Penjajahan atas Palestina dimulai secara signifikan sejak awal abad ke-20, terutama dengan kedatangan gelombang imigran Yahudi ke Palestina di bawah deklarasi Balfour 1917 yang telah dipersiapkan dan didukung penuh oleh Inggris.
Setelah Perang Dunia II, PBB membagi wilayah Palestina tanpa persetujuan penduduk asli. Pada 1948, berdirilah negara Israel yang menyebabkan pengusiran lebih dari 700.000 warga Palestina (peristiwa Nakba).[1]
Setelah perang Arab-Israel 1967, Israel menduduki Yerusalem Timur, wilayah yang di dalamnya berdiri Masjid Al-Aqsa, salah satu situs paling suci umat Islam. Sejak saat itu, penjajahan atas kota ini tidak hanya bersifat militer, tetapi juga kultural dan demografis.
Israel secara sistematis berupaya mengubah identitas Yerusalem dengan menggusur penduduk Palestina dan membangun permukiman Yahudi ilegal, langkah yang jelas melanggar hukum internasional serta sejumlah resolusi PBB.
Masjid Al-Aqsa menjadi pusat ketegangan berkelanjutan. Situs suci itu menghadapi ancaman fisik melalui penggalian terowongan yang mengancam fondasinya, serta ancaman simbolik lewat klaim ekstremis Yahudi bahwa tempat tersebut adalah “Bait Suci” mereka. Pembatasan terhadap umat Islam untuk beribadah di Al-Aqsa pun semakin ketat, terutama saat Ramadhan. Meskipun hukum internasional menegaskan bahwa Yerusalem Timur adalah wilayah Palestina yang diduduki dan melarang pemindahan penduduk, Israel terus mengabaikannya dengan dukungan politik dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat.[2]
Dalam beberapa tahun terakhir, pembatasan akses bagi umat Islam ke kompleks suci itu semakin ketat, terutama saat bulan Ramadhan. Puncaknya, tindakan provokatif kembali terjadi ketika Menteri Keamanan Nasional Israel dari sayap kanan, Itamar Ben-Gvir, menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki, bahkan untuk kedua kalinya dalam satu minggu ini. Hal ini menandai terus berlanjutnya pola pelecehan dan penistaan terhadap situs suci tersebut.

Selama ini, dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina sering kali bersifat pragmatis, tergantung pada kepentingan strategis masing-masing negara. Di saat yang sama, dunia Islam tampak terbelah, sebagian pemimpinnya bahkan menjalin hubungan diplomatik dengan Israel, yang justru memperlemah posisi Palestina di kancah internasional. Karena itu, perjuangan Palestina memerlukan solidaritas yang matang dan berkelanjutan, bukan sekadar luapan emosi, tetapi langkah nyata melalui diplomasi, advokasi, serta dukungan konkret bagi hak bangsa Palestina untuk merdeka di tanahnya sendiri.
