Abdelrahman baru berusia belasan tahun, namun ia sudah memikul beban yang tak sanggup ditanggung oleh orang dewasa sekalipun. Setelah serangan udara Israel menghancurkan rumahnya dan merenggut nyawa ayahnya, sebuah ledakan lain di Nuseirat memaksa dokter mengamputasi kakinya tanpa anestesi. Di sebuah rumah sakit di Yordania pada Mei 2025, bocah itu berbisik dengan nada datar yang mengerikan: “Kami akan kembali ke Gaza untuk mati di sana.”
Kisah Abdelrahman bukanlah insiden tunggal. Ia adalah wajah dari sebuah fenomena disebut oleh para peneliti Universitas Cambridge, UNRWA, dan Centre for Lebanese Studies sebagai risiko munculnya “generasi yang hilang” di Palestina. Di Gaza, masa kanak-kanak kini didefinisikan oleh kombinasi maut antara genosida, kelaparan, dan hancurnya sistem pendidikan.

Luka yang diderita anak-anak Gaza jauh melampaui apa yang terlihat secara fisik. Profesor Michael Pluess dan Profesor Theresa Betancourt menjelaskan bahwa hidup di zona konflik mengubah arsitektur otak anak secara permanen. Tubuh mereka dibanjiri hormon kortisol dan adrenalin secara terus-menerus, sebuah kondisi yang disebut sebagai stres toksik.
Dampaknya sangat mengerikan, diantaranya: risiko penyakit jantung, masalah autoimun, hingga gangguan mental kronis seperti PTSD. Bahkan, melalui bidang epigenetika, para ahli memperingatkan bahwa trauma hebat ini dapat mengubah cara kerja gen dan mewariskan kerentanan mental kepada generasi berikutnya. Anak-anak yang selamat hari ini seringkali merasa seperti “mayat hidup”, kehilangan rasa percaya pada nilai-nilai hak asasi manusia dan sistem internasional yang dianggap gagal melindungi mereka.
Trauma mental yang dialami anak-anak Gaza akan memengaruhi seluruh generasi. Para pengasuh dan pekerja bantuan kemanusiaan melaporkan bahwa anak-anak mengalami syok, berpegangan pada orang lain saat mendengar suara keras, dan mencari perlindungan dengan tidur di bawah tempat tidur.

Bagi seorang anak, sekolah adalah ruang untuk membangun identitas. Namun di Gaza, hak dasar ini telah hampir dihapuskan total. Hingga Oktober 2025, tercatat lebih dari 18.000 siswa tewas dan ribuan staf pendidikan gugur.
Anak-anak Gaza diperkirakan telah kehilangan setara dengan lima tahun masa sekolah sejak 2020 akibat pandemi dan perang yang tak berkesudahan. Jika tren ini berlanjut hingga 2027, mereka akan tertinggal satu dekade penuh dari tingkat pendidikan seharusnya. Di Tepi Barat pun, situasinya tak kalah kelam; penutupan sekolah sporadis dan kekerasan yang masif, membuat anak-anak kehilangan minimal 2,5 tahun waktu belajar mereka.
Di tengah reruntuhan, stabilitas pengasuh adalah benteng terakhir. Namun, bagaimana seorang ibu atau ayah bisa melindungi mental anaknya ketika mereka sendiri hancur oleh duka dan lapar? Penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan, seperti akses ke makanan, tempat tinggal yang aman, dan pendidikan, memiliki dampak sepuluh kali lebih kuat terhadap pemulihan anak dibandingkan intervensi medis tunggal.
Beata Umubyeyi Mairesse, seorang penyintas genosida Rwanda 1994 yang kini menjadi penulis sukses, adalah bukti nyata bahwa pemulihan itu mungkin jika ada “ruang aman”. Bagi Beata, pengasingan ke tempat yang damai dan kesempatan kembali ke sekolah adalah kunci utama untuk merebut kembali masa depannya.
Sayangnya, jalan menuju pemulihan sektor pendidikan bagi anak-anak Palestina terhambat oleh realitas finansial yang pahit. Lembaga OCHA membutuhkan sekitar US$1,38 miliar untuk membangun kembali sektor pendidikan di sana. Namun, dunia tampaknya mulai jemu. Dari kebutuhan dana tahun 2025, hanya 5,7% yang terpenuhi hingga pertengahan 2025, setara dengan hanya US$9 per anak. Angka ini sangat jauh dari kebutuhan rekonstruksi penuh sebesar US$1.155 per kepala.
Profesor Pauline Rose dari Cambridge menyatakan, bahwa kita tidak bisa hanya mengandalkan ketangguhan rakyat Palestina. Tanpa bantuan internasional dan upaya penghentian kekerasan, kita tidak hanya sedang menyaksikan kehancuran sebuah wilayah, tetapi juga menyaksikan proses sirnanya masa depan satu generasi utuh yang seharusnya menjadi pemilik hari esok.
Tragedi yang menimpa Gaza bukan sekadar statistik kematian, melainkan upaya sistematis yang melumpuhkan fondasi kehidupan manusia: pendidikan, kesehatan fisik, dan kestabilan jiwa. Ketika seorang anak seperti Abdelrahman kehilangan harapan dan merasa “kembali untuk mati”, dunia sedang menghadapi ujian moral yang paling berat. Kita tidak bisa membiarkan narasi “generasi yang hilang” menjadi kenyataan yang permanen. Memulihkan Gaza berarti memulihkan kemanusiaan kita sendiri; memastikan bahwa hak setiap anak untuk belajar, bermain, dan bermimpi tidak terkubur di bawah puing-puing agresi.
Keteguhan (sumood) rakyat Palestina adalah api yang menolak padam, namun mereka tidak bisa berjuang sendirian di tengah isolasi dan keterbatasan. Seperti yang diperingatkan oleh Profesor Pauline Rose dari Cambridge diatas.
Kini saatnya kita mengambil peran nyata melampaui sekadar rasa empati. Dukungan aktif kita adalah napas baru bagi masa depan mereka:
Masa depan Gaza adalah tanggung jawab kolektif kita. Setiap donasi, setiap suara, dan setiap doa adalah langkah nyata untuk memastikan anak-anak Palestina tidak hanya bertahan hidup, tetapi kembali memiliki dunia tempat mereka bisa tumbuh dengan martabat dan harapan.
Oleh: Fuad Nur Zaman
Sumber: