Gaza Menggugat: Era Simpati Pasif Telah Usai, Saatnya Menuju Aksi Strategis

Deklarasi akhir ‘Pertemuan Cendekiawan Balkan ke-2’ menyerukan negara-negara Muslim untuk mengambil langkah konkret guna mengakhiri kekejaman di Gaza dan menegakkan nilai-nilai moral dan keluarga. (Foto: Anadolu Agency)

Tragedi kemanusiaan yang berlarut-larut di Gaza, Palestina, telah sampai pada titik di mana simpati dan rasa kasihan tidak lagi cukup. Jutaan pasang mata menyaksikan krisis kemanusiaan, kelaparan, dan penghancuran sistematis, namun seringkali respons dunia terhenti pada ungkapan duka dan donasi sesaat. Kini, sebuah kesadaran baru tengah menggema: era belas kasihan pasif telah berakhir, dan tuntutan untuk aksi nyata yang strategis semakin menguat.

Seruan ini tidak datang dari satu arah, melainkan dari berbagai penjuru, mulai dari aktivis di jantung Gaza, para ulama di Eropa, hingga langkah-langkah diplomatik konkret yang diinisiasi oleh negara-negara Muslim. Pesan intinya sama: jangan hanya merasa kasihan, tapi mulailah bertindak.

Bergerak Dari Penonton Menjadi Pemain

Salah satu narasi paling kuat yang mengubah cara pandang publik datang dari aktivis dan jurnalis Indonesia yang lama bermukim di Gaza, Muhammad Husein. Dalam berbagai kesempatannya, Husein tidak lagi membingkai Gaza sebagai objek yang pasif dan patut dikasihani. Sebaliknya, ia menyajikan sebuah perspektif yang radikal dan menggugah.

Husein sering menyebut bahwa ia awalnya mengira seluruh dunia telah merdeka kecuali Palestina. Namun, setelah menyaksikan keteguhan dan perlawanan rakyat Gaza, ia menyimpulkan sebaliknya. “Ternyata, hanya Palestina negara yang merdeka. Sedangkan kita semua terjajah,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.

Ini adalah sebuah tamparan keras. “Terjajah” dalam konteks ini adalah penjajahan oleh rasa takut, oleh kepentingan ekonomi, oleh ketidakberdayaan politik, dan oleh kebisuan kolektif. Rakyat Gaza, dalam pandangannya, adalah manusia-manusia merdeka yang berani melawan dan memilih takdirnya, sementara dunia luar yang “aman” justru terpenjara oleh keengganannya untuk bertindak nyata.

Seruan Husein adalah panggilan untuk “memerdekakan” diri kita sendiri dengan mengambil aksi. Ini bukan lagi soal “membantu yang lemah”, tapi soal “bergabung dengan yang kuat dan merdeka”. Ia menyerukan agar generasi muda mempersiapkan diri secara serius, mulai dari intelektual, fisik, dan mental untuk melanjutkan estafet perjuangan pembebasan Al-Aqsa dan Palestina. Ini adalah seruan untuk bergerak dari penonton menjadi pemain.[1]

Podcast Gontor TV bersama Husein Gaza.Husen Gaza berpidato di hadapan seluruh santri. (Foto: gontor.ac.id)

Langkah Ulama Global: Dari Doa Menuju Fatwa Aksi

Seruan untuk bertindak mengakhiri genosida di Gaza juga berkumandang dari mimbar-mimbar ulama, termasuk dari kawasan Balkan.

Pada awal bulan November, para cendekiawan dan ulama Balkan melakukan serangkaian pertemuan yang mencapai puncaknya pada hari Minggu, 2 November 2025, di provinsi Edirne, di barat laut Turkiye. Pertemuan tersebut menghasilkan seruan bersama untuk upaya global guna mengakhiri genosida di Gaza.

Pertemuan tersebut diselenggarakan oleh Kantor Gubernur Edirne, bekerja sama dengan Yayasan Mimar Sinan dan Platform Kerja Sama Kota Balkan.

Acara dua hari ini dihadiri oleh para pemimpin agama dan cendekiawan dari berbagai wilayah, termasuk:

  • Makedonia Utara
  • Kosovo
  • Albania
  • Serbia
  • Bosnia dan Herzegovina
  • Trakia Barat
  • Bulgaria
  • Rumania
  • Slovenia
  • Montenegro
  • Kroasia
  • Krimea
Pada awal bulan November, para cendekiawan dan ulama Balkan melakukan serangkaian pertemuan di provinsi Edirne, di barat laut Turkiye. Pertemuan tersebut menghasilkan seruan bersama untuk upaya global guna mengakhiri genosida di Gaza. (Foto: mediadakwah.id)

Pertemuan tersebut menyoroti perlunya persatuan dan desakan upaya global untuk mengakhiri apa yang mereka sebut sebagai genosida di dalam Gaza. Mereka menyerukan para ulama untuk mengambil peran aktif dalam mengarahkan umat dan menekan pemerintah.[2]

Gaung ini diperkuat oleh lembaga-lembaga ulama internasional, seperti Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS), yang telah mengeluarkan fatwa yang sangat jelas. Fatwa ini adalah cetak biru untuk “aksi nyata” yang melampaui sekadar doa qunut nazilah.

