Dari wacana gencatan senjata hingga digelarnya KTT Sharm el-Sheikh, dunia disuguhi dua narasi yang berbeda tentang arah penyelesaian konflik di Gaza.
Di panggung depan, sorotan tertuju pada Donald Trump yang tampil sebagai arsitek perdamaian besar, dengan mengklaim keberhasilan diplomasi yang disebut-sebut akan mengakhiri penderitaan panjang rakyat Palestina. Namun, di balik gegap gempita itu, terselip narasi lain yang jauh lebih dalam dan sarat makna, yakni narasi yang diungkap oleh penulis dan analis politik Israel, Aluf Benn, melalui tulisannya di Haaretz (12/10/2025).
Benn menyingkap adanya mekanisme lama yang selama ini tersembunyi di balik hubungan erat AS–Israel: sebuah pola klasik di mana Amerika memberi dan menarik kembali dukungannya kepada Israel sesuai dengan kepentingan strategisnya. Pola inilah, kata Benn, yang sesungguhnya menjadi jantung dari hubungan AS–Israel; relasi yang lebih kuat daripada slogan “persahabatan abadi” yang kerap mereka kumandangkan di hadapan dunia.

Di tengah Konferensi Tingkat Tinggi Sharm el-Sheikh, sorotan utama tertuju pada Presiden Donald Trump. Ia tidak datang ke Mesir untuk meratapi perang dua tahun yang telah menghancurkan banyak hal, melainkan untuk merayakan sebuah pencapaian yang ia anggap sebagai karya besarnya. Gencatan senjata ini menjadi panggung baginya untuk membangun citra sebagai seorang juru damai yang hebat, sosok yang berhasil menyelesaikan konflik di saat presiden-presiden Amerika sebelumnya selalu gagal.
Namun, di balik semua peristiwa itu, Aluf Benn menilai ada sebuah kebiasaan lama yang kembali dimainkan. Ini adalah sebuah “permainan” yang sudah sering dilakukan oleh para penguasa Gedung Putih: mereka membiarkan Israel bertindak agresif, namun selalu siap menarik tali kekang jika sekutunya itu dianggap sudah melangkah terlalu jauh.
Aturan main dari permainan ini sebenarnya sangat sederhana, meskipun jarang dibicarakan secara terbuka. Bagi Washington, penderitaan yang dialami rakyat Palestina bukanlah alasan utama untuk bertindak. Lonceng alarm di Gedung Putih baru akan berbunyi nyaring ketika tindakan militer Israel mulai membahayakan kepentingan strategis Amerika di kawasan itu, atau berisiko merusak rencana besar Washington di Timur Tengah.
Pada saat itulah Washington akan turun tangan dan berkata, “Cukup.” Dan saat perintah itu datang, semua janji-janji kemenangan dan klaim hebat yang diucapkan para pemimpin Israel seolah menguap begitu saja. Mereka terpaksa menelan kembali kata-kata mereka dan patuh pada kehendak sekutu terkuatnya.
Untuk membuktikan pendapatnya, Aluf Benn merujuk pada beberapa kejadian penting dalam sejarah. Ia menjelaskan bahwa pola ini bukanlah hal baru.
Misalnya, pada Perang 1948, Amerika-lah yang memerintahkan Israel untuk menghentikan serangannya dan menarik semua pasukannya dari wilayah Mesir.
Hal serupa terulang kembali pada tahun 1956, saat Perdana Menteri David Ben-Gurion berhasil merebut Semenanjung Sinai. Ben-Gurion dengan bangganya berpidato di hadapan parlemen Israel, menyebut operasi militer itu sebagai salah satu yang termegah dalam sejarah manusia. Namun, kebanggaan itu tidak bertahan lama. Presiden AS saat itu, Dwight Eisenhower, langsung bertindak bersama Uni Soviet dan memaksa Israel untuk angkat kaki dari Sinai hanya sehari setelahnya, yang kemudian diikuti dengan penarikan dari Jalur Gaza.
Menurut Benn, Amerika seolah memegang kendali waktu diplomasi. Mereka akan memulai atau menghentikan sebuah konflik sesuai dengan kebutuhan dan perhitungan strategis mereka demi menjaga stabilitas di antara sekutu-sekutunya yang saling berseteru.
Pola yang sama, kata Benn, kini diikuti oleh Donald Trump. Ia memang memberi lampu hijau saat Israel menyerang fasilitas nuklir Iran pada Juni lalu. Tetapi, ketika Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terbawa euforia kemenangan dan ingin melangkah lebih jauh untuk menggulingkan rezim di Teheran, Trump segera menghentikannya. Ia memerintahkan pesawat-pesawat tempur Israel yang sudah mengudara menuju Iran untuk segera putar balik.
Benn menyimpulkan polanya dengan sangat jelas: “Amerika bersedia melindungi Israel dari ancaman kehancuran,” tulisnya, “tetapi mereka tidak akan membiarkan Israel menentukan siapa yang berkuasa di Timur Tengah.”
Pandangan Aluf Benn menyingkap sisi gelap dari hubungan yang kerap disebut “tidak tergoyahkan” antara AS-Israel. Hubungan itu bukan sekadar aliansi politik atau komitmen moral, melainkan kontrak kekuasaan yang sarat dengan kalkulasi. Amerika memanfaatkan Israel sebagai alat tekan regional, sementara Israel menunggangi perlindungan Amerika untuk memperluas ambisi militernya. Namun, seperti yang ditunjukkan sejarah, kendali akhir selalu berada di tangan Washington.
Pola ini menunjukkan bahwa setiap gencatan senjata, setiap perjanjian damai, dan bahkan setiap eskalasi militer tidak sepenuhnya ditentukan oleh dinamika internal kawasan, tetapi oleh keseimbangan kepentingan global Amerika Serikat. Israel mungkin tampak sebagai aktor yang dominan di lapangan, namun pada akhirnya, ia tetap berada di bawah bayang-bayang strategi besar Gedung Putih.
Pada akhirnya, analisis Benn mengingatkan bahwa hubungan AS–Israel tidak bisa dibaca semata melalui retorika publik yang manis, tetapi harus dipahami sebagai simbiosis yang dibangun atas dasar kepentingan, bukan kesetiaan. Selama mekanisme lama itu tetap berlaku, perdamaian sejati di Timur Tengah akan tetap menjadi janji yang ditunda—sebuah ilusi yang terus dipelihara demi kepentingan kekuasaan.
Penulis: Fuad Nur Zaman