Genosida Budaya di Gaza: Lenyapnya Warisan Budaya dan Sejarah

Tempat ibadah dan situs arkeologi tak luput dari serangan militer Israel. Foto: Mohammed Dahman/AP Photo

Sejak 7 Oktober 2023, serangan militer Israel di Jalur Gaza tidak hanya menelan korban jiwa dan menimbulkan krisis kemanusiaan, tetapi juga meluluhlantakkan warisan budaya yang usianya ribuan tahun. Gaza sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah tertua di dunia yang dihuni manusia sejak abad ke-15 SM dan meninggalkan jejak berbagai peradaban besar, mulai dari Mesir kuno, Asyur, Romawi, Bizantium, hingga Islam. Kini, situs-situs bersejarah itu porak-poranda dihantam bom. Lebih dari sekadar bangunan, penghancuran ini adalah upaya sistematis Zionis untuk menghapus identitas sekaligus sejarah panjang bangsa Palestina.

Jalur Gaza dan Kekayaan Warisan Sejarah Lintas Peradaban

Sejak peristiwa Nakba tahun 1948, istilah “Jalur Gaza” merujuk pada wilayah pesisir sempit di selatan Palestina sepanjang 40 kilometer dengan lebar 6–8 mil kilometer, meski secara historis Gaza kuno mencakup kawasan yang jauh lebih luas. Saat ini Gaza dihuni lebih dari 2,3 juta jiwa,[1] sekitar 70% di antaranya merupakan pengungsi dan keturunan yang terusir akibat perang 1948 hingga 1949. Sejak 1967, rakyat Gaza hidup di bawah pendudukan Israel yang keras, dan sejak diberlakukannya blokade pada 2007, mobilitas penduduk maupun arus barang semakin dibatasi.[2] Meskipun kecil dan terkepung, Gaza tetap menyimpan kekayaan situs arkeologi dan sejarah.

Survei arkeologi selama seabad terakhir mencatat lebih dari 130 situs bersejarah tersebar di berbagai wilayah Gaza, mulai dari Kota Gaza, Khan Yunis, Deir al-Balah, Rafah, Bayt Hanun, hingga sejumlah kamp pengungsi. Sisa-sisa permukiman kuno, bangunan keagamaan, dan struktur arsitektur lainnya menjadi bukti sejarah yang berakar kuat di tanah ini. Terletak di pesisir timur Mediterania, Gaza juga pernah menjadi simpul penting rute perdagangan dan budaya, termasuk rute kuno Via Maris sejak sekitar 1300 SM yang menghubungkan Mesir hingga Suriah. Keragaman peninggalan dari peradaban Mesir kuno, Asyur, Persia, Yunani, hingga Romawi, menegaskan posisi Gaza sebagai titik pertemuan peradaban.[3]

Lebih dari sekadar peninggalan arkeologis, situs-situs ini menjadi bagian penting dari identitas kolektif bangsa Palestina. Kini, warisan tersebut menghadapi ancaman serius. Hingga 27 Mei 2025, UNESCO mengonfirmasi sedikitnya 110 situs budaya di Gaza rusak atau hancur akibat genosida Israel sejak 7 Oktober 2023, mencakup 13 situs keagamaan, 77 bangunan bersejarah dan publik, 3 lokasi penyimpanan benda bergerak, 9 monumen, 1 museum, serta 7 situs arkeologi.

 

Kerusakan Warisan Sejarah akibat Serangan Militer Israel

1. The Great Omari Mosque (Masjid Agung Omari)

The Great Omari Mosque (Masjid Agung Omari) Sebelum (kiri) dan Setelah Serangan Israel pada Februari 2025/Foto: Fadel Al Utol

Masjid ini diyakini sebagai masjid pertama di Jalur Gaza yang berdiri pada abad ke-7 M di atas jejak panjang peradaban, mulai dari kuil Kanaan, gereja Bizantium, hingga katedral era Tentara Salib. Pada abad ke-12 M, Penakluk dinasti Ayyubiyah, Salahuddin Al-Ayyubi, mengembalikan fungsinya sebagai masjid setelah sebelumnya diubah tentara Salib. Bangunan ini kemudian diperluas pada masa Dinasti Mamluk dan sejak 1291 menjadi pusat ibadah, pertemuan, sekaligus kegiatan budaya masyarakat Gaza.

