Hampir dua tahun genosida di Gaza berlangsung, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu beserta para sekutunya terus dibayangi dakwaan serius: mulai dari kejahatan perang hingga kejahatan terhadap kemanusiaan. Meski bukti kian menumpuk dan kecaman dunia semakin lantang, Israel nyaris tidak pernah benar-benar bertanggungjawab atas kejahatan yang telah diperbuat.
Dukungan tak tergoyahkan dari Amerika Serikat dan tameng diplomasi di PBB kerap menjadi pelindungnya. Setiap kali kemarahan publik memuncak akibat terbongkarnya kejahatan yang meluas, Israel berjanji akan “menyelidiki dirinya sendiri.” Janji melakukan penyelidikan independen, peninjauan mendalam, dan transparansi pun kerap dilontarkan. Namun, kenyataannya jauh dari itu.
Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah mengumumkan sedikitnya 52 penyelidikan atas berbagai dugaan kasus kejahatan perang.[1] Namun, menurut lembaga amal Action on Armed Violence (AOAV) yang berbasis di London, 88 persen di antaranya masih belum terselesaikan atau bahkan ditutup tanpa kejelasan. Dari puluhan kasus tersebut, hanya satu yang berujung pada hukuman penjara.[2] Penyelidikan ini mencakup serangan-serangan yang dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang, melukai sekitar 1.880 lainnya, serta mencatat dua kasus penyiksaan. Dari total 52 dugaan kejahatan perang itu, hanya enam kasus (12 persen) yang diakui sebagai pelanggaran, dan satu di antaranya dikenai sanksi hukum berupa hukuman penjara.[3]
Israel memiliki sejarah panjang dalam “menyelidiki dirinya sendiri”, yang dimulai setidaknya sejak pembantaian Kafr Qasim tahun 1956, ketika polisi perbatasan Israel membunuh 49 warga sipil Palestina karena melanggar jam malam yang bahkan tidak mereka ketahui. Beberapa petugas dihukum, tetapi hukuman segera dikurangi dan para pelaku dibebaskan dalam beberapa tahun saja.[4]

Pola serupa terus berulang dalam perang-perang berikutnya, termasuk perang Gaza 2008–2009 dan serangan tahun 2014 terhadap wilayah kantong yang terkepung. Peristiwa tersebut menimbulkan banyak korban sipil dan kecaman internasional, akan tetapi investigasi internal berjalan berlarut-larut bahkan seringkali mengalami kegagalan.
Contoh terbaru terjadi pada tanggal 25 Agustus, ketika serangan udara di Rumah Sakit Nasser menewaskan sedikitnya 20 orang, termasuk lima jurnalis yang bekerja untuk Reuters, Associated Press, dan Al Jazeera.[5] Netanyahu menyebut serangan tersebut sebagai “kecelakaan tragis,” sebuah ungkapan yang mencerminkan pola bahasa untuk meringankan tanggung jawab atas kematian warga sipil.

Pada awal Konflik Gaza 2014, Kepala Staf Umum IDF memerintahkan pembentukan mekanisme baru (FFA Mechanism) guna melakukan investigasi atas dugaan kejahatan perang dan kejadian luar biasa yang berlangsung selama konflik. Secara resmi, FFA Mechanism bertugas mengumpulkan informasi awal terkait insiden yang diduga melibatkan warga sipil dan menentukan apakah diperlukan penyelidikan kriminal menyeluruh. Dalam praktiknya, mekanisme ini dijalankan oleh perwira militer dalam rantai komando, bukan oleh pihak sipil yang independen.[6]
Kesaksian dari korban atau saksi mata Palestina jarang diambil, karena sistem ini hampir sepenuhnya bergantung pada laporan operasional yang diajukan tentara itu sendiri. Proses investigasi kerap tertunda berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, dan banyak kasus ditutup diam-diam tanpa peninjauan berarti.
Menurut data dari Yesh Din, FFA Mechanism lebih berfungsi sebagai pelindung pelaku kejahatan ketimbang sebagai pengungkap pelanggaran dan kejahatan perang. Yesh Din juga menyebut FFA Mechanism sebagai “mekanisme pencucian uang”, yakni cara bagi Israel untuk terlihat transparan di mata dunia, sekaligus secara efektif menjamin impunitas bagi para pelaku.[7]
Berikut adalah sejumlah kasus yang saat ini masih dalam proses peninjauan oleh FFA Mechanism dan mendapat perhatian luas dari komunitas internasional:


