Jalur Gaza, NPC – Musim dingin kembali menimpa Gaza, namun tahun ini datang sebagai ancaman baru bagi warga yang telah hidup dua tahun dalam perang. Hujan deras, angin kencang, dan badai yang menggulung tenda-tenda pengungsian menyingkap betapa rentannya ratusan ribu warga Palestina menghadapi cuaca ekstrem tanpa perlindungan layak.
Di tengah kondisi itu, operasi kemanusiaan yang menjadi penopang hidup terakhir bagi warga Gaza justru terancam berhenti karena hambatan administratif dan politik yang disebabkan Israel, membuat situasi di lapangan semakin mendekati ambang kehancuran.
Dalam konferensi pers di New York, Wakil Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Farhan Haq menyampaikan bahwa sekitar 55.000 keluarga mengalami kerusakan pada tenda, barang-barang, dan tempat tinggal sementara akibat badai yang melanda Gaza beberapa hari terakhir.
Tak hanya tempat tinggal, puluhan ruang ramah anak juga hancur diterjang angin dan hujan deras, membuat sekitar 30.000 anak kehilangan ruang aman yang selama ini menjadi tempat perlindungan psikososial. Haq menegaskan bahwa hambatan Israel terhadap aktivitas kemanusiaan memperburuk kemampuan organisasi internasional memperluas intervensi darurat, padahal musim dingin baru saja dimulai.
Di Gaza, kondisi yang digambarkan lebih suram. Pertahanan Sipil memperingatkan adanya gelombang dingin ekstrem yang dapat membunuh anak-anak, terutama mereka yang hidup di tenda-tenda bocor tanpa kasur, selimut, atau alat pemanas.
Juru bicara pertahanan sipil Mahmoud Basal menyebut suhu yang merosot tajam pada malam hari telah menciptakan risiko serius bagi ribuan balita dan anak-anak. Ia menggambarkan suasana memilukan: bayi tidur di lantai tanah basah, keluarga menyalakan api dari sisa-sisa sampah, dan tenda-tenda yang runtuh diterbangkan angin.
“Yang kami alami sekarang adalah bencana kemanusiaan nyata. Selamatkan anak-anak Gaza sebelum dingin mencabut nyawa mereka,” ujarnya.
Sementara itu, PBB dan lebih dari 200 organisasi kemanusiaan internasional dan lokal memperingatkan bahwa operasi bantuan bisa berhenti total jika Israel melanjutkan kebijakan sewenang-wenang dan dipolitisasi.
Jika puluhan organisasi kehilangan izin pada 31 Desember nanti, dampaknya akan sangat besar. Sebagian besar rumah sakit lapangan, pusat perawatan kesehatan, layanan air dan sanitasi, hingga program perbaikan gizi balita bergantung pada organisasi-organisasi ini.
Dalam pernyataan bersama, mereka menegaskan bahwa hilangnya izin akan “membawa konsekuensi bencana bagi ketersediaan layanan dasar yang menopang hidup jutaan warga”.
Di berbagai kamp pengungsian, musim dingin tahun ini menambah panjang daftar penderitaan. Pertahanan Sipil Gaza mencatat 17 warga Palestina gugur akibat cuaca buruk sepanjang Desember, termasuk empat orang anak.
Sebanyak 17 rumah runtuh total, 90 persen pusat pengungsian terendam, dan lebih dari 90 bangunan lainnya rusak berat dan sangat beresiko untuk dihuni. Banyak pengungsi terpaksa menggali saluran air dengan tangan kosong, sementara anak-anak mengipasi api kecil agar tetap menyala di tengah dingin yang menusuk tulang.
OCHA menilai mustahil warga Gaza bertahan dalam cuaca ekstrem tanpa pemenuhan komitmen tersebut. Musim dingin ini datang setelah dua tahun perang yang menghancurkan hampir seluruh infrastruktur sipil Gaza.
Sejak 7 Oktober 2023, serangan Israel telah menelan lebih dari 70.000 korban jiwa Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya. 90% fasilitas sipil, mulai dari rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan, hancur atau rusak berat.
Kini, di antara genangan air, reruntuhan bangunan, dan angin yang menerjang tenda-tenda plastik, warga Gaza kembali menghadapi musim dingin dengan ketakutan yang sama besarnya dengan kelaparan dan ancaman serangan.
Suara angin malam terdengar setara menakutkannya dengan dengungan drone. Anak-anak menarik selimut basah untuk bertahan, sementara orang tua berjaga agar atap plastik tidak terbang.
Di Gaza, musim dingin bukan sekadar perubahan musim, namun ancaman lain dalam daftar panjang ancaman yang menekan kehidupan rakyat Palestina. Dan bagi puluhan ribu keluarga yang kini berjuang agar tetap hangat di tenda yang terendam, seruan Mahmoud Basal terasa semakin nyaring: “Mari selamatkan anak-anak Gaza sebelum dingin membunuh mereka”.
(T.RS/S:TRT)