Gaza dan Kemerdekaan Kita

Gaza, NPC – Di tanah sempit yang terkepung laut, tembok, kawat berduri, dengan pemantauan 24 jam, dengan moncong senapan siap menyapu siapa saja, kematian bukan hal yang mengejutkan. Adalah Gaza, yang disebut “jalur”, rupanya seperti lorong darurat bagi jiwa-jiwa terbuang, telah lebih dari 61.000 nyawa hilang sejak Oktober 2023. Sebagian besar adalah anak-anak, perempuan, dan orang tua. Sebagian besar adalah mereka yang tak pernah mengenal medan perang, hanya lapangan puing dan suara langit yang pecah setiap malam.

Gaza dulu mungkin adalah nama yang tidak terlalu terkenal. Ia hanya dikenal oleh orang-orang yang memimpikan kebebasan. Kini namanya di mana-mana. Ia menjadi bayang-bayang kematian atau pemusnahan atau aib yang terus kita abaikan. Seperti pembantaian Srebrenica, ia adalah wilayah yang diserbu bukan hanya dengan senjata, tapi dengan diamnya dunia. Seperti juga pembantaian Warsawa, ia adalah ruang di mana manusia dihabisi, dan dunia mencatat statistiknya tanpa berkedip.

Sejak Nakba 1948, ketika lebih dari 700.000 orang Palestina diusir dari rumah mereka oleh milisi Zionis, Gaza menampung yang sebagian tersisa. Mereka yang hidup dari luka. Mereka datang dari Jaffa, Haifa, Lydda, seperti arus darah yang mengalir ke muara sempit. Mereka membangun tenda, lalu rumah dari lumpur, lalu gedung-gedung, lalu menjadi generasi yang hanya tahu bahwa hidup adalah menunggu giliran untuk kehilangan.

Gaza tak pernah benar-benar diizinkan hidup. Di bawah blokade udara, laut, dan darat sejak 2007, Gaza menjadi penjara terbuka terbesar di dunia. Lebih dua juta jiwa dipenjara tanpa vonis. Mereka yang ingin keluar harus mendapat izin. Mereka yang tinggal harus siap dikuburkan. Bahkan tanah pemakaman kini tak cukup menampung jasad-jasad mereka.

Sejak agresi militer dimulai kembali pada 7 Oktober 2023, lebih dari 61.900 jiwa dibunuh. Angka-angka yang berganti setiap hari, tapi tak pernah cukup membuat dunia berhenti menonton. Laporan-laporan menyebut 148 orang meninggal dunia akibat krisis kelaparan setelah Israel memblokir bantuan kemanusiaan, 90 di antaranya anak-anak. Sejak awal tahun, lebih dari 1.600 orang dibunuh atau mengalami luka-luka saat mencoba mendapatkan bantuan makanan.

Setiap jenazah itu bukan statistik. Mereka adalah anak-anak yang terbakar nyala pemboman bersama ibunya. Mereka adalah pria tua yang mati menunggu antrian roti. Mereka adalah ibu menyusui yang kehabisan air. Mereka adalah bayi yang mengering di inkubator karena listrik mati.

Bantuan kemanusiaan ditahan. Truk makanan diputarbalikkan karena alasan prosedur. Rumah sakit dibiarkan kehabisan obat. Air bersih tak mengalir. Sekolah hancur. Gereja ikut dibom. Masjid menjadi puing. Tapi diplomasi dunia hanya bisa mengajukan resolusi yang dimentahkan. Lalu diam. Lalu lupa.

Ada diplomat yang menjabat tangan pengebom. Ada yang melakukan normalisasi, lalu memilih diam ketika melihat darah terus mengalir. Ada negara-negara yang menjual senjata, lalu mengadakan konferensi perdamaian. Ada panglima yang menyebut “operasi pembebasan sandera”, lalu menghancurkan kamp pengungsi. Ada yang mengirim senjata, lalu mengecam agar terlihat suci.

Bahkan kebenaran harus melalui perdebatan. Bahkan penderitaan harus dibuktikan melalui data yang disangsikan. Bahkan anak-anak yang mati harus ditanyai: “Apa kamu benar-benar ada?”

Hal yang menyakitkan bukan hanya karena Gaza dibunuh perlahan, tapi karena kita tahu dan memilih tidak berbuat apa-apa.

Dunia menyaksikan pembantaian ini dalam waktu nyata. Melalui layar telepon pintar. Melalui laporan PBB. Melalui data yang dirilis WHO. Namun, kita sibuk mengalihkan perhatian, mencari keseimbangan, mengganti topik. Seolah penderitaan harus memenuhi syarat tertentu sebelum dianggap layak ditangisi.

Barangkali itulah yang paling kejam dari semua ini: bahwa Gaza tidak mati dalam senyap, tapi di hadapan kita. Dan kita semua jadi penonton terbaik.

Dalam tangisan ibu yang kehilangan anaknya, dalam tangan bocah yang mengangkat roti basi, dalam mata kosong yang masih bertanya: apakah dunia benar-benar manusia?

Hari ini, seorang anak di Gaza dengan tubuh yang tak sempat tumbuh, dengan nama yang tak pernah masuk berita adalah Yahudi di Auschwitz, adalah Muslim di Srebrenica. Mereka adalah bayang-bayang kita sendiri yang dicabut dari dunia.

Gaza berlumur darah karena masih ada orang yang percaya bahwa satu bangsa bisa dihapus tanpa jejak. Namun, darah itu tidak hilang. Ia mencatat.

Gaza dan Kemerdekaan yang Tak Pernah Diberikan

Agustus ini, Indonesia kembali mengibarkan merah putih. Lagu-lagu kebangsaan dinyanyikan, upacara digelar, dan anak-anak sekolah menulis puisi tentang arti merdeka. Namun, di saat yang sama, di Gaza, anak-anak seusia mereka sedang menggali dengan tangan kosong, mencari ibu, atau adik mereka, di bawah reruntuhan.

Indonesia sejak awal berdiri di sisi Palestina. “Selama kemerdekaan Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestin, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel,” kata Soekarno. Hingga hari ini, pernyataan itu bukan sekadar warisan, tapi kompas moral.

Apa arti kemerdekaan jika kita tak bisa membela orang yang dirampas haknya untuk hidup? Apa arti menjadi bangsa merdeka jika kita menutup mata pada bangsa lain yang ditindas, dilucuti dari tanah dan waktu, dipaksa hidup sebagai bayangan?

Merdeka bukan sekadar bebas dari penjajah. Merdeka adalah berpihak pada mereka yang belum dibebaskan. Jika kita benar-benar menghayati kemerdekaan ini, maka Gaza adalah bagian dari tugas sejarah kita: menyuarakan yang dibungkam, memperjuangkan yang dikurung, menolak dunia yang membiarkan anak-anak mati kelaparan sambil menegosiasikan logistik.

Di hari merdeka kita, marilah kita rayakan dengan penuh syukur, tetapi juga dengan kesadaran, bahwa kemerdekaan bukan untuk disombongkan, melainkan untuk dibagikan, dalam bentuk solidaritas, dalam bentuk suara, dan dalam bentuk keberpihakan. Gaza telah dan masih berdarah dan dunia masih diam. Jangan biarkan kita menjadi bagian dari diam itu.

(T.FJ/S: Suara Palestina)

 

You might also like