Gaza, NPC – Sedikitnya 21 penduduk sipil Palestina, termasuk sejumlah anak-anak, meninggal dunia di Gaza pada Rabu (04/02/2026) akibat serangkaian serangan brutal Israel yang dilancarkan sebagai respons atas luka yang dialami seorang perwira cadangan.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza bahwa sebanyak 38 orang lainnya mengalami luka-luka dalam serangan tersebut. Salah satu serangan udara menghantam tenda-tenda pengungsian di Al-Mawasi, Gaza selatan. Serangan lain menyasar kawasan Tuffah dan Zaytoun di Kota Gaza.
Israel juga menghentikan perjalanan darurat pasien medis Palestina melalui Perlintasan Rafah.
“Mereka menghubungi para pasien dan mengatakan bahwa hari ini tidak ada perjalanan sama sekali, perlintasan ditutup,” ujar salah seorang pasien kepada Reuters.
Seorang juru bicara Bulan Sabit Merah mengatakan kepada kantor berita itu bahwa otoritas setempat mendatangi sebuah rumah sakit di Khan Yunis dan diberi tahu bahwa Israel menunda evakuasi medis. Para pasien saat itu menunggu di dalam ambulans.
Pemerintah Israel di Tel Aviv mengklaim perlintasan tetap dibuka, akan tetapi menyatakan tidak menerima rincian koordinasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Serangan-serangan tersebut dan pemblokiran perjalanan pasien terjadi setelah militer Israel mengumumkan bahwa seorang perwira cadangan terluka parah akibat tembakan kelompok perlawanan.
Penjajah Israel mengklaim bahwa pasukannya diserang oleh sejumlah pejuang di dekat “Garis Kuning”, yakni perimeter tempat Israel menarik pasukannya pada awal apa yang disebut sebagai perjanjian gencatan senjata. Sejak itu, Israel dilaporkan mendorong garis tersebut lebih jauh dan merebut lebih banyak wilayah, yang dinilai melanggar kesepakatan gencatan bersenjata.
Israel secara sengaja disebut melakukan serangan harian di Gaza yang telah membunuh sedikitnya 556 penduduk sipil Palestina selama masa gencatan senjata. Pasukan penjajah Israel tercatat telah melakukan lebih dari 1.400 pelanggaran terhadap “gencatan senjata” yang telah diberlakukan sejak pada 10 Oktober 2025, yang telah membunuh sedikitnya 556 dan melukai 1.360 penduduk Palestina lainnya.
Israel juga menghancurkan ribuan bangunan dan terus memberlakukan pembatasan ketat terhadap masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Bulan lalu, situs berita berbahasa Ibrani Ynet melaporkan bahwa militer Israel tengah menyiapkan serangkaian serangan baru di reruntuhan Gaza utara untuk “meruntuhkan” gencatan senjata, dengan dalih untuk menghadapi pejuang perlawanan Palestina yang dalam beberapa bulan terakhir kembali mempersenjatai diri dan melakukan konsolidasi.
(T.FJ/S: The Cradle)