Boikot Global Ancam Runtuhnya Ekspor Pertanian Israel

TEL AVIV, NPC– Ekspor pertanian Israel terancam runtuh akibat meningkatnya penolakan internasional terhadap produk-produk Israel, menyusul agresi yang dilakukan Israel terhadap Gaza Oktober 2023 lalu. Petani dan media Israel sendiri memperingatkan bahwa sektor ekspor pertanian tengah menghadapi krisis serius yang bisa berujung pada kolaps.

Laporan tersebut diungkap media independen Amerika Serikat, Mondoweiss, yang mengutip dari lembaga penyiaran publik Israel. Dalam laporan itu, para petani menyebut pasar Eropa kian enggan membeli buah-buahan Israel dan hanya bersedia bertransaksi jika tidak memiliki alternatif lain.

“Jika mereka punya pilihan, mereka menghindari produk kami,” kata seorang petani mangga Israel.

Kan 11 bahkan menyebut Israel kini berada dalam posisi terisolasi dan sejajar dengan Rusia sebagai negara yang mengalami boikot luas. Penolakan pasar ini terutama dirasakan di Eropa, yang selama ini menjadi tujuan utama ekspor buah Israel, seperti jeruk dan mangga.

Krisis ekspor diperparah oleh gangguan jalur pelayaran internasional akibat blokade Laut Merah oleh kelompok Ansarullah (Houthi) di Yaman. Perusahaan pelayaran terpaksa menggunakan rute yang lebih panjang dan mahal, sehingga pengiriman ke pasar Asia menjadi tidak efisien dan berisiko merugi.

Jeruk Jaffa Terancam Hilang

Salah satu dampak yang paling terlihat pada jeruk Jaffa, ikon lama ekspor pertanian Israel. Laporan Kan 11 pada November 2025 menunjukkan kebun-kebun jeruk di Kibbutz Givat Haim Ichud terancam ditebang karena ketiadaan pesanan ekspor.

“Sejak perang, kami bekerja dengan kerugian. Jika situasi ini berlanjut, kehancuran tidak terhindarkan,” ujar Nitzan Weisberg, pengelola kebun jeruk Jaffa.

Sekretaris Jenderal Organisasi Petani Jeruk Israel, Daniel Klusky, mengakui bahwa sejak perang dimulai Israel tidak mengekspor satu pun kontainer jeruk ke sejumlah pasar Eropa, termasuk Skandinavia.

Mangga Membusuk di Kebun

Kondisi serupa terjadi pada sektor mangga di Israel utara. Dalam laporan Kan 11 pada Agustus 2025, para petani menyebut musim panen kali ini sebagai salah satu yang terburuk. Meski produksi tinggi, sekitar seperempat hasil panen dibiarkan membusuk karena tidak terserap pasar.

“Bukan karena hasilnya buruk, tapi karena tidak ada pembeli,” kata Moti Almoz, petani mangga sekaligus mantan jenderal militer Israel.

Dari sekitar 1.200 ton mangga, lebih dari separuh diperkirakan akan membusuk di kebun. Para petani mengaku merugi ratusan ribu hingga jutaan shekel.

Rusia Jadi Pasar Terakhir

Dalam kondisi terjepit, Rusia disebut sebagai satu-satunya pasar yang masih menerima produk pertanian Israel. Itu pun, menurut para petani, sekadar untuk menutup biaya penyimpanan. Sementara itu, pasar Eropa secara terbuka mengaitkan penolakan mereka dengan situasi politik dan perang di Gaza.

Mondoweiss menilai krisis ini bukan semata soal kerugian ekonomi, melainkan juga runtuhnya citra Israel di pasar global. Produk pertanian Israel yang selama ini dikenal berkualitas kini menjadi sasaran penolakan politik.

Laporan itu menyimpulkan, ancaman hancurnya ekspor pertanian mencerminkan isolasi internasional yang kian dalam dan berpotensi berlangsung lama, sekaligus mengguncang fondasi ekonomi permukiman-permukiman pertanian Israel yang bergantung pada pasar ekspor.

(T.RS/S:Mondoweiss)

 

You might also like