Jalur Gaza, NPC – Di ruang dingin rumah sakit Gaza, tumpukan kantong jenazah berjejer menanti giliran dibuka. Sebagian tanpa nama, hanya diberi kode huruf dan angka. Saat kain putih pelindung disingkap, para petugas medis menahan napas: tubuh-tubuh itu bercerita. Luka bakar, tulang patah, bekas jeratan tali di leher, dan tangan-tangan yang masih terikat dengan plastik pengikat. Beberapa di antaranya tampak seolah baru dikeluarkan dari neraka yang membeku di dalam lemari pendingin milik tentara Israel.
120 Jenazah dalam Tiga Hari
Laporan terbaru Euro-Med Human Rights Monitor mengungkap fakta mencengangkan: otoritas Israel telah menyerahkan 120 jenazah warga Palestina dari Gaza kepada pihak Palestina melalui Komite Internasional Palang Merah dalam tiga gelombang antara 14 hingga 16 Oktober 2025. Namun, di balik pemulangan itu tersembunyi kengerian baru.
Menurut tim forensik dan pemantau lapangan lembaga tersebut, sebagian besar jenazah menunjukkan tanda-tanda penyiksaan dan eksekusi setelah penahanan. Luka tembak dari jarak sangat dekat, mata tertutup kain, tangan dan kaki terikat, serta leher dengan bekas jeratan tali. Bahkan, beberapa tubuh hancur karena dilindas kendaraan lapis baja.
Dr. Munir al-Barsh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, menggambarkan pemandangan itu dengan kalimat yang mengguncang nurani:
“Mereka diperlakukan seperti hewan. Tangan dan mata mereka terikat, tubuh mereka penuh luka dan luka bakar. Mereka tidak mati secara alami. Mereka dieksekusi setelah disiksa.”
Hasil autopsi memperlihatkan bukti yang sulit dibantah. Salah satu korban dengan kode H32 NMC 14/10/2025 diduga kuat dieksekusi dengan cara digantung setelah diinterogasi. Dokter forensik menyebut, sebagian besar jenazah dalam kondisi “mengenaskan”, bahkan tak dapat dikenali karena luka bakar parah dan kerusakan jaringan tubuh.
“Selama bertahun-tahun saya bekerja di forensik, belum pernah saya melihat kekejaman seperti ini,” ujar seorang dokter yang enggan disebut namanya, dalam laporan Euro-Med.
Lebih dari separuh jenazah masih belum teridentifikasi, menambah penderitaan keluarga yang sejak lama kehilangan kabar tentang kerabat mereka. Dalam suasana perang dan kehancuran total, Gaza nyaris tak punya fasilitas yang memadai untuk mengidentifikasi korban melalui tes DNA atau catatan medis.
Tuntutan untuk Penyelidikan Internasional
Euro-Med menegaskan bahwa temuan-temuan ini tidak bisa dipandang sebagai kasus terpisah, melainkan bagian dari pola sistematis yang menunjukkan penggunaan penyiksaan dan pembunuhan sebagai instrumen perang. Lembaga itu menuntut pembentukan penyelidikan internasional independen untuk memastikan kebenaran laporan, melibatkan tim forensik dan ahli HAM global guna mengamankan bukti sebelum hancur oleh waktu.
Dalam pernyataannya, Euro-Med menyebut, “Apa yang terjadi bukan hanya pelanggaran hukum perang, namun juga indikasi kuat adanya niat pemusnahan kelompok, sebuah bentuk genosida yang terencana.”
Laporan itu juga meminta Komisi Penyelidikan Internasional untuk Wilayah Palestina agar memasukkan kasus ini dalam penyelidikan resmi yang sedang berlangsung atas serangan Israel di Gaza, serta mendesak Mahkamah Pidana Internasional (ICC) memperluas lingkup investigasinya terhadap dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Negara Tanpa Batas Moral
Selama lebih dari dua tahun, perang di Gaza telah menyingkap wajah kekerasan negara yang tampaknya tak lagi mengenal batas moral atau hukum. Euro-Med menilai pola penyiksaan dan eksekusi terhadap para tahanan itu menunjukkan adanya “logika pemusnahan” dalam operasi militer Israel, di mana rasa sakit dijadikan alat kekuasaan dan kematian diperlakukan sebagai bentuk kontrol.
(T.RS/S:EuroMedMonitor)