ini adalah pengulangan sejarah yang kelam. Pengalaman kelaparan ekstrem pada fase genosida sebelumnya telah membentuk psikologi masyarakat yang reaktif terhadap ketidakpastian keamanan.

Di pasar Deir el-Balah dan Nuseirat, suasana berubah menjadi medan perburuan stok makanan. Para pedagang melaporkan bahwa meskipun konflik utama terjadi ribuan kilometer di utara, dampaknya terasa nyata di setiap transaksi pasar. “Ketakutan masyarakat sepenuhnya beralasan,” ujar Omar Al-Ghazali, seorang penjual lokal. Menurutnya, masyarakat kini bergerak berdasarkan naluri bertahan hidup untuk mengamankan kebutuhan pokok sebelum harga melambung ke level “harga emas”, seperti yang terjadi setahun lalu ketika sekarung tepung menyentuh angka 1.000 shekel (sekitar Rp5 juta).

Hani Abu Issa pergi ke pasar untuk menimbun beberapa barang setelah mendengar berita perang Iran (Foto:Abdelhakim Abu Riash/Al Jazeera)

Krisis Kemanusiaan di Tengah Isolasi

Pengumuman Israel untuk menutup seluruh pintu penyeberangan menuju Gaza dan Tepi Barat “sampai pemberitahuan lebih lanjut” telah menempatkan jutaan orang dalam posisi rentan. Penutupan ini terjadi di saat yang sangat kritis:

  • Ramadan yang Terganggu: Bulan yang seharusnya diisi dengan ibadah dan kebersamaan keluarga kini dipenuhi kecemasan akan ketersediaan hidangan sahur dan buka puasa.
  • Kelumpuhan Ekonomi: Ali al-Hayek dari Asosiasi Pengusaha Palestina mencatat bahwa ekonomi Gaza telah menyusut lebih dari 85%. Dengan pengangguran mencapai 80%, kemampuan warga untuk membeli bahan pangan yang harganya terus meroket menjadi hampir nol.
  • Lumpuhnya Bantuan: Penutupan jalur logistik menghentikan aliran bantuan internasional yang menjadi napas bagi ribuan pengungsi di tenda-tenda darurat.

Kondisi ini diperparah oleh fakta bahwa banyak keluarga pengungsi tidak memiliki kemampuan finansial maupun tempat penyimpanan yang memadai. Bagi mereka yang tinggal di tenda plastik, “menimbun barang” adalah konsep yang mustahil. Mereka terpaksa hidup dari hari ke hari, di bawah bayang-bayang ancaman kekurangan gizi akut yang kembali mengintai anak-anak mereka.

Kontradiksi Klaim dan Realitas Logistik

Terdapat jurang pemisah yang lebar antara klaim otoritas dan peringatan dari lembaga kemanusiaan. COGAT menyatakan bahwa persediaan pangan di Gaza masih mencukupi untuk saat ini. Namun, lembaga internasional seperti World Central Kitchen (WCK) memberikan peringatan darurat: stok makanan untuk penyaluran bantuan satu juta porsi per hari diprediksi akan habis dalam hitungan hari jika perbatasan tetap terkunci.

Efek Penutupan Perbatasan, World Central Kitchen kesulitan dalam menyediakan Makanan di Gaza (Foto: World Central Kitchen)

Program Pangan Dunia (WFP) juga menyoroti kerentanan ini dalam analisis ketahanan pangan terbaru mereka di awal 2026. Meskipun terdapat sedikit perbaikan nutrisi dibandingkan tahun sebelumnya, fakta bahwa satu dari lima rumah tangga masih hanya mampu mengonsumsi satu kali makan sehari menunjukkan betapa tipisnya batas antara pemulihan dan bencana kelaparan.

Perundingan dan “Gencatan Senjata” Tidak Menghentikan Krisis

Ironisnya, krisis ini terjadi hanya beberapa minggu setelah upaya diplomatik internasional, termasuk janji rekonstruksi dari Amerika Serikat yang mulai memberikan sedikit optimisme di Gaza. Gencatan senjata yang awalnya membawa harapan akan pemulihan kini tampak rapuh, tergeser oleh prioritas militer Israel yang kini terfokus pada konfrontasi dengan Iran.

Di tengah ketegangan ini, warga merasa menjadi sandera dalam konflik yang tidak mereka buat. Mereka hanya menginginkan kepastian bahwa penutupan perbatasan tidak akan berlangsung lama dan bahwa kebutuhan dasar manusia tidak akan dijadikan alat tawar politik.

Saat perhatian dunia teralihkan oleh serangan udara dan manuver jet tempur di langit regional, Gaza kembali berada dalam sunyi yang mencekam. Bukan suara bom yang paling ditakuti saat ini, melainkan heningnya truk-truk bantuan yang tertahan di gerbang perbatasan. Tanpa intervensi internasional yang segera untuk memastikan aliran barang tetap terbuka, Ramadan tahun ini berisiko menjadi catatan hitam lainnya dalam krisis kemanusiaan yang tampaknya tak kunjung usai.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

Maram Humaid, “‘Not again’: Gaza rushes to stockpile amid Iran war, crossing closures”, Al Jazeera, March 02, 2026. https://www.aljazeera.com/features/2026/3/2/not-again-gaza-rushes-to-stockpile-amid-iran-war-crossing-closures

Wafaa ShurafaToqa Ezidin and Cara Anna, “Gaza’s ceasefire had some momentum. Now, some fear a new war will distract the world”, AP News, March 02, 2026. https://apnews.com/article/gaza-iran-palestinians-israel-crossings-b6036878d5124f14b5a3202986f95e3e

World Central Kitchen, “MEDIA ALERT: Border Closure Forces World Central Kitchen to Pause Gaza Meal Operations”, WCK, March 01, 2026. https://wck.org/news/media-alert-border-closure-forces-world-central-kitchen-to-pause-gaza-meal-operations/

 

You might also like