Catatan Pilu dari Gaza: Di Ambang Kehancuran, Saya Memilih Tetap Bertahan

Ditulis oleh: Ahmed Ahmed*

Gaza, NPC – Sudah sebulan sejak kabinet keamanan Israel menyetujui rencana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengambil alih kendali penuh atas Kota Gaza, sebuah operasi yang kemudian dijuluki Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, sebagai “Gideon’s Chariots II”.

Bagi kami yang masih bertahan di bagian-bagian kota yang belum sepenuhnya dihancurkan oleh Israel, pengumuman itu awalnya kami anggap sebagai perang psikologis, upaya menakut-nakuti kami agar pergi. Kami berharap, mungkin saja Israel tak akan menyerbu Kota Gaza lagi, mengingat sebagian besar kota ini sudah hancur jadi puing. Kami juga sempat berharap Presiden AS, Donald Trump, akan campur tangan, apalagi dengan kabar bahwa Hamas telah membuat sejumlah konsesi besar untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera.

Harapan itu lenyap ketika pasukan Israel mulai menjatuhkan selebaran evakuasi, memerintahkan warga untuk mengungsi ke apa yang mereka sebut sebagai “zona aman” di selatan Jalur Gaza. Tak lama kemudian, invasi darat pun dimulai, pertama di daerah tempat saya tinggal, Al-Sabra, tempat saya lahir dan dibesarkan, kemudian menyusul di Zeitoun, kawasan tempat tinggal banyak kerabat dan sahabat saya.

Pagi ini, militer Israel kembali meningkatkan ancaman terhadap penduduk sipil Palestina yang masih bertahan di kota. Mereka menuntut kami semua segera meninggalkan rumah. Namun, saya menolak. Meskipun tas saya sudah siap, dan saya tahu risikonya, saya memilih untuk tetap tinggal.

Sejak 13 Agustus, Kota Saya Dihujani Bom Tanpa Henti

Sejak 13 Agustus, pasukan Israel telah melancarkan gelombang serangan udara, tembakan artileri, dan serangan drone yang menghancurkan kota saya. Al-Sabra dan Zeitoun menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Blok demi blok bangunan rata dengan tanah. Ribuan orang telah mengungsi. Ribuan lainnya masih terjebak — tak bisa bergerak karena gempuran tanpa henti dan suara dengung drone yang terus-menerus memenuhi langit.

Mayat-mayat tergeletak di jalan-jalan, tak bisa dijangkau oleh tim penyelamat.

Di malam hari, robot-robot penghancur militer Israel yang dipersenjatai bahan peledak berkeliaran di jalan-jalan kota, menghancurkan sekitar 300 unit rumah setiap harinya. Ledakan biasanya terjadi di waktu dini hari, getarannya mengguncang tanah di sekitar saya. Jika saya sedang tidur, saya langsung terbangun dalam ketakutan. Kepala saya terasa berdenyut selama berjam-jam setelahnya.

Pengeboman terhadap gedung-gedung apartemen bertingkat, yang oleh Israel disebut sebagai “menara teroris,” menambah dimensi baru yang mengerikan dalam kampanye pembersihan etnis terbaru ini.

Salah satu target pertama dalam operasi ini adalah Menara Mushtaha, gedung 12 lantai di wilayah barat Kota Gaza yang dikelilingi tenda-tenda pengungsi. Beberapa jam setelah Israel mengeluarkan perintah evakuasi, jet-jet tempurnya menggempur bangunan itu, dengan dalih, tanpa bukti, bahwa Hamas menggunakannya untuk kepentingan militer.

Saya Masih Bertahan di Gaza. Tapi Sampai Kapan?

Beberapa gedung tinggi lainnya juga telah diratakan, termasuk Menara Soussi, sebuah bangunan 15 lantai yang dulu bisa saya lihat dari jendela rumah dan saya lewati setiap hari. Penghuninya hanya diberi waktu 20 menit untuk mengemasi barang-barang mereka sebelum rumah mereka dihancurkan.

Saat menara itu runtuh, debu dan puing-puing memenuhi apartemen kami. Saya dan keluarga terbatuk-batuk sambil menangis, berduka atas kehancuran lingkungan yang kami cintai, dan atas puluhan keluarga yang kini tiba-tiba kehilangan segalanya: rumah, makanan, dan masa depan.

