Tragedi kemanusiaan di Gaza pasca-Oktober 2023 telah mencapai titik nadir yang melampaui statistik kerusakan infrastruktur. Di balik reruntuhan bangunan, terdapat serangan sistematis terhadap fondasi paling mendasar dari keberlangsungan sebuah bangsa, yakni kesehatan reproduksi perempuan dan kelangsungan hidup bayi yang baru lahir.
Berdasarkan tinjauan terbaru hingga Oktober 2025, laporan kolaboratif dari Physicians for Human Rights (PHR) dan Global Human Rights Clinic (GHRC) mengungkap kenyataan pahit, bahwa ibu hamil dan bayi yang merupakan dua kelompok yang seharusnya mendapat perlindungan khusus dalam konflik bersenjata, kini menjadi korban utama dari kekerasan reproduksi.
Laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen PBB (UN COI) serta data lapangan hingga Juli 2025 menunjukkan bahwa serangan terhadap fasilitas kesehatan bukan sekadar efek samping perang, melainkan tindakan yang bersifat sengaja dan sistematis.
Akses terhadap bantuan kemanusiaan mengalami pasang surut yang mencekik. Dari blokade total pada awal 2025 hingga pengenalan Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang justru dikritik dunia internasional sebagai instrumen “kelangkaan yang direkayasa,” warga Gaza dipaksa hidup dalam kondisi malnutrisi ekstrem. Puncaknya, pada Agustus 2025, status kelaparan resmi ditetapkan di Gaza dengan bukti yang tak terbantahkan.
Dampaknya terhadap demografi sangat mengerikan. Kementerian Kesehatan Palestina mencatat penurunan angka kelahiran hingga 41 persen dibandingkan periode sebelum konflik. Lebih dari 2.600 wanita mengalami keguguran, dan ratusan lainnya meninggal karena komplikasi kehamilan yang sebenarnya bisa dicegah.
Salah satu temuan paling memilukan dalam laporan ini adalah bagaimana kelaparan digunakan sebagai alat perusak biologis. Malnutrisi akut bukan hanya menyebabkan rasa lapar, tetapi secara aktif menghentikan fungsi reproduksi wanita.
Banyak penyedia layanan kesehatan melaporkan fenomena di mana perempuan usia subur berhenti mengalami menstruasi (amenore) akibat kekurangan gizi parah. Bagi mereka yang berhasil hamil, tubuh mereka tidak mampu memberikan asupan yang cukup bagi janin.
“Kami melihat wanita yang tidak bisa menghasilkan ASI sama sekali karena kekurangan kalori yang ekstrem, meskipun pada kehamilan sebelumnya mereka normal,” ungkap seorang perawat di lapangan.
Kondisi ini semakin parah karena adanya pembatasan impor susu formula bayi oleh otoritas Israel. Di saat para ibu tidak mampu menyusui karena tubuh mereka “mati rasa” akibat lapar, alternatif nutrisi untuk bayi pun terputus. Akibatnya, ribuan bayi lahir dengan berat badan rendah dan menderita kekurangan gizi akut sejak hari pertama mereka menghirup udara dunia.
Serangan terhadap fasilitas medis telah melumpuhkan kemampuan dokter untuk menyelamatkan nyawa. Hingga Maret 2025, hanya segelintir rumah sakit yang beroperasi untuk layanan ibu dan anak.
Para dokter menggambarkan kondisi unit perawatan intensif neonatal (NICU) yang hancur berserakan. Inkubator yang seharusnya menjadi pelindung bayi prematur hancur menjadi puing. Tanpa anestesi, tanpa peralatan steril, dan tanpa ruang yang memadai, prosedur dasar seperti operasi caesar berubah menjadi pertaruhan nyawa yang mengerikan.
Kekurangan ruang memaksa rumah sakit memulangkan ibu yang baru saja melahirkan dalam hitungan jam, meskipun mereka berisiko tinggi mengalami infeksi pasca-operasi. “Suasananya beracun, bau asap menyengat, dan botol obat hancur di bawah sepatu kami,” kenang seorang petugas kesehatan saat mengunjungi Rumah Sakit Kamal Adwan.


Di balik dalih keamanan militer, terdapat narasi yang jauh lebih gelap: upaya sistematis untuk melemahkan demografi Palestina. Dengan menyasar kapasitas reproduksi perempuan dan kelangsungan hidup bayi, terdapat indikasi kuat bahwa serangan ini bertujuan untuk memutus rantai keturunan masyarakat Palestina. Memastikan bahwa generasi mendatang lahir dalam kondisi cacat, lemah secara fisik, atau bahkan tidak lahir sama sekali, merupakan strategi jangka panjang untuk memuluskan langkah penguasaan wilayah secara absolut.
