Situasi di Gaza telah mencapai titik kehancuran total. Lebih dari 90% rumah diperkirakan telah rusak atau hancur lebur. Sistem vital yang menopang kehidupan, seperti layanan kesehatan, air bersih, dan sanitasi, telah sepenuhnya runtuh. Infrastruktur penting tidak lagi ada; jalan-jalan tidak dapat dilalui, listrik terputus, dan hampir semua rumah sakit tidak berfungsi.
Namun, di balik kehancuran yang terlihat, terdapat ancaman yang lebih mematikan dan tersembunyi yang akan mengkontaminasi Gaza selama beberapa dekade mendatang.
Tingkat kontaminasi dari persenjataan yang tidak meledak (Unexploded Ordnance/UXO) diperkirakan sangat besar. Pada bulan Januari 2025, Dinas Aksi Ranjau Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNMAS) memperkirakan bahwa 10-12% amunisi yang ditembakkan ke Gaza gagal meledak.
Nicholas Orr, pakar Penjinakan Bahan Peledak untuk Kemanusiaan & Inklusi, memberikan gambaran yang suram. “Setiap warga Gaza kini hidup di ladang ranjau yang mengerikan dan tak terpetakan. UXO ada di mana-mana. Di tanah, di reruntuhan, di bawah tanah, di mana-mana.”
Anne-Claire Yaeesh, Direktur Negara untuk Kemanusiaan & Inklusi, menguatkan skala masalah ini. “Diperkirakan sekitar 70.000 ton bahan peledak telah jatuh di Jalur Gaza sejak awal konflik,” jelasnya.
Upaya rekonstruksi di masa depan akan menghadapi tantangan teknis yang luar biasa. Lapisan puing-puing di lingkungan Gaza yang sangat padat dan terbatas sangatlah banyak. “Itu akan membuat rekonstruksi menjadi sangat rumit,” kata Yaeesh. “Menemukan dan mengidentifikasi satu bom di bawah reruntuhan, mengamankan lokasi, dan menetralisirnya akan memakan waktu berbulan-bulan… dan itu untuk satu bom.”
Puing-puing itu sendiri bukan sekadar tumpukan material bangunan. Para ahli memperingatkannya sebagai “campuran yang mematikan dan beracun,” yang berserakan tidak hanya dengan UXO, tetapi juga asbes, bahan berbahaya lainnya, serta jenazah manusia dalam jumlah yang tidak diketahui.
Ironisnya, Nicholas Orr memperingatkan bahwa periode paling berbahaya justru adalah setelah gencatan senjata disepakati. “Keluarga-keluarga yang mengungsi dan orang-orang yang mencoba kembali ke rumah sangat rentan terhadap bahaya yang ditimbulkan oleh persenjataan yang belum meledak,” jelasnya.
Ketika orang-orang kembali ke rumah mereka yang hancur, mereka secara alami akan mencoba masuk untuk mengambil kembali harta benda yang tersisa. “Kita tahu dari zona konflik lain seperti Mosul bahwa inilah saat risikonya paling besar. Kita juga tahu bahwa jumlah korban luka akan meningkat seiring orang-orang mencoba kembali.”
Situasi ini diperparah oleh fakta bahwa operator penjinak bom saat ini tidak dapat melakukan tugas utamanya. “Berdasarkan peraturan saat ini, kami sebagai Operator Pembuangan Bahan Peledak tidak diizinkan menetralkan UXO dengan cara apa pun,” ungkap Orr.
Dengan kontaminasi yang begitu luas, satu-satunya solusi praktis saat ini adalah edukasi. “Kehidupan mereka sekarang terjalin erat dengan UXO, dan akan terus begitu untuk satu generasi,” katanya. “Kami mengajarkan orang-orang bagaimana hidup dengan ancaman mematikan di rumah mereka.”
Tim Kemanusiaan & Inklusi secara aktif memberikan sesi edukasi risiko, terutama karena mereka sangat prihatin dengan risiko yang dihadapi anak-anak. Sesi ini memberi informasi tentang bahaya, cara mengenali UXO, dan menginstruksikan masyarakat tentang cara melindungi diri.
Saat ini, tim spesialis EOD sedang bersiap untuk mendukung organisasi kemanusiaan lain dengan memetakan dan menandai lokasi UXO di rute-rute utama, agar bantuan dapat disalurkan seaman mungkin.
Namun, prospek jangka panjangnya sangat suram. Nicholas Orr menyimpulkan dengan prognosis yang mencengangkan: “Butuh lebih dari 30 tahun untuk membersihkan permukaan Gaza dan membuatnya aman, lalu kita akan terus menemukan UXO terkubur di dalam tanah setidaknya selama dua generasi mendatang. Jika kita mempertimbangkan Inggris dan Eropa, kita masih menemukan UXO dari Perang Dunia II.”
Pada akhirnya, seluruh penduduk Gaza terkena dampak dari krisis berlapis ini dan sangat membutuhkan bantuan segera.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
Humanity and Inclusion, “Everyone in Gaza Lives in a Horrific, Unmapped Minefield”, HI, October 24, 2025. https://www.hi-us.org/en/everyone-in-gaza-lives-in-a-horrific-unmapped-minefield
Arab News, “Clearing Gaza’s surface of bombs will take up to 30 years, aid group says”, Arab News, October 23, 2025. https://www.arabnews.com/node/2620018/amp
Emma Farge, “Clearing Gaza’s surface of bombs will take up to 30 years, aid group says”, REUTERS, October 23, 2025. https://www.reuters.com/world/middle-east/clearing-gazas-surface-bombs-will-take-up-30-years-aid-group-says-2025-10-23/