Gaza, NPC – Militer Israel, pada Sabtu (06/09/2025), memerintahkan penduduk Palestina di Kota Gaza untuk meninggalkan rumah mereka dan menuju ke “zona kemanusiaan” di al-Mawasi menjelang serangan besar-besaran yang direncanakan terhadap kota terakhir yang tersisa di utara Jalur Gaza.
Dalam pernyataan di media sosial, juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, meminta warga untuk segera mengungsi ke al-Mawasi guna menghindari dampak ofensif darat. Meski belum diumumkan tanggal pasti, perintah ini dianggap sebagai pertanda dimulainya fase akhir operasi militer Israel di wilayah utara Gaza.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan hampir satu juta warga masih berada di dalam dan sekitar Kota Gaza, kawasan yang mengalami kelaparan akut akibat blokade Israel dan secara resmi dinyatakan sebagai zona kelaparan sejak bulan lalu.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan sedikitnya 1.100 penduduk Palestina meninggal dunia dan 6.000 lainnya luka-luka di Kota Gaza selama tiga pekan terakhir sejak Israel meningkatkan kampanye pengeboman.
Adraee menyebut bahwa pengungsi yang tiba di al-Mawasi akan mendapatkan bantuan kemanusiaan, termasuk rumah sakit lapangan, jaringan air, dan fasilitas desalinasi. Namun, meski Israel sebelumnya telah menetapkan al-Mawasi sebagai “zona aman” sejak awal perang, wilayah ini telah beberapa kali menjadi sasaran serangan udara, dengan dalih bahwa kamp-kamp pengungsi di sana digunakan sebagai tempat persembunyian pejuang Hamas.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, ratusan ribu penduduk Palestina telah dipaksa mengungsi dari rumah mereka di Gaza. Jumlah korban jiwa kini telah melampaui 64.300 orang, sebagian besar merupakan perempuan dan anak-anak. Beberapa laporan menyebut angka tersebut masih konservatif; jurnal medis, The Lancet, memperkirakan jumlah korban sebenarnya bisa melebihi 186.000 jiwa.
Serangan Udara Menyasar Kawasan Permukiman
Menjelang serangan darat ke Kota Kota Gaza, militer Israel terus menggempur kawasan permukiman padat penduduk. Pada Jumat lalu, jet-jet tempur Israel menghantam sebuah menara 12 lantai di jantung kota, dan mengumumkan rencana untuk menghancurkan lebih banyak gedung tinggi lainnya.
Militer menyatakan bahwa Menara Mushtaha dihancurkan karena digunakan oleh Hamas, klaim yang dibantah keras oleh pihak Palestina. Pengelola menara menyebut tuduhan tersebut sebagai “kebohongan penjajah Israel” dan menegaskan bahwa bangunan tersebut tidak memiliki peralatan militer serta hanya dihuni oleh warga yang mengungsi.
Ketegangan Politik dan Gagalnya Gencatan Senjata
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, memperingatkan bahwa operasi militer akan terus meningkat kecuali Hamas menyetujui syarat-syarat gencatan senjata yang diajukan Israel, termasuk pelucutan senjata kelompok tersebut.
Meskipun demikian, pada Rabu malam (03/09), Hamas merilis pernyataan yang menegaskan kembali penerimaannya terhadap proposal gencatan senjata yang diajukan pada 18 Agustus, yang disebut-sebut nyaris identik dengan syarat-syarat yang sebelumnya diajukan oleh Israel sendiri. Hamas menyatakan belum menerima tanggapan resmi dari Israel melalui para mediator.
“Gerakan ini menegaskan kesiapan untuk melanjutkan kesepakatan komprehensif,” demikian isi pernyataan Hamas.
Kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu segera merespons dengan menolak pernyataan tersebut.
“Sayangnya, ini hanyalah propaganda baru dari Hamas yang tidak mengandung hal-hal substansial,” demikian pernyataan resmi dari kantornya.
Netanyahu kembali menekankan syarat-syarat versi terbaru untuk mengakhiri perang, termasuk pembebasan seluruh sandera, pelucutan senjata Hamas, demiliterisasi Jalur Gaza, dan kontrol keamanan penuh Israel atas wilayah tersebut.
Netanyahu menawarkan syarat yang dirancang sepenuhnya menurut kepentingan Israel, tanpa melalui proses negosiasi dua arah. Ia bertujuan memaksakan kekalahan total, bukan perdamaian dengan Palestina dan mengarah pada penghapusan perlawanan, tanpa menjamin penghormatan terhadap hak dan kedaulatan Palestina.
(T.FJ/S: MEE)