Saat saya menulis ini, saya bisa mendengar deru tank dan buldoser Israel hanya beberapa kilometer dari rumah. Ratusan keluarga di lingkungan saya sudah mengungsi karena ketakutan, termasuk mereka yang sebelumnya menolak pergi selama invasi-invasi sebelumnya.

Saat saya memikirkan puluhan teman, kerabat, dan tetangga yang sudah terbunuh dalam genosida ini, saya bertanya-tanya: berapa banyak lagi yang akan saya kehilangan dalam beberapa hari ke depan? Wajah siapa yang akan saya lihat untuk terakhir kalinya? Dan apakah saya sendiri akan selamat?

Saya menyaksikan tetangga-tetangga saya pergi, mungkin untuk terakhir kalinya. Mungkin mereka akan terbunuh di jalan. Mungkin saya yang akan terbunuh.

Dengan keberuntungan semata, sejauh ini saya berhasil lolos dari cedera dan kematian. Saya telah belajar untuk hidup dalam mode bertahan hidup yang terasa permanen: saya bergerak cepat, menempel di dinding, berjalan di bawah pohon agar tidak terlihat oleh drone. Tangan saya selalu kosong, untuk menunjukkan saya bukan ancaman, walau bagi banyak korban Israel, itu tetap tidak cukup.

Saya tidak pernah pulang lewat jalan yang sama, dan sering berjalan zig-zag untuk menyulitkan bidikan sniper. Saya selalu siap menjatuhkan diri ke tanah kapan saja.

Ketakutan terbesar saya adalah bahwa sebuah rudal akan mencabik tubuh saya hingga tak bisa dikenali, atau bahwa saya akan terluka dan tak ada yang bisa menyelamatkan saya, tubuh saya dibiarkan untuk dimangsa hewan liar. Saya takut untuk keluar rumah, khawatir saya akan melintas tepat saat sebuah bangunan dibom.

Saya tahu, bahkan jika saya berhasil mencapai rumah sakit, tak ada sistem kesehatan yang masih berfungsi untuk menyelamatkan saya. Namun, saya tetap berkata kepada keluarga saya: saya tidak akan pergi.

Berlawanan dengan klaim Israel, tidak ada tempat yang aman bagi kami. Setelah mereka menghancurkan seluruh Kota Gaza, mereka akan terus bergerak ke Selatan, ke tempat yang mereka sebut sebagai “zona kemanusiaan”, tempat yang justru sekarang mereka arahkan kami untuk pergi. Israel ingin menghancurkan seluruh Gaza.

Al-Sabra dan Zeitoun adalah dua dari kawasan tertua dan terpadat di Kota Gaza, komunitas yang erat, tempat keluarga-keluarga telah tinggal bahkan sebelum Nakba 1948. Banyak warga mewarisi rumah dan usaha kecil dari orang tua mereka: toko roti di pojok jalan, bengkel kayu, studio penjahit, dan usaha tradisional seperti pengasinan sayur atau pengepresan zaitun.

Sebelum perang, saya sering menyusuri gang-gang sempitnya, selalu takjub oleh hal-hal kecil yang bermakna: rumah-rumah berdempetan seolah jadi satu blok, kakek-nenek duduk di ambang pintu saat sore hari dengan secangkir teh, melantunkan doa dan salam kepada siapa pun yang lewat. Tawa anak-anak menggema di antara lorong-lorong, dan aroma musakhan dan maqluba menguar dari jendela dapur. Warga di sini dikenal sangat ramah; tak jarang mereka menyambut orang asing dengan kehangatan, bahkan kadang mengundang makan siang hanya karena obrolan singkat di jalan.

Kami Pernah Bertanya: Ke Mana Kami Harus Pergi?

Pada November 2023, ketika Israel pertama kali mengancam akan menginvasi daerah kami, keluarga saya menolak pergi. Kami bertanya pada diri sendiri, seperti halnya setiap keluarga di Gaza: “Kalau kami pergi, mau ke mana? Adakah tempat yang benar-benar aman?”

Tapi ketika tank-tank mendekat hanya 100 meter dari rumah kami dan mulai menembakkan peluru secara membabi buta, kami terpaksa membuat keputusan yang paling menyakitkan: berpisah menjadi tiga kelompok, menyebar ke berbagai penjuru Kota Gaza, menumpang di rumah kerabat, dengan harapan jika ada yang terbunuh, yang lain mungkin bisa selamat.

Saya pergi bersama ayah saya ke rumah bibi, sekitar dua kilometer dari rumah kami, di Al-Sahaba, Gaza bagian timur. Kami tinggal di sana hampir sebulan.