Selain arsitekturnya yang bersejarah, masjid ini menyimpan salah satu koleksi buku langka paling penting di Palestina, termasuk manuskrip abad ke-14 M. Lebih dari 200 di antaranya bahkan sempat didigitalkan pada 2022. Namun, pada 8 Desember 2023, masjid beserta perpustakaannya hancur total akibat serangan udara Israel.[4]

2. Greek Orthodox Saint Porphyrius Church (Gereja Ortodoks Santo Porfirios)

Gereja Porfirios yang digunakan warga sebagai tempat berlindung hancur akibat serangan udara Israel. Sumber: Reuters

Gereja ini dianggap sebagai gereja ketiga tertua di dunia yang dibangun pada tahun 425 M di atas fondasi situs pagan kuno. Dinamai Santo Porfirios karena ia merupakan uskup Bizantium Gaza yang dimakamkan di dalamnya. Bangunan ini sempat beralih fungsi menjadi masjid pada abad ke-7 M, tetapi dikembalikan sebagai gereja pada 1150-an ketika Tentara Salib berkuasa. Gereja kemudian direnovasi pada 1856 M dan sejak itu menjadi pusat ibadah komunitas Kristen Gaza.

Namun, pada 19 Oktober 2023, serangan udara Israel menghancurkan bagian besar gereja, merobohkan dinding dan lantai, serta menewaskan sedikitnya 16–20 warga Kristen Palestina, termasuk keluarga yang sedang berlindung. Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengecam pengeboman ini sebagai kejahatan perang. Dalam serangan yang sama, masjid Katib al-Wilaya bergaya Ottoman yang berdampingan dengan gereja juga ikut rusak.[5]

3. Hammam al-Sammara

Hamam al-Samara masih berfungsi pada 2021, tapi tampak hancur pada Januari 2024. Sumber: Getty Images (The Guardian)

Hammam al-Sammara, atau Pemandian Samaria, merupakan satu-satunya pemandian bersejarah yang tersisa di Gaza dan diyakini telah berdiri sejak sebelum Islam. Pemandian ini kemungkinan dibangun oleh komunitas Samaria, sebuah sekte keagamaan Yahudi yang tinggal di kawasan Zeitoun. Situs ini pernah dipugar pada 1320 M oleh penguasa Mamluk, Alamuddin Sanjar al-Jawli bin Abdullah, dan sejak itu menjadi ruang penting bagi warga Gaza untuk bersosialisasi serta memperoleh pengobatan tradisional di bawah kubah-kubahnya yang khas.[6]

Dengan lantai marmer berpola rumit dan sistem pemanas berbasis oven kayu bakar, pemandian ini berfungsi sebagai pusat kehidupan sosial hingga masa modern. Selama era Ottoman, pengelolaannya diwariskan turun-temurun melalui keluarga al-Wazir, yang hingga 2023 masih merawatnya sebagai bagian dari memori kolektif Gaza. Namun, pada 8 Desember 2023, pemandian berusia lebih dari tujuh abad ini menjadi sasaran serangan Israel. Bagi penjaganya, Salim al-Wazir,[7] kehancuran Hammam al-Sammara bukan sekadar kehilangan bangunan bersejarah, melainkan juga lenyapnya tempat yang menyatukan masyarakat, sejarah keluarga, dan simbol identitas budaya Gaza.

