PBB: Sekitar 90% Wilayah Gaza Menjadi Zona Militer Israel

Gaza, NPC – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA), pada Jumat (22/08/2025), menyatakan bahwa sekitar 90 persen wilayah Jalur Gaza kini telah berubah menjadi zona militer Israel, sementara anak-anak di wilayah tersebut terus mengalami pengungsian berulang kali.

“Sejak awal perang, banyak anak-anak telah terus-menerus mengungsi di berbagai wilayah Gaza. Mereka kini terjebak di area yang semakin menyempit, di mana hampir 90% Jalur Gaza berada dalam zona militer Israel, di bawah perintah evakuasi, atau bahkan keduanya,” sebut UNRWA dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan melalui platform X.

UNRWA juga mengatakan bahwa hampir satu dari tiga anak Palestina di Kota Gaza kini mengalami malnutrisi.

UNRWA kembali menyerukan gencatan senjata segera dan menggambarkan kondisi kerja staf mereka di Gaza sebagai bencana.

“Kami bekerja dalam kondisi yang benar-benar katastrofik,” kata Dr. Hind, seorang dokter UNRWA di Gaza. Tenaga medis lainnya menyampaikan bahwa mereka harus berjalan kaki “di bawah terik matahari” hanya untuk bisa sampai ke tempat tugas, sebelum mulai merawat orang-orang yang sangat membutuhkan bantuan.

Sementara itu, Program Pangan Dunia PBB (WFP) memperingatkan bahwa malnutrisi meningkat di seluruh Gaza akibat blokade bantuan yang dilakukan Israel.

“Ini bukan sekadar kelaparan. Ini adalah kelaparan massal. Malnutrisi adalah pembunuh senyap,” kata WFP.

WFP menyebut bahwa kondisi krisis kelaparan ini menyebabkan kerusakan perkembangan seumur hidup dan melemahkan sistem kekebalan tubuh, menjadikan penyakit biasa menjadi mematikan.

Sementara itu, organisasi HAM Israel, Gisha, membantah narasi pemerintah Israel yang menyalahkan PBB atas minimnya bantuan kemanusiaan yang masuk ke Gaza. Gisha menyatakan bahwa “sejak hari pertama serangan militernya, Israel telah menggunakan kontrol masuknya bantuan sebagai senjata perang.”

“Israel menciptakan dan terus menciptakan kondisi yang membuat pengiriman bantuan ke Gaza hampir mustahil,” tegas Gisha.

Pertahanan Sipil Gaza juga memperingatkan krisis bahan bakar yang parah, yang menghambat upaya mereka dalam merespons situasi darurat dan penyelamatan.

“Banyak kendaraan kami mogok di tengah jalan menuju misi penyelamatan, sebagian karena kekurangan bahan bakar, lainnya karena tidak adanya suku cadang untuk perawatan. Kami menghadapi tantangan kemanusiaan besar di tengah ancaman eskalasi perang pemusnahan oleh Israel,” demikian pernyataan Pertahanan Sipil.

UNRWA menegaskan bahwa anak-anak sangat membutuhkan gencatan senjata segera untuk menghentikan penderitaan mereka.

Sementara itu, militer Israel mengumumkan bahwa telah memulai langkah awal dari operasi yang direncanakan untuk mengambil alih Kota Gaza. Sedikitnya 81 penduduk Palestina meninggal dunia di Gaza akibat serangan Israel dan kelaparan paksa sejak fajar, saat militer Israel mengumumkan bahwa mereka telah memulai tahap awal dari serangan yang direncanakan untuk menguasai pusat kota terbesar di wilayah tersebut, Kota Gaza, tempat hampir satu juta orang masih hidup dalam kondisi yang sangat berbahaya.

Tiga penduduk Palestina lainnya meninggal karena kelaparan di wilayah yang terkepung pada hari Rabu (20/08/2025), menjadikan total korban jiwa akibat kelaparan menjadi 269 orang, termasuk 112 anak-anak.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan Palestina Gaza, sejak 7 Oktober 2023, Israel dengan dukungan Amerika Serikat telah membunuh lebih dari 62.122 penduduk Palestina hingga saat ini.

(T.FJ/S: RT ArabicAljazeera)

 

You might also like