Setiap hari, kami saling memperingatkan untuk tidak nekat kembali memeriksa rumah. Namun, seperti banyak pengungsi paksa lainnya, ada dorongan batin yang terus menarik kami Kembali, mendekati rumah sebisa mungkin, sampai drone atau sniper Israel memaksa kami mundur.

Setiap kali saya mencoba kembali, saya tahu itu bisa menjadi perjalanan terakhir. Saya bisa ditembak, terbunuh, atau tergeletak sekarat di jalan tanpa ada yang bisa menolong. Namun, saya tetap pergi, demi secuil momen di rumah, secangkir kopi, sentuhan pada kursi lama, atau sekadar berbaring di ranjang saya.

Jalan pulang itu menjadi jalan penuh duka. Setiap kunjungan menambahkan luka baru dalam ingatan. Saya melewati bangunan-bangunan yang dulunya menjadi ciri khas lingkungan kami, kini tinggal puing. Lorong-lorong yang dulu teduh dan rindang kini menyatu dengan reruntuhan. Saya menyusuri jalan yang diwarnai darah para tetangga saya yang terbunuh, jejaknya masih terlihat di tanah. Tawa anak-anak tergantikan oleh dengung drone yang membuat saraf terkoyak, dan dentuman artileri yang menulikan telinga.

Wajah-wajah akrab yang dulunya memberikan rasa hangat dan nyaman, kini pucat karena ketakutan.

“Mungkin Ini Akhir Perjalananku”

Suatu hari, saat saya mengayuh sepeda di dekat daerah kami, tiba-tiba saya mendengar baling-baling drone quadcopter di belakang. Saya membeku beberapa detik. Haruskah saya tiarap? Angkat tangan? akhirnya saya memilih kabur secepat mungkin, karena saya tahu, meskipun saya tak membawa senjata, itu tidak menjamin saya akan selamat.

Sendirian di jalan, saya memacu sepeda sekuat tenaga, peluru drone melesat melewati saya. Saya bersumpah tak akan pernah nekat lagi. Setelah itu saya jatuh sakit, terbaring selama dua hari.

Namun, pagi di hari ketiga, saya kembali ke sana.

Ketika akhirnya pasukan Israel mundur dan kami bisa kembali ke rumah, rasanya seperti menarik napas setelah hampir tenggelam.

Bagi Kami, Rumah Bukan Sekadar Bangunan

Bagi rakyat Palestina, ikatan kami dengan rumah bukan hanya soal dinding dan batu, tapi tentang keberadaan kami sendiri. Nenek saya, Sharifa, sering menceritakan bagaimana ia dulu dipaksa meninggalkan rumahnya di Jaffa saat Nakba 1948. Ayahnya membawa kunci rumah, yakin mereka akan kembali dalam beberapa hari. Sebelum meninggal, ia menyerahkan kunci itu kepada nenek saya.

Mereka tak pernah kembali. Rumah itu hilang untuk selamanya, meski hati mereka tak pernah benar-benar menerima kenyataan itu. Ini bukan lagi pengungsian sementara.

Hari ini, di Gaza, kami merasa sedang hidup dalam Nakba yang baru, bahkan lebih dahsyat dari apa yang dialami generasi nenek kami. Berbeda dengan 1948, kami tahu bahwa “pengungsian sementara” yang dijanjikan hampir selalu menjadi pengungsian permanen.

Itulah sebabnya begitu banyak dari kami memilih bertahan, bahkan ketika rumah kami dihujani bom dan peluru. Bagi kami, meninggalkan rumah berarti kehilangan lebih dari tempat tinggal, itu berarti kehilangan akar, sejarah, dan identitas kami.

Sendok, Gelas Plastik, Sebuah Piring Kosong

Pada April 2024, hanya beberapa minggu sebelum Perbatasan Rafah ditutup total oleh Israel, ayah saya berhasil mengevakuasi ibu saya ke Mesir. Kondisi kesehatannya memburuk karena kekurangan gizi dan tidak adanya akses terhadap obat-obatan penting. Sejak saat itu, ayah saya tak pernah lepas dari layar berita, mengikuti perkembangan Gaza setiap detik, kegelisahannya begitu nyata hingga terasa di tubuhnya.

