Gaza, NPC – Kantor Media Pemerintah Palestina di Jalur Gaza, pada Senin (06/10/2025), mengumumkan bahwa tingkat kehancuran di wilayah tersebut telah mencapai sekitar 90 persen setelah dua tahun perang yang dilancarkan Israel.
Dalam pernyataannya, kantor tersebut menyebutkan bahwa 38 rumah sakit telah hancur atau tidak lagi berfungsi, dan 95 persen sekolah mengalami kerusakan total atau sebagian akibat serangan udara. Sementara itu, militer Israel kini menguasai sekitar 80 persen wilayah Jalur Gaza.
Disebutkan pula bahwa lebih dari 200 ribu ton bahan peledak telah dijatuhkan ke Gaza sejak awal agresi militer.
Jumlah korban jiwa dan orang hilang dilaporkan mencapai 76.639 orang, termasuk 9.500 orang yang masih dinyatakan hilang. Sementara itu, jumlah korban luka mencapai 169.583 orang, di antaranya 4.800 mengalami amputasi dan 1.200 lainnya menderita kelumpuhan.
Kantor Media Pemerintah Palestina juga mengungkapkan bahwa sebanyak 2.700 keluarga telah “hilang dari catatan kehidupan”, seluruh anggotanya meninggal dunia dalam serangan.
Selain itu, lebih dari 12 ribu kasus ibu hamil keguguran tercatat, akibat kekurangan gizi dan minimnya layanan kesehatan. Sebanyak 460 penduduk Palestina meninggal dunia karena kelaparan dan kekurangan gizi, yang disebabkan oleh blokade dan terbatasnya pasokan bantuan kemanusiaan.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dalam pernyataan resmi, pada Minggu (05/10/2025), melaporkan bahwa lebih dari 370 stafnya di Jalur Gaza telah meninggal dunia sejak 7 Oktober 2023, akibat serangan Israel yang terus berlangsung hingga kini.
UNRWA menyebut bahwa sekitar 80 persen infrastruktur bangunan di Gaza telah hancur atau mengalami kerusakan akibat serangan militer Israel.
Lebih dari 1,9 juta rakyat Palestina atau lebih dari 80 persen populasi Gaza, terpaksa mengungsi, banyak di antaranya bahkan harus mengungsi berulang kali. UNRWA mencatat bahwa hampir setiap keluarga di Gaza telah mengalami pengusiran sedikitnya satu kali sejak awal konflik.
Usai operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Israel pada Maret 2025, lebih dari 1,2 juta rakyat Palestina meninggalkan Kota Gaza hanya dalam hitungan hari. Pada Juli 2025, pemerintah Israel menyetujui rencana untuk secara bertahap menduduki kembali seluruh wilayah Gaza, dimulai dari bagian utara.
Surat dari Dokter di Gaza: Tenaga Medis Meninggal Setiap Hari, Tolong Hentikan Genosida Ini
Di luar darurat kemanusiaan yang sedang berlangsung, Gaza juga menghadapi bencana lingkungan berskala besar. Dalam laporan yang diterbitkan September 2025, Program Lingkungan PBB (UNEP) memperingatkan bahwa kerusakan lingkungan di Gaza bisa memerlukan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan. Akses terhadap air bersih hampir tidak tersedia, sistem sanitasi runtuh, dan lapisan air tanah serta perairan pesisir tercemar.
UNEP mencatat bahwa sebanyak 97 persen pohon-pohon pertanian di Gaza telah hancur, 95 persen rumah kaca pertanian rusak, dan 82 persen tanaman musiman musnah.
Kondisi ini menjadikan produksi pangan lokal nyaris mustahil dilakukan. Di sisi lain, infrastruktur perkotaan Gaza juga luluh lantak. Dari sekitar 250 ribu bangunan, sebanyak 78 persen mengalami kerusakan atau hancur total.
Sebanyak 61 juta ton puing kini menumpuk di wilayah tersebut, dan diperkirakan 15 persen di antaranya terkontaminasi oleh asbes, bahan kimia berbahaya, atau logam berat. Kombinasi polusi udara, air, dan tanah menimbulkan ancaman kesehatan serius jangka panjang, khususnya bagi anak-anak.
(T.FJ/S: RT Arabic)