Peneliti dan spesialis urusan Al-Quds, Ziad Abhis, mengungkapkan bahwa Israel memiliki tiga rencana utama untuk melakukan yahudisasi dan mengubah identitas Islam Masjid Al-Aqsa menjadi identitas Yahudi.[3]
Abhis menjelaskan bahwa rencana pertama Israel adalah pembagian waktu untuk akses ke Masjid Al-Aqsa. Sejak 2003 hingga 2015, otoritas Israel mulai menerapkan jadwal khusus bagi pemukim Yahudi untuk memasuki kompleks masjid, baik pada pagi maupun sore hari, termasuk saat hari-hari libur mereka. Tujuan akhirnya adalah pembagian total, di mana umat Yahudi dan Muslim memiliki hari ibadah masing-masing di Al-Aqsa. Namun hingga kini, rencana tersebut belum sepenuhnya terlaksana.[4]
Rencana kedua adalah pembagian ruang di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Upaya ini awalnya menargetkan sisi barat daya yang terhubung dengan Gerbang Mughrabi, namun antara 2008–2015, perlawanan rakyat Palestina dan lembaga-lembaga Islam berhasil menggagalkan rencana tersebut. Setelah itu, fokus Israel bergeser ke area timur, terutama di sekitar mushalla Bab al-Rahma yang dianggap strategis. Meski demikian, upaya itu kembali kandas setelah aksi massa besar-besaran pada 2019 berhasil mempertahankan kawasan tersebut dari upaya pengambilalihan.[5]

Rencana ketiga adalah pembangunan moral-struktural, yakni upaya Israel memaksakan ritual Taurat di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa. Langkah ini dilakukan dengan memindahkan ritual keagamaan Yahudi yang sebelumnya dilakukan di luar kompleks ke dalamnya, sekaligus menghidupkan kembali praktik-praktik kuno seperti sujud epik, sesaji, doa renungan, dan pelatihan imam. Abhis menegaskan bahwa situasi saat ini telah memasuki tahap ketiga dan paling berbahaya dari proyek yahudisasi, yakni upaya memindahkan ritual Taurat ke jantung Masjid Al-Aqsa. Langkah ini, menurutnya, secara langsung mengancam identitas spiritual Islam dan menuntut kewaspadaan penuh umat Muslim terhadap ancaman sistematis terhadap kesucian Al-Aqsa.[6]
Situasi ini kian mengkhawatirkan dengan munculnya berbagai provokasi baru di lapangan yang menunjukkan bagaimana agenda tersebut dijalankan secara terbuka. Menteri Keamanan Nasional Israel sayap kanan Itamar Ben-Gvir pada hari Selasa (14/10/2025) menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur yang diduduki untuk kedua kalinya dalam seminggu. 6.939 pemukim menyerbu Masjid Al-Aqsa selama perayaan Sukkot, yang menunjukkan peningkatan 24% dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.[7]
Sepekan sebelumnya (08/10/2025), Ben-Gvir melakukan provokasi serupa pada awal hari raya Sukkot Yahudi, sebuah tindakan yang menuai kecaman luas dari Palestina. Provokasi itu tidak diumumkan sebelumnya, sementara menteri Israel hanya diizinkan memasuki lokasi tersebut dengan persetujuan terlebih dahulu dari kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.[8]

Sejak menduduki jabatannya pada tahun 2022, Ben-Gvir telah memaksa masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa sebanyak 13 kali, termasuk 10 kali sejak dimulainya perang Israel di Gaza pada bulan Oktober 2023.[9]
Pada hari Senin (13/10/2025), Dewan Wakaf Islam di Yerusalem menyatakan bahwa kompleks masjid tersebut mengalami “penghancuran terburuk status historis dan hukumnya di zaman modern,” khususnya sepanjang tahun 2025.[10] Dewan tersebut menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa otoritas Israel dan kelompok-kelompok Yahudi ekstremis baru-baru ini telah melakukan “pelanggaran yang mencolok dan belum pernah terjadi sebelumnya,” termasuk “serangan besar-besaran ke halaman Masjid Al-Aqsa, penodaan kesuciannya, dan upaya untuk mengubah identitas Islamnya” melalui praktik-praktik ekstremis Yahudi seperti ritual Talmud, nyanyian, tarian, pengibaran bendera, dan bahkan persembahan hewan dan tumbuhan di dalam kompleks tersebut.[11]
Kondisi Masjid Al-Aqsa hari ini mencerminkan wajah nyata penjajahan yang tidak hanya bersenjata, tetapi juga ideologis dan spiritual. Israel secara sistematis berupaya menghapus identitas Islam dari Yerusalem Timur melalui politik pemukiman, pembagian akses ibadah, hingga upaya memaksakan ritual Yahudi di jantung Al-Aqsa. Provokasi berulang seperti yang dilakukan Itamar Ben-Gvir hanyalah puncak dari proyek panjang yahudisasi yang mengancam kesucian dan eksistensi situs suci ini.
