Gaza Bangkit dari Abu Genosida, Menjahit Ulang Kehidupan dengan Benang Harapan

Jalur Gaza, NPC – Suara takbir dan zaghārīd menggema di seluruh penjuru Gaza. Warga tumpah ke jalan, anak-anak menari di antara reruntuhan, dan perempuan menyalakan lilin di depan tenda-tenda pengungsian. Setelah dua tahun penuh darah dan kehancuran, berita tentang berakhirnya genosida Israel terhadap Jalur Gaza disambut dengan air mata bahagia.

Siang itu, Gaza hidup kembali. Namun malamnya menghadirkan kebahagiaan yang lebih dalam, kebahagiaan yang lahir dari keheningan. Setelah dua tahun tidur di bawah suara pesawat tempur dan dentuman bom, malam Gaza kini tenang untuk pertama kalinya. Tak ada drone, tak ada Apache, tak ada kilatan rudal yang selama dua tahun ini memadati langit Gaza.

“Untuk pertama kalinya sejak genosida dimulai, aku tidur tanpa suara zannānah (drone), tanpa Apache, tanpa ledakan,” ujar Salim Syahatah.

“Meski hidup di bawah terpal robek, ketenangan malam itu membuatku lupa sejenak tentang kerasnya hidup di pengungsian,” ujar pria 45 tahun yang tinggal di tenda pengungsian di kawasan Syujaiyah tersebut.

Warga lain, Yasmin Sa’du, 34 tahun, yang kehilangan anaknya dalam serangan terhadap sekolah Syahibir di Kamp Pengungsi Syati’, menggambarkan malam pertama gencatan senjata sebagai malam yang benar-benar tenang. “Anak-anakku tidur tanpa ketakutan, tanpa terbangun oleh bom. Saya sendiri tidur sambil berdoa agar malam seperti ini tidak lagi menjadi langka,” ujarnya lirih.

Ruba Hamid, gadis berusia 12 tahun yang selamat dari serangan di rumah keluarganya di Hayy al-Ṣabra, mengaku baru kali ini bisa tidur tanpa mimpi buruk. “Sebelumnya aku selalu bermimpi melihat darah. Tapi semalam, aku tidur nyenyak. Aku tidak takut mati sendirian lagi,” katanya dengan senyum kecil.

Meskipun gencatan senjata diumumkan, empat warga Gaza masih menjadi korban jiwa akibat ledakan yang terdengar di beberapa wilayah pada hari yang sama. Namun suasana umum di kota mulai berubah. Langit bersih tanpa asap, dan dunia seolah berhenti sejenak setelah dua tahun penuh maut.

Presiden AS Donald Trump dalam pernyataannya Kamis malam lalu mengumumkan tercapainya kesepakatan “tahap pertama rencana perdamaian Timur Tengah,” yang mencakup penghentian agresi di Gaza, penarikan pasukan Israel, pembukaan akses bantuan kemanusiaan, dan pertukaran tawanan.

Sejak 7 Oktober 2023, genosida Israel telah menelan lebih dari 67.000 warga Palestina dan melukai sekitar 170.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Lebih dari 80% rumah dan infrastruktur Gaza hancur, menjadikan wilayah itu nyaris tanpa kehidupan. Di tengah kehancuran itu, rakyat Gaza mencoba bangkit, menolak menyerah pada puing dan debu.

Kini, setelah tiga hari gencatan senjata, Gaza hidup dalam “ketenangan yang ganjil,” seolah mengambil napas setelah diterpa badai dahsyat. Di jalan-jalan yang porak poranda, orang-orang berjalan di antara reruntuhan, mencari sisa-sisa kehidupan mereka. Sebagian menunggu kabar keluarga yang hilang, sebagian lain mulai menanam kembali bunga di depan tenda.

Adnan Abu Hasna, juru bicara UNRWA, mengatakan lembaga PBB itu siap menyalurkan bantuan segera setelah pintu perbatasan dibuka. “Kami memiliki 12 ribu staf yang bekerja di lapangan bahkan selama perang. Lebih dari 170 diantaranya gugur. Kami butuh dukungan penuh untuk rakyat Gaza baik makanan, obat-obatan, dan tempat tinggal,” ujarnya.

Program Pangan Dunia (WFP) juga mengumumkan kesiapan mengirim 170 ribu ton bahan makanan ke Gaza, cukup untuk tiga bulan ke depan. UNICEF menyiapkan lebih dari 1.300 truk bantuan berisi tenda, obat, dan perlengkapan pendidikan. Dunia seolah kembali bergerak, dan Gaza kembali berada di peta perhatian umat manusia.

Namun, dibalik harapan itu, duka belum sepenuhnya surut. Ghadeh Ismail, seorang ibu yang kehilangan 23 anggota keluarganya, termasuk suami, anak-anak, dan cucu, berkata dengan suara lirih, “Hari-hari perang sudah berlalu, tapi aku merasa perang baru saja dimulai. Aku menunggu kabar tentang anakku yang ditahan Israel. Hanya dia yang tersisa.”

Sementara itu, Ihab Abu ‘Audah menegaskan bahwa meski luka masih dalam, semangat warga Gaza tak akan padam. “Kami bertahan dari genosida dan menolak diusir. Gaza akan hidup lagi—lebih indah, lebih kuat.”

Kini, di antara abu, air mata, dan sisa-sisa reruntuhan, Gaza mencoba menyulam kembali kehidupannya. Mereka tahu rumah-rumah bisa hancur, tapi tidak dengan tekad. Bom bisa menghancurkan bangunan, tapi tidak bisa membunuh harapan. Bagi rakyat Gaza, gencatan senjata ini bukan akhir dari penderitaan—melainkan awal dari kehidupan baru yang sedang mereka jahit, benang demi benang, dari abu genosida.

(T.RS/S:Wafanews)

You might also like