Poin-poin utama dari seruan para ulama ini adalah:

  1. Kewajiban Jihad Global: Ulama menyerukan jihad dalam makna yang luas. Bukan hanya perang fisik, tetapi juga jihad ekonomi melalui boikot total terhadap produk dan perusahaan yang terafiliasi atau mendukung penjajahan.
  2. Jihad Finansial: Mendorong umat Islam untuk tidak hanya berdonasi untuk kemanusiaan, tetapi juga secara spesifik mendanai perjuangan (mujahadah) dan perlawanan (muqawamah) rakyat Palestina.
  3. Menekan Pemerintah: Para ulama mewajibkan umat untuk menekan pemerintah di negara masing-masing agar mengambil sikap politik yang tegas, memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, dan menuntut tindakan nyata di PBB.[3]

Ini adalah pergeseran teologis yang penting, di mana diam dianggap sebagai bentuk keterlibatan dalam kejahatan, dan aksi nyata, baik boikot, finansial, maupun politik, diangkat menjadi sebuah kewajiban agama.

Inisiasi Turki: Aksi Geopolitik Negara Muslim

Di tingkat negara, seruan untuk bertindak tidak lagi sebatas resolusi dan kecaman. Turki, di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan, telah mengambil inisiatif untuk memimpin negara-negara Muslim dalam langkah-langkah strategis yang lebih konkret.

Turki secara aktif melakukan kontak diplomatik intensif untuk tidak hanya menjadi mediator, tetapi juga menjadi bagian dari pasukan stabilisasi internasional atau satuan tugas (satgas) yang akan mengawasi implementasi gencatan senjata dan keamanan di Gaza pasca-konflik. Ini adalah sebuah langkah besar dari sekadar mengirim bantuan kemanusiaan.[4]

Inisiatif ini mencakup:

  • Konsolidasi Diplomatik: Turki telah menjadi tuan rumah berbagai pertemuan tingkat menteri luar negeri negara-negara Islam untuk membahas langkah kolektif. Tujuannya adalah menciptakan front persatuan yang tidak hanya berbicara, tetapi juga bertindak secara geopolitik.
  • Mendorong Keterlibatan Fisik: Dengan menawarkan diri untuk berpartisipasi dalam pasukan penjaga perdamaian atau satgas stabilisasi, Turki mengirimkan sinyal bahwa negara-negara Muslim siap mengambil tanggung jawab keamanan di kawasan itu, sebuah langkah yang didukung oleh beberapa negara namun ditentang oleh Israel.
  • Menekan Barat: Sikap tegas Turki, yang didukung oleh negara-negara OKI lainnya, bertujuan untuk menekan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat, agar tidak memberikan cek kosong kepada Israel dan menerima keterlibatan aktor regional Muslim dalam solusi akhir.[5]

Langkah Turki ini adalah contoh nyata dari apa yang dituntut oleh Husein dan para ulama: sebuah negara yang menggunakan kekuatannya, diplomatik, politik, dan militer, untuk melakukan intervensi nyata, bukan sekadar basa-basi.

Sekarang, Saatnya Bertindak

Pesan dari Gaza, seruan dari para ulama Balkan, dan langkah strategis Turki bertemu di satu titik: era simpati yang pasif sudah selesai. Krisis di Gaza telah menjadi cermin yang memantulkan kemerdekaan sejati versus keterjajahan oleh kebisuan.

Tindakan nyata kini memiliki banyak bentuk: dari boikot individu di rumah, tekanan publik terhadap pemerintah, pendanaan strategis untuk perjuangan, hingga dukungan terhadap langkah-langkah geopolitik berani seperti yang diinisiasi Turki. Pilihan untuk diam dan sekadar “merasa kasihan” bukan lagi pilihan yang netral; itu adalah pilihan untuk membiarkan keterjajahan terus berlangsung.

 

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

[1] Gontor, “Aktivis Palestina, Husein Gaza Kunjungi PMDG”, Gontor, 07, September 2024. gontor.ac.id/aktivis-palestina-husein-gaza-kunjungi-pmdg

[2] Anadolu Agency, “Balkan scholars highlight unity and urge global efforts to end Gaza genocide”, Anadolu Agnecy, November 03, 2025. https://www.aa.com.tr/id/budaya/cendekiawan-balkan-soroti-persatuan-dan-desak-upaya-global-untuk-akhiri-genosida-gaza/3733620

[3] IUMS, “The Chairman of the Malaysian Islamic Party (PAS) praised the fatwa on jihad in defense of Palestine and emphasized the importance of unity in the face of aggression”, IUMS, April 16, 2025. https://iumsonline.org/indo/ContentDetails.aspx?ID=38904

[4] Anadolu Agency, “Turkish FM: Hamas shows positive intentions for permanent Gaza peace, Israel must have the same attitude”, Anadolu Agency, November 13, 2025. https://www.aa.com.tr/id/dunia/menlu-turkiye-hamas-tunjukkan-niat-positif-untuk-perdamaian-gaza-permanen-israel-harus-miliki-sikap-sama/3742598

[5] Anadolu Agency, “Turkish FM: Hamas shows positive intentions for permanent Gaza peace, Israel must have the same attitude”, Anadolu Agency, November 13, 2025. https://www.aa.com.tr/id/dunia/menlu-turkiye-hamas-tunjukkan-niat-positif-untuk-perdamaian-gaza-permanen-israel-harus-miliki-sikap-sama/3742598

You might also like