Ia selalu mencoba menyembunyikan rasa takut saat kami melakukan panggilan video lewat WhatsApp — bila koneksi memungkinkan. Tapi getaran suaranya tak bisa menipu. Setiap kali terjadi serangan udara di Al-Sabra, ia langsung menelepon untuk memastikan kami masih hidup. “Aku turun 7 kilo dalam dua minggu,” katanya lirih di panggilan video akhir pekan lalu.

Saya tetap bersikeras: kami tidak akan pergi. Tapi ia terus mendesak kami untuk siap mengungsi kapan saja, mengenakan pakaian longgar agar bisa berlari, meletakkan sepatu di samping tempat tidur, dan memastikan selalu ada satu orang berjaga saat yang lain tidur. Ia berpesan, jika memungkinkan, beri anak-anak makan sebanyak mungkin, karena bisa jadi itu adalah makanan terakhir mereka dalam beberapa hari ke depan.

Kalau kami harus kabur, katanya, pisahkan diri dalam kelompok kecil, berjalan berjauhan, bahkan menempuh jalur berbeda, untuk memperbesar peluang selamat. Anak-anak harus lari lebih dulu; jika ada yang terluka, orang dewasa bisa menggendong mereka. Bawa hanya yang betul-betul penting. Dan apapun yang terjadi, teruslah berlari. Kami sama-sama tahu, kali ini berbeda.

Operasi militer Israel di Kota Gaza kali ini terasa lebih brutal dan menghancurkan dibanding sebelumnya. Ini bukan lagi soal membombardir titik-titik tertentu, melainkan menghancurkan semuanya tanpa sisa, seperti yang sudah mereka lakukan di Rafah, Jabalia, dan Beit Hanoun.

Saya dan saudara perempuan saya mulai mengemas tas-tas kecil berisi kebutuhan darurat. Meski masih akhir musim panas, kami tetap memasukkan pakaian musim dingin dan selimut tipis, karena kami tak tahu apa yang akan kami miliki nanti.

Kami juga mengemas sendok, gelas plastik, dan satu piring kosong, benda-benda yang jadi tak ternilai harganya jika hilang. Kami bawa KTP, paspor, dan secarik kertas kecil bertuliskan data pribadi dan nomor telepon, kalau-kalau kami terbunuh atau terluka dan tak bisa lagi bicara.

Saya menatap sekeliling rumah: rak buku yang penuh dengan karya-karya yang membentuk cara pandang saya, seperti “1984 dan Animal Farm” karya George Orwell. Pakaian yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun. Meja tempat saya belajar dan terus menulis. Kasur. Pintu. Lantai. Lalu saya menatap tas kecil di tangan saya. Saya berharap bisa memasukkan seluruh hidup saya ke dalam tas itu.

Pengungsian bukan sekadar berpindah tempat. Rasanya seperti hidup dalam versi neraka, tubuhmu di satu tempat, tapi jiwamu tertinggal di tempat lain.

Saya mengenal banyak orang yang sudah mengungsi ke selatan, mencari tempat yang katanya “aman”, akan tetapi yang mereka temukan hanyalah ketiadaan: tak ada tempat berteduh, tak ada ruang untuk tidur, tak ada perlindungan dari gempuran Israel. Banyak dari mereka akhirnya memilih kembali ke rumah-rumah mereka di utara, meski tahu nyawa mereka dalam bahaya setiap saat.

Bagi mereka yang berhasil menemukan studio kecil untuk disewa di selatan, harganya melambung tak masuk akal, bahkan ratusan kali lebih mahal dari yang sanggup mereka bayar.

Pemerintah Israel mengklaim ada “zona aman” dan bantuan kemanusiaan di selatan. Tapi yang menanti kami di sana hanyalah penghinaan, penderitaan, dan kehancuran lebih lanjut. Sama seperti di utara, tujuannya tampaknya memang untuk melenyapkan kami sepenuhnya.

Nenek saya menyimpan kunci rumahnya dari tahun 1948 hingga akhir hayatnya. Ia tidak pernah bisa kembali ke rumah itu. Tapi ia tidak pernah melepaskan kuncinya.

Saya tidak punya kunci untuk disimpan. Hanya sebuah tas. Saya bertanya-tanya: “Akankah anak-anak saya kelak membawa tas ini, sebagaimana nenek saya dulu membawa kunci itu?”

___

*Ahmed Ahmed merupakan nama samaran dari seorang jurnalis asal Kota Gaza yang meminta namanya untuk tetap anonim karena alasan keamanan dan takut akan pembalasan Israel.

(T.FJ/S: +972 Magazine)

 

 

You might also like