Jalur Gaza, NPC – Di tengah blokade dan perang yang tak kunjung mereda, kisah Gaza kembali menemukan jalannya menuju panggung internasional, bukan lewat angka korban atau berita serangan, melainkan melalui sebuah laporan media yang merekam denyut kehidupan di bawah tekanan blokade dan agresi.
Laporan yang disiapkan dengan keberanian dan kedekatan emosional, membawa jurnalis Palestina Ahmed Ghanem meraih peringkat kedua Khalid Al-Khatib International Award, penghargaan tahunan untuk karya jurnalistik perang yang digelar kanal Rusia, RT Arabic.
Penghargaan ini menempatkan Ghanem sejajar dengan para jurnalis dari berbagai zona konflik dunia. Namun kisah yang ia bawa dari Gaza memiliki bobot moral tersendiri: ia berbicara tentang sebuah masyarakat yang terperangkap antara kelaparan dan kehancuran, tetapi tetap bertahan hidup.
Dalam laporannya Jurnalis stasiun TV Al-Mayadeen itu memperlihatkan barisan panjang warga yang setiap hari memadati titik distribusi bantuan. Para lansia, ibu-ibu, hingga anak-anak bergerak maju dalam kerumunan sambil menahan ketakutan: suara drone menggantung di udara, tembakan peringatan bisa terdengar kapan saja.
“Saya menyusun hampir seluruh laporan ini dari awal,” ujar Ghanem dalam video liputannya. “Berkali-kali saya mengikuti para pengungsi yang kelaparan, berdiri hanya sejangkauan dari bahaya yang sama. Dari kedekatan itulah saya memahami bahwa mereka tidak sekadar mengejar makanan; mereka sedang berusaha mempertahankan hidup.”
Ia menggambarkan dilema yang menghimpit warga Gaza setiap hari: “Jika mereka tetap berada di tenda pengungsian, kelaparan akan membunuh mereka perlahan. Namun ketika mereka keluar untuk mengantri bantuan, maut bisa datang dari peluru yang beterbangan.”
Kata-kata itu tidak berlebihan. Banyak warga yang berangkat pagi hari bukan untuk mencari nafkah, melainkan untuk menghindari kematian akibat kelaparan. Ada yang pulang membawa dua atau tiga kaleng makanan; ada pula yang pulang dengan tangan kosong dan tubuh yang memar atau bahkan dalam kondisi tidak bernyawa.
Ghanem memotret Gaza yang hancur bukan sebagai latar cerita, melainkan sebagai kenyataan sehari-hari. Di wilayah utara, toko-toko sudah lama kosong. Ladang rusak, jaringan pasokan lumpuh, rumah sakit kehilangan kemampuan untuk merawat pasien. Organisasi internasional telah berkali-kali memperingatkan bahwa ratusan ribu warga kini berada dalam kondisi rawan kelaparan.
Lensanya mereka wajah-wajah pucat menunggu giliran, tangan-tangan kecil yang menggigil menggenggam kantong tepung, dan seorang ibu yang bertahan dalam antrean meski peluru melintas di atas kepala.
Fragmen-fragmen seperti inilah yang membuat laporan Ghanem mendapat perhatian dewan juri: ia tak hanya menampilkan fakta, tetapi menghadirkan manusia yang hidup, atau berusaha tetap hidup, di balik fakta itu.
Penghargaan yang diraih Ghanem lahir dari kisah kehilangan. Pada 2018, RT Arabic meluncurkan program Khalid Al-Khatib International Award untuk mengenang jurnalis muda Khalid Al-Khatib yang gugur saat meliput pertempuran di Hama, Suriah. Ia baru berusia 25 tahun ketika gugur. Presiden Rusia Vladimir Putin menganugerahkan medali “Keberanian” kepada keluarganya pada tahun yang sama.
Sejak peluncurannya, ratusan jurnalis yang meliput wilayah perang dari berbagai negara ikut berpartisipasi serta setiap tahun, dari Suriah, Irak, Yaman, Palestina, hingga Ukraina. Lebih dari 25 wartawan telah meraih penghargaan ini, dengan Ahmed Ghanem kini menjadi salah satu di antaranya.
Dalam bagian akhir videonya, Ghanem menampilkan sebuah adegan yang sederhana namun kuat: Seorang anak laki-laki berlari pulang sambil mengangkat dua kaleng makanan di kepalanya. Asap hitam mengepul di latar belakang, sementara suara pesawat tak berawak terus berdengung. Bagi Ghanem, momen itu merangkum realitas Gaza.
Di kota yang berulang kali hancur, masyarakatnya tetap mencari cara untuk bertahan. Dan di tempat yang sangat berbahaya bagi jurnalis, kamera menjadi salah satu saksi paling setia, serta salah satu harapan terakhir agar dunia tidak menutup mata.
Kemenangan Ghanem bukan semata penghargaan profesional. Ia adalah pengingat bahwa di balik laut berita konflik yang terus mengalir, masih ada kisah-kisah manusia yang layak didengar. Gaza mungkin dibungkam oleh blokade, namun melalui laporan-laporan seperti ini, suaranya tetap menemukan jalan keluar.
(T.RS/S:RtArabic)