 

4. The Byzantine Church in Jabalia (Gereja Bizantium di Jabalia)

Gereja Bizantium di Jabalia, yang  juga dikenal sebagai Mukheitim, dibangun pada 444 M pada masa Kaisar Theodosius II. Lokasinya berada di Jabalia, Gaza Utara, yang saat itu merupakan pusat perdagangan dan budaya penting Bizantium. Berdasarkan catatan arkeologis, bangunan ini dulunya terdiri dari kompleks basilika, baptisterium, dan pemakaman. Arsitekturnya dihiasi mosaik berwarna-warni bergambar hewan, adegan berburu, pohon palem, serta memuat tidak kurang dari 16–17 inskripsi Yunani kuno.[8]

Kondisi Gereja Bizantium yang terkena serangan militer Israel. Foto: Everyday Orientalism

Situs ini kembali ditemukan pada 1997 ketika proyek pembangunan Jalan Salah al-Din tengah berlangsung, lalu direstorasi antara 2019–2022 melalui kerja sama dengan lembaga internasional. Namun, situs bersejarah tersebut hancur akibat serangan udara Israel pada Oktober 2023, meski sebagian mosaik dilaporkan masih bertahan. Kunjungan arkeolog Gaza, Fadel Al-Utol, pada Januari 2025 menunjukkan bagaimana reruntuhan gereja kini menjadi saksi bisu hilangnya warisan Bizantium sekaligus memori kolektif rakyat Palestina yang ikut menjadi korban pendudukan.[9]

 

 

5. Anthedon Harbour (Blakhiyeh)

Blakhiyeh sebelum (atas) dan sesudah (bawah) serangan di Gaza sejak Oktober 2023. Sumber: Arij.net

Pelabuhan kuno Anthedon, yang dikenal sebagai Blakhiyeh, terletak di bagian barat laut Gaza yang langsung menghadap pantai. Kota ini sudah dihuni sejak 800 SM hingga 1100 M dan menjadi saksi percampuran berbagai peradaban besar seperti Neo-Asyur, Babilonia, Persia, Yunani, Romawi, Bizantium, hingga pemerintahan Islam awal (Umayyah, Abbasiyyah, Tuluniyah, dan Fatimiyah). Situs ini memiliki nilai penting karena menunjukkan jejak pertukaran budaya di jalur perdagangan yang menghubungkan Mesir, Bulan Sabit Subur, Afrika, Timur Tengah, hingga Eropa, serta meninggalkan warisan arsitektur dengan teknik bangunan beragam.[10]

Anthedon juga memiliki pelabuhan penting, akropolis, serta berbagai struktur monumental dari periode akhir Zaman Besi II, Persia, Helenistik, Romawi, dan Bizantium. Namun, sejak invasi Israel ke Gaza pada Oktober 2023, situs ini turut menjadi target penghancuran. Serangan dan perataan dengan buldoser mengubah area tersebut menjadi hamparan pasir penuh kawah, menghilangkan sisa-sisa mosaik, benteng, dan monumen yang sebelumnya masih bertahan. Citra satelit dan dokumentasi arkeolog Fadel Alatel mengonfirmasi bahwa situs yang sempat diusulkan masuk Daftar Warisan Dunia UNESCO itu kini mengalami kehancuran akibat sasaran militer Israel.[11]

 

6. Qasr al-Basha

Kondisi Qasr al-Basha sebelum dan sesudah ditarget Israel. Sumber tertera.

Qasr al-Basha, juga dikenal sebagai Kastil Radwan atau Benteng Napoleon, merupakan salah satu bangunan bersejarah paling penting di Kota Tua Gaza. Dibangun pada abad ke-13 M pada masa sultan Mamluk Al-Zahir Baybars, istana ini pernah menjadi pusat kekuasaan Mamluk dan Ottoman, tempat tinggal gubernur Gaza, kantor polisi di bawah Mandat Inggris, sekaligus difungsikan sebagai sekolah putri pada masa berikutnya. Istana ini menampilkan ciri khas arsitektur Mamluk-Ottoman, dengan aula berkubah, arkade batu, dan ukiran dekoratif. Pada 1799 M, Napoleon Bonaparte bahkan sempat bermalam di sana selama kampanye militernya.[12]