Pemusnahan generasi ini bekerja melalui pelemahan biologis massal. Ketika sebuah bangsa kehilangan kemampuannya untuk bereproduksi secara sehat, daya tahan sosial dan politik bangsa tersebut akan runtuh dengan sendirinya. Strategi ini menciptakan kondisi di mana Palestina tidak hanya kehilangan wilayahnya hari ini, tetapi juga kehilangan manusia-manusia yang akan mempertahankannya di masa depan. Serangan terhadap ibu dan anak adalah serangan terhadap eksistensi bangsa itu sendiri—sebuah taktik kolonial kuno yang kini dijalankan dengan kecanggihan militer modern untuk memastikan bahwa “masalah Palestina” selesai melalui kepunahan perlahan.
Laporan ini menegaskan bahwa apa yang terjadi di Gaza memenuhi kriteria kekerasan reproduksi. Ini adalah tindakan atau pembiaran yang mengganggu otonomi dan hak reproduksi seseorang. Dalam konteks hukum internasional, hal ini masuk ke dalam klasifikasi kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, atau bahkan tindakan genosida.
Bukti-bukti menunjukkan bahwa Israel mengabaikan kewajibannya sebagai kekuatan pendudukan untuk menjamin pasokan medis dan makanan. Alibi militerisasi rumah sakit oleh kelompok bersenjata tidak didukung oleh kesaksian para dokter internasional di lapangan. Sebaliknya, kehancuran sistematis sistem kesehatan ini memberikan dampak jangka panjang, yang mungkin bersifat genetik dan berkepanjangan hingga generasi Palestina mendatang.
Menghadapi krisis ini, akuntabilitas bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan. Harus ada investigasi independen yang menyeluruh untuk menyeret para pelaku ke meja hijau dan memberikan ganti rugi kepada para penyintas.
Namun, di atas segalanya, tindakan darurat medis perlu segera dilakukan untuk menghentikan kematian yang sia-sia:
Kehancuran di Gaza telah meninggalkan luka dalam yang merusak kapasitas reproduksi sebuah bangsa. Tanpa intervensi internasional yang tegas dan pemulihan akses kesehatan yang menyeluruh, penderitaan ini akan terus berlanjut sebagai noda hitam dalam sejarah kemanusiaan modern.
Kehancuran sistem reproduksi di Gaza adalah alarm bagi nurani dunia. Apa yang terjadi bukan sekadar tragedi perang biasa, melainkan upaya sistematis untuk menghapus masa depan sebuah bangsa. Yakni, dengan cara merusak rahim ibu dan mematikan nafas bayi. Menutup mata terhadap kekerasan reproduksi ini berarti membiarkan sebuah preseden berbahaya di mana biologi manusia menjadi senjata perang untuk kepentingan ekspansi wilayah.
Tanpa adanya akuntabilitas internasional yang tegas dan pemulihan kesehatan menyeluruh, luka di Gaza akan menjadi noda abadi dalam sejarah kemanusiaan. Dunia memiliki hutang moral untuk memastikan bahwa rantai kehidupan di Palestina tidak terputus, agar hak setiap perempuan untuk melahirkan dengan aman dan hak setiap bayi untuk tumbuh sehat tetap menjadi martabat yang tak boleh terampas.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Physicians for Human Rights and Global Human Rights Clinic, “Destroying Hope for the Future: Reproductive Violence in Gaza”. Physicians for Human Rights, January 14, 2026. https://phr.org/our-work/resources/destroying-hope-for-the-future-reproductive-violence-in-gaza/
Angelica Wahono, “Reproductive Violence in Gaza: A Gendered Atrocity Under International Law”. Women’s Initiatives for Gender Justice, February 10, 2025. https://4genderjustice.org/reproductive-violence-in-gaza-a-gendered-atrocity-under-international-law/
Lorenzo Tondo, “Gaza war leads to 41% fall in births prompting allegations of reproductive violence”. The Guardian, January, 14 2026. https://www.theguardian.com/world/2026/jan/14/gaza-war-fall-in-births-reproductive-violence
Lorenzo Tondo, “Newborn baby becomes eighth to die of hypothermia in Gaza this winter”. The Guardian, January 17, 2026. https://www.theguardian.com/world/2026/jan/17/child-mortality-crisis-continues-in-gaza-with-more-than-100-killed-since-ceasefire
Marie Jo Sader, “Two reports accuse Israel of deliberately destroying Gaza’s reproductive health system”. Le Monde Fr, January 22, 2026. https://www.lemonde.fr/en/international/article/2026/01/22/two-reports-accuse-israel-of-deliberately-destroying-gaza-s-reproductive-health-system_6749693_4.html
Palestinian Feminist Collective, “The Palestinian Feminist Collective Condemns Reproductive Genocide in Gaza”. PFC. https://palestinianfeministcollective.org/the-pfc-condemns-reproductive-genocide-in-gaza/