Menurut AOAV dan Yesh Din, investigasi internal Israel “jauh dari standar internasional” dalam hal penyelidikan yang seharusnya menjamin transparansi atas dugaan kejahatan perang.[12]Mekanisme ini sering digunakan untuk menciptakan kesan adanya proses hukum, padahal pada hakikatnya hanya memperkuat impunitas para pelaku. Dengan ratusan kasus yang belum tuntas, tingkat penyelesaian dan pertanggungjawaban yang hampir nihil, serta pembunuhan massal yang dibiarkan tanpa hukuman, siklus impunitas Israel terus berulang tanpa akhir.
Kesimpulan
Terlihat jelas bahwa impunitas Israel bukanlah suatu kebetulan, tetapi bagian dari pola yang sudah berlangsung lama. Dari peristiwa Kafr Qasim 1956 hingga berbagai tragedi terbaru di Gaza dan Tepi Barat, Israel terus menggunakan penyelidikan internal seperti FFA Mechanism untuk memberi kesan adanya proses keadilan, padahal kenyataannya lebih banyak menutupi kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Siklus ini terus berulang tanpa akhir. Dunia harus berpikir lebih tegas untuk mendukung Palestina, bukan hanya dengan kecaman, tetapi melalui langkah-langkah nyata untuk menghentikan impunitas dan memastikan para pelaku kejahatan kemanusiaan benar-benar diadili.
Penulis: Fuad Nur Zaman Sumber:
[1] TRT World, “Cycle of impunity: How Israel’s ‘investigations’ only help whitewash its own war crimes, TRT World, September 02, 2025. https://trtworld.com/world/article/826cbcc29a0a
[2] Iain Overton and Lucas Tsantzouris, “88% of Israeli investigations into recent Gaza abuse allegations stalled or closed without findings, with just one leading to criminal sentencing”, AOAV, August 02, 2025. https://aoav.org.uk/2025/88-of-israeli-investigations-into-recent-gaza-abuse-allegations-stalled-or-closed-without-findings-with-just-one-leading-to-criminal-sentencing/
[3] TRT World, “Cycle of impunity: How Israel’s ‘investigations’ only help whitewash its own war crimes, TRT World, September 02, 2025. https://trtworld.com/world/article/826cbcc29a0a
[4] Anees Barghouti, “60 years on, Palestinians recall Kafr Qasim massacre”, Anadolu Agency, October 29, 2016. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/60-years-on-palestinians-recall-kafr-qasim-massacre/674642
[5] Megan Fisher and Emir Nader, “Israeli double strike on Gaza hospital – what we know”, BBC, August 26, 2025. https://www.bbc.com/news/articles/c80d2zrdj7vo
[6] Ministry of Foreign Affairs, “Israel’s Investigation of Alleged Violations of the Law of Armed Conflict”, Ministry of Foreign Affairs, Juny 14, 2015. https://www.gov.il/en/pages/israel-s-investigation-of-alleged-violations-of-law-of-armed-conflict
[7] Yesh Din, “ The General Staff Whitewashing Mechanism – The Israeli law enforcement system and breaches of international law and war crimes in Gaza”, Yesh Din, July 09, 2024. https://www.yesh-din.org/en/the-general-staff-whitewashing-mechanism-the-israeli-law-enforcement-system-and-breaches-of-international-law-and-war-crimes-in-gaza/
[8] TRT Global, “Six-year-old Hind Rajab killed by Israeli forces, Palestinian officials say”, TRT Global, February 10, 2024. https://trt.global/world/article/16928356
[9] TRT World, “Cycle of impunity: How Israel’s ‘investigations’ only help whitewash its own war crimes, TRT World, September 02, 2025. https://trtworld.com/world/article/826cbcc29a0a
[10] TRT Global, “ Israel targeted WCK aid workers ‘systematically, car by car’ Jose Andres”, TRT Global, April 03, 2024. https://trt.global/world/article/17636957
[11] TRT World, “Cycle of impunity: How Israel’s ‘investigations’ only help whitewash its own war crimes, TRT World, September 02, 2025. https://trtworld.com/world/article/826cbcc29a0a
[12] TRT World, “Cycle of impunity: How Israel’s ‘investigations’ only help whitewash its own war crimes, TRT World, September 02, 2025. https://trtworld.com/world/article/826cbcc29a0a