Teheran, NPC – Sedikitnya puluhan orang, mayoritas siswi sekolah dasar, dilaporkan gugur pasca serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel menghantam sebuah sekolah putri di Kota Minab, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, Sabtu pagi (28/02/2206).
Laporan awal media Iran menyebut sekitar 40 orang gugur dan 48 lainnya terluka. Namun sumber dalam negeri Iran menaikkan jumlah korban menjadi lebih dari 50 korban jiwa, dengan puluhan korban luka masih dirawat.
Lembaga Penyiaran Radio dan Televisi Republik Islam Iran, IRIB, mengutip pejabat provinsi yang menyatakan bangunan sekolah terkena serangan langsung dalam rangkaian serangan udara gabungan AS dan Israel. Otoritas setempat belum merinci apakah terdapat target militer di sekitar lokasi, sementara rekaman awal dari lapangan menunjukkan kerusakan berat pada fasilitas pendidikan tersebut.
Klaim “Serangan Preventif”
Operasi militer ini diumumkan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui pernyataan video terpisah. Keduanya mengklaim serangan dimaksudkan untuk menghilangkan “ancaman” dari pemerintah Iran, narasi yang segera menuai kontroversi, terutama setelah laporan jatuhnya korban anak-anak.
Di Teheran, pemerintah Iran mengecam keras operasi tersebut sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional. Beberapa ledakan dilaporkan terdengar di ibu kota, disertai kepulan asap dari sejumlah titik yang menjadi sasaran.
Sebagai respons darurat, Organisasi Penerbangan Sipil Iran menutup penuh wilayah udara nasional selama beberapa jam. Sementara itu, Israel memberlakukan status darurat nasional; wilayah udara ditutup, kegiatan sekolah dihentikan, dan pembatasan kerumunan diberlakukan sebagai antisipasi serangan balasan.
Iran Bersumpah Membalas
Media Iran melaporkan bahwa Teheran telah melancarkan serangan balasan, meski dampak operasionalnya belum dapat diverifikasi secara independen. Situasi keamanan kawasan pun bergerak ke fase yang semakin panas, dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.
AS dan Israel melancarkan agresi militer saat jalur diplomasi masih terbuka. Oman diketahui sedang memfasilitasi perundingan antara Washington dan Teheran, dengan putaran terbaru baru berlangsung di Jenewa pada Kamis.
Dengan meningkatnya korban sipil, termasuk anak-anak, serta dimulainya aksi balasan dari Iran, dinamika konflik kini menunjukkan pola eskalasi timbal balik yang berbahaya. Jika siklus serangan dan respons terus berlanjut maka konfrontasi ini berpotensi melampaui skala terbatas dan berkembang menjadi krisis regional yang lebih luas.
(T.RS/S:MEMO)