Gaza, NPC – Organisasi distribusi bantuan yang didukung Israel dan Amerika Serikat, yang dinilai menyebabkan kematian dan cedera terhadap lebih dari 2.600 penduduk Palestina di Gaza, mengumumkan berakhirnya “misi” mereka di wilayah tersebut, berdasarkan pernyataan direktur eksekutifnya pada Senin (24/11/2025).
Gaza Humanitarian Fund (GHF) menutup lokasi operasinya pada Oktober setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga swadaya masyarakat lainnya kembali diizinkan menyalurkan bantuan ke wilayah yang dilanda perang tersebut, yang telah diakui PBB sebagai lokasi genosida.
Mengenai operasi GHF selama empat setengah bulan di Gaza yang menimbulkan banyak korban, Direktur Eksekutif John Acree menyatakan bahwa organisasinya telah menetapkan standar baru dalam penyaluran bantuan, meski menuai kritik luas dari jaringan distribusi bantuan paling bereputasi di dunia.
“Misi ini dirancang untuk menunjukkan bahwa bantuan kemanusiaan dapat disalurkan secara efisien, aman, dan transparan bahkan di zona konflik yang paling menantang,” kata Acree.
“Dengan dukungan Civil-Military Coordination Centre (CMCC) dan komunitas internasional yang lebih luas, kami telah berhasil menunjukkan standar baru bagi operasi bantuan di Gaza.”
Acree, yang sebelumnya menjabat sebagai direktur kantor stabilisasi USAID di Afghanistan, mengatakan CMCC akan “mengadopsi dan memperluas” model yang diterapkan GHF.
“Sebagai hasilnya, kami mulai menghentikan operasi karena kami telah mencapai misi kami, yakni menunjukkan bahwa ada cara yang lebih baik untuk menyalurkan bantuan kepada penduduk Palestina di Gaza,” ujarnya.
GHF menyebut dirinya dibentuk hanya sebagai “inisiatif darurat sementara”. GHF, yang didanai secara privat, mengambil alih distribusi bantuan di Gaza pada akhir Mei setelah Israel memberlakukan blokade total terhadap seluruh pasokan kemanusiaan dan komersial mulai 2 Maret.
Hampir tiga bulan kemudian, ketika GHF menjalankan operasi yang terkesan militeristik, kelaparan meluas di Gaza karena pasokan sangat terbatas atau tidak tersedia sama sekali.
Sejumlah LSM dan lembaga distribusi bantuan berpengalaman menyuarakan kekhawatiran atas model distribusi GHF serta kurangnya pengalaman organisasi tersebut dalam penyaluran bantuan.
GHF Jadi Perangkap Maut
Berbeda dengan LSM lainnya, GHF tidak menyalurkan bantuan langsung kepada penduduk Palestina di Gaza yang membutuhkan. Sebaliknya, GHF membuka empat lokasi distribusi di Gaza bagian selatan dan mewajibkan penduduk Palestina untuk datang ke lokasi-lokasi tersebut, meskipun harus berjalan kaki berhari-hari. Situasi ini sangat menyulitkan warga di wilayah utara Jalur Gaza, yang tidak memiliki akses ke layanan distribusi pangan.
Jika penduduk Palestina tidak jatuh sakit atau meninggal dalam perjalanan, mereka tetap berisiko terluka atau terbunuh saat mencoba memperoleh bantuan di lokasi-lokasi yang dijaga tentara Israel bersenjata dan kontraktor keamanan AS.
Menurut keterangan para pelapor seperti Anthony Aguilar, saksi lain, serta video yang beredar di media sosial, banyak penduduk Palestina disebut sengaja ditembak oleh tentara Israel atau kontraktor keamanan AS yang disewa GHF, setelah mendapat perintah langsung dari atasan mereka.
Meski demikian, ribuan penduduk Palestina tetap nekat mendatangi lokasi GHF setiap hari demi mendapatkan makanan untuk diri mereka dan keluarga, hingga gencatan senjata tercapai pada 10 Oktober.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan bahwa selain lebih dari 2.600 penduduk Palestina yang dibunuh, dan sedikitnya 19.182 lainnya mengalami luka-luka saat berusaha mendapatkan bantuan selama operasi GHF berlangsung.
GHF membantah ada korban jiwa di lokasi mereka dan menyebut data PBB mengenai jumlah pencari bantuan yang meninggal dunia sebagai “tidak benar dan menyesatkan”, dengan mengklaim bahwa mereka hanya melepaskan tembakan peringatan ke udara.
Pertanyaan juga masih mengemuka mengenai sumber pendanaan GHF. Pada Agustus, Center for Constitutional Rights mengajukan gugatan untuk memperoleh dokumen terkait pendanaan GHF dari pemerintahan Trump.
Perang genosida Israel di Gaza telah membunuh dan melukai lebih dari 245.000 penduduk Palestina hingga saat ini, di mana sebagian besar adalah penduduk sipil. Laporan yang dirilis pada Agustus 2025 dan berdasarkan data intelijen militer Israel menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen korban jiwa hingga Mei tahun ini merupakan penduduk sipil.
(T.FJ/S: MEE)