Di tengah situasi tersebut, dunia Islam dituntut untuk tidak hanya bereaksi emosional, tetapi membangun solidaritas yang terarah dan berkelanjutan. Masjid Al-Aqsa bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan bagian dari martabat dan identitas umat Islam di seluruh dunia. Menjaganya berarti mempertahankan keutuhan sejarah, spiritualitas, dan hak kemanusiaan bangsa Palestina atas tanah air mereka sendiri.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
[1] Bahron Ansori, “Palestina dan Masa Depan Al-Aqsa: Apa yang Bisa Dilakukan Umat Islam?”, Mi’raj News Agency, April 9, 2025. https://minanews.net/palestina-dan-masa-depan-al-aqsa-apa-yang-bisa-dilakukan-umat-islam/
[2] Bahron Ansori, “Palestina dan Masa Depan Al-Aqsa: Apa yang Bisa Dilakukan Umat Islam?”, Mi’raj News Agency, April 9, 2025. https://minanews.net/palestina-dan-masa-depan-al-aqsa-apa-yang-bisa-dilakukan-umat-islam/
[3] Spirit of Aqsa, “3 Rencana Yahudisasi Penjajah Israel dan Ubah Identitas Masjid Al-Aqsa”, Spirit of Aqsa, November 1, 2022. https://spiritofaqsa.or.id/3-rencana-yahudisasi-penjajah-israel-dan-ubah-identitas-masjid-al-aqsa.html
[4] Spirit of Aqsa, “3 Rencana Yahudisasi Penjajah Israel dan Ubah Identitas Masjid Al-Aqsa”, Spirit of Aqsa, November 1, 2022. https://spiritofaqsa.or.id/3-rencana-yahudisasi-penjajah-israel-dan-ubah-identitas-masjid-al-aqsa.html
[5] Spirit of Aqsa, “3 Rencana Yahudisasi Penjajah Israel dan Ubah Identitas Masjid Al-Aqsa”, Spirit of Aqsa, November 1, 2022. https://spiritofaqsa.or.id/3-rencana-yahudisasi-penjajah-israel-dan-ubah-identitas-masjid-al-aqsa.html
[6] Spirit of Aqsa, “3 Rencana Yahudisasi Penjajah Israel dan Ubah Identitas Masjid Al-Aqsa”, Spirit of Aqsa, November 1, 2022. https://spiritofaqsa.or.id/3-rencana-yahudisasi-penjajah-israel-dan-ubah-identitas-masjid-al-aqsa.html
[7] Sada News, “Ben Gvir Storms Al-Aqsa Mosque Courtyard”, Sada News, October 14, 2025. https://www.sadanews.ps/en/news/240307.html
[8] Rania Abu Shamala, “Far-right Israeli minister storms flashpoint Al-Aqsa Mosque in occupied East Jerusalem”, Anadolu Agency, October 8, 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/far-right-israeli-minister-storms-flashpoint-al-aqsa-mosque-in-occupied-east-jerusalem/3710691
[9] Abdel Raouf Arnaout and Betul Yilmaz, “Far-right Israeli minister storms Jerusalem’s Al-Aqsa Mosque for 2nd time in week”, Anadolu Agency, October 14, 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/far-right-israeli-minister-storms-jerusalem-s-al-aqsa-mosque-for-2nd-time-in-week/3716815
[10] TRT World, “Israel’s far-right minister Ben-Gvir storms Al-Aqsa Mosque again under heavy police protection”, TRT World, October 14, 2025. https://www.trtworld.com/article/b87d40c49ea3
[11] Abdel Raouf Arnaout and Betul Yilmaz, “Far-right Israeli minister storms Jerusalem’s Al-Aqsa Mosque for 2nd time in week”, Anadolu Agency, October 14, 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/far-right-israeli-minister-storms-jerusalem-s-al-aqsa-mosque-for-2nd-time-in-week/3716815