Beirut, NPC – Beberapa hari lalu, sebagaimana dilansir The Cradle, pada Jumat (17/10/2025), Israel melakukan serangan terbesar ke Lebanon sejak perjanjian gencatan senjata tahun lalu, dengan melancarkan puluhan serangan udara berat di wilayah selatan dan kawasan Bekaa bagian timur.
Sebuah pabrik aspal di dekat kota Ansar dan Senay menjadi sasaran beberapa serangan Israel yang menyebabkan kerusakan luas. Selain itu, sebuah tambang batu dan sebuah tangki diesel juga hancur dalam serangan tersebut.
Israel juga membombardir desa Al-Kawthariya dan Al-Siyad di selatan Lebanon. Sebuah serangan udara mengenai kota Shmastar di wilayah Bekaa, membunuh satu orang penduduk Lebanon.
Sebelumnya pada hari yang sama, serangan drone Israel menargetkan wilayah Ali Taher yang menghadap Nabatieh Fawqa, serta Bukit Dabbash dekat Kfar Remman. Pesawat tempur juga menyerang desa Bnaafoul dekat Saida.
Rekaman video dari serangan tersebut menunjukkan ledakan besar. Secara total, sedikitnya 30 serangan udara dilakukan. Militer Israel mengklaim menargetkan infrastruktur Hezbollah dan organisasi lingkungan “Green Without Borders,” yang dituduh Washington dan Tel Aviv mendukung Hezbollah.
Belakangan ini, Israel meningkatkan serangannya terhadap Lebanon. Pada malam 11 Oktober, pesawat tempur Israel melancarkan serangkaian serangan udara intens di sepanjang Jalan Musaylih di selatan Lebanon, memutuskan jalur utama dan menyebabkan sebagian besar wilayah selatan gelap setelah memutuskan jalur listrik utama. Peralatan rekonstruksi juga hancur. Bulan lalu, lima orang meninggal dunia dalam serangan Israel di kota Bint Jbeil, termasuk tiga anak-anak.
Sejak gencatan senjata dicapai pada November tahun lalu, lebih dari 300 orang, termasuk banyak penduduk sipil, meninggal dunia akibat serangan Israel di Lebanon. Israel juga memperluas pendudukan yang dibangun selama gencatan senjata, melanggar kesepakatan gencatan senjata, dan Tel Aviv menyatakan tidak akan mundur sebelum Hezbollah dilucuti senjata. Washington secara terbuka mendukung sikap Israel.
Pemerintah Lebanon mengadopsi keputusan untuk melucuti senjata Hezbollah pada Agustus di bawah tekanan berat dari AS. Namun, Hezbollah menolak keputusan tersebut. Mereka menyatakan terbuka untuk membahas strategi pertahanan nasional yang akan mengintegrasikan senjata mereka ke dalam tentara Lebanon dan digunakan jika diperlukan untuk mempertahankan negara.
Kelompok perlawanan Lebanon, khususnya Hizbullah menegaskan bahwa pembicaraan ini tidak dapat berlangsung selama Israel terus menyerang Lebanon dan menduduki wilayahnya di selatan.
(T.FJ/S: The Cradle)