Pada periode modern, bangunan ini direstorasi oleh Kementerian Pariwisata dan Purbakala Palestina dan difungsikan sebagai museum yang menyimpan banyak artefak. Namun, serangan udara Israel pada Desember 2023 menghancurkan sebagian besar strukturnya, menyisakan hanya sedikit bagian dinding. Laporan lapangan menunjukkan bahwa rudal dan buldoser Israel meratakan bangunan ini. Dari simbol sejarah, Qasr al-Basha kini berubah menjadi puing-puing yang mencerminkan hilangnya jejak peradaban Gaza.[13]

 

Penulis: Nadea Salsabila Putri


Sumber:

[1] Dalam catatan OCHA, mengutip data Kementerian Kesehatan Palestina pada 10 September 2025, jumlah penduduk Gaza berjumlah 2,1 juta jiwa.

[2] Hamdan Taha, “Destruction of Cultural Heritage in Gaza,” Institute for Palestine Studies, 2024, 45–46.

[3] “A ‘Cultural Genocide’: Which of Gaza’s Heritage Sites Have Been Destroyed?,” Aljazeera, January 14, 2024, https://www.aljazeera.com/news/2024/1/14/a-cultural-genocide-which-of-gazas-heritage-sites-have-been-destroyed.

[4] Abdurrahman Mohamed, Dialectics of Architectural Heritage in Palestine (All Sciences Academy, 2024), 100–102; “Israeli Damage to Archives, Libraries, and Museums in Gaza, October 2023–January 2024,” Librarians and Archivists with Palestine, February 1, 2024, 3.

[5] Aljazeera, “A ‘Cultural Genocide’: Which of Gaza’s Heritage Sites Have Been Destroyed?”; Taha, “Destruction of Cultural Heritage in Gaza,” 53.

[6] Aljazeera, “A ‘Cultural Genocide’: Which of Gaza’s Heritage Sites Have Been Destroyed?”; “Hammam Al-Samra: Pemandian Berusia 1000 Tahun, Jejak Peninggalan Kesultanan Mamluk Dan Imperium Utsmani,” Adara, February 3, 2024, https://adararelief.com/hammam-al-samra-pemandian-berusia-1000-tahun-jejak-peninggalan-kesultanan-mamluk-dan-imperium-utsmani/.

[7] Malak A Tantesh and Jason Burke, “‘I Will Spend My Life Rebuilding’: Gaza’s Heritage Sites Destroyed by War,” The Guardian, March 17, 2025, https://www.theguardian.com/world/2025/mar/17/i-will-spend-my-life-rebuilding-gaza-heritage-sites-destroyed-by-war.

[8] Cultural Heritage and Development (The World Bank, 2001).

[9] “Heritage First: Archaeological Update from Northern Gaza,” Everyday Orientalism, January 29, 2025, https://everydayorientalism.wordpress.com/2025/01/29/heritage-first-archaeological-update-from-northern-gaza/.

[10] “Anthedon Harbour,” UNESCO, April 2, 2012.

[11] Ahmed Ashour, Ahmed al-Tawil, and Amjad Yaghi, “Gaza’s Ancient Port of Blakhiyeh Crushed By Israeli Tanks,” ARIJ, July 21, 2024.

[12] “The Destruction of Qasr Al-Basha: Erasing Gaza’s Historical Identity,” The Palestinian Information Center, June 15, 2025, https://english.palinfo.com/Palestinian-Heritage/2025/06/15/341346/.

[13] “Qasr Al-Basha : Istana Bersejarah Dimusnahkan Israel,” X-Plorasi, https://www.x-plorasi.com/2024/01/qasr-al-basha-istana-bersejarah.html; The Palestinian Information Center, “The Destruction of Qasr Al-Basha: Erasing Gaza’s Historical Identity.”

You might also like