Tel Aviv, NPC – Mayoritas besar warga Israel menyatakan mereka tidak peduli atau terganggu dengan laporan tentang krisis kelaparan dan penderitaan penduduk Palestina di Gaza. Ini merupakan hasil survei terbaru yang dirilis oleh Israel Democracy Institute, sebagaimana dilansir MEE, pada Rabu (06/08/2025).
Survei tersebut menunjukkan bahwa 79 persen warga Yahudi di Israel tidak peduli atau tidak merasa terganggu, atau hanya sedikit terganggu, oleh laporan mengenai kondisi kemanusiaan di Gaza. Sebaliknya, 86 persen responden “Arab” (merujuk pada warga Palestina yang tinggal di Israel), merasa sangat terganggu atau cukup terganggu oleh laporan tentang perang di Gaza.
Ketika dilihat dari sudut pandang afiliasi politik, tingkat kepedulian tertinggi terhadap penderitaan dan kelaparan datang dari kelompok kiri, yaitu 70 persen menunjukkan kepedulian. Sementara itu, hanya 32 persen dari kalangan tengah dan 6 persen dari kalangan kanan yang merasa terganggu secara pribadi oleh laporan tersebut.
Survei ini dilakukan pada 27–31 Juli 2025.
Sistem pemantauan kelaparan global yang didukung PBB pekan lalu memperingatkan bahwa “skenario terburuk kelaparan” sedang terjadi di Gaza akibat blokade dan pembatasan makanan yang diberlakukan oleh Israel.
“Data terbaru menunjukkan bahwa ambang kelaparan telah tercapai untuk konsumsi makanan di sebagian besar wilayah Gaza dan tingkat malnutrisi akut di Kota Gaza,” tulis laporan dari Integrated Food Security Phase Classification.
Peringatan ini muncul setelah setidaknya 150 anak-anak dan orang dewasa Palestina di Gaza meninggal dunia akibat kelaparan dan malnutrisi sejak serangan Israel dimulai pada Oktober 2023.
Rendahnya jumlah warga Israel yang peduli terhadap kondisi kelaparan dan penderitaan penduduk Palestina di Gaza mungkin berkaitan dengan kepercayaan terhadap laporan militer Israel tentang jumlah korban sipil.
Sebanyak 70 persen warga Yahudi Israel mempercayai data militer Israel mengenai jumlah korban sipil di Gaza, sedangkan 63 persen warga Palestina di Israel tidak mempercayai angka-angka tersebut.
Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mencatat lebih dari 60.000 penduduk Palestina telah meninggal dunia akibat serangan Israel, di mana sebagian besar adalah warga sipil, termasuk perempuan dan anak-anak. Data tersebut disusun secara rinci dan rapi berdasarkan nama, usia, dan jenis kelamin.
Sementara itu, militer Israel hingga Mei 2025 menyebut angka korban jiwa sebanyak 30.000, dengan 14.000 di antaranya disebut sebagai “kombatan”. Berbeda dengan data dari pihak Palestina, Israel tidak memberikan metode atau bukti untuk mendukung angka tersebut.
Angka dari Kementerian Kesehatan Palestina telah diakui secara luas oleh komunitas internasional. Jurnal medis ternama asal Inggris, The Lancet, bahkan menyebut bahwa angka 60.000 kemungkinan besar masih merupakan jumlah yang terlalu rendah dari kenyataan.
Ketika ditanya apakah pernyataan “Tindakan Israel dibatasi oleh kondisi perang, akan tetapi mereka berusaha keras untuk menghindari penderitaan yang tidak perlu bagi warga Palestina di Gaza” adalah benar, sebanyak 78 persen warga Yahudi Israel menganggap pernyataan tersebut akurat.
Namun, sikap publik Israel berbeda dengan pemerintah dalam hal kekerasan yang dilakukan oleh pemukim Israel dan akuntabilitasnya.
Hampir setengah dari publik Israel (44 persen) menilai pasukan keamanan terlalu lunak terhadap kekerasan pemukim Yahudi. Sebanyak 23 persen menganggap respons tersebut sudah tepat, dan 22 persen menganggap pasukan keamanan terlalu keras terhadap pemukim.
Mayoritas warga Palestina di Israel (61 persen) juga berpandangan bahwa aparat keamanan terlalu lunak terhadap para pemukim.
Pandangan Suram tentang Masa Depan
Perang Israel di Gaza telah berlangsung hampir dua tahun, dengan ketegangan militer tingkat rendah juga terjadi dengan negara-negara lain di kawasan, seperti Lebanon, Iran, Suriah, dan Yaman.
Konflik yang tampaknya tak kunjung usai ini mulai memengaruhi pandangan publik terhadap masa depan, sebagaimana terlihat dalam survei yang menunjukkan penurunan optimisme dalam empat indikator utama suasana kebangsaan dibandingkan bulan Juni.
Empat indikator tersebut adalah: masa depan keamanan nasional, demokrasi, ekonomi, dan kohesi sosial nasional.
Hanya sebagian kecil warga Israel yang masih optimis, menurut hasil survei. Penurunan terbesar terjadi dalam indikator keamanan nasional dan demokrasi, dua aspek yang biasanya paling optimis di mata publik Israel.
Hanya 40 persen warga Israel yang merasa optimis terhadap masa depan keamanan nasional, dan hanya 38 persen yang optimis terhadap demokrasi di negaranya.
Tingkat optimisme terendah adalah pada isu kohesi sosial nasional (hanya 23 persen), dan hanya 28 persen yang optimis terhadap masa depan ekonomi Israel.
Penulis laporan mencatat bahwa tingkat optimisme di kalangan warga Palestina di Israel jauh lebih rendah dibandingkan dengan warga Yahudi.
Laporan tersebut juga menekankan bahwa penurunan ini belum merupakan krisis baru. Menurut mereka, kondisi ini hanya kembali ke level pesimisme dua hingga tiga bulan sebelumnya, dan kemungkinan lonjakan optimisme bulan lalu adalah hal yang tidak biasa.
Dukungan Global terhadap Israel Menurun
Citra Israel di dunia juga mengalami kemunduran. Di Amerika Serikat, publik semakin menentang perang Israel di Gaza, dan simpati terhadap Palestina terus meningkat.
Menurut laporan dari Middle East Eye, mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, mengatakan bahwa reputasi Israel di Amerika Serikat kini “sedang runtuh”.
Bennett, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Israel dari 2021 hingga 2022 dari Partai New Right, menuduh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menjadikan Israel sebagai “negara yang dijauhi”. Ia menyebut bahwa bahkan kalangan pendukung gerakan Make America Great Again kini mulai menjauh dari Israel, karena sulit membela negara tersebut di tengah kondisi kelaparan warga Palestina di Gaza.
Data terbaru menunjukkan bahwa penilaian Bennett tersebut tepat. Menurut hasil survei Gallup terbaru, terjadi penurunan drastis sebanyak 10 poin persentase sejak survei pada September 2024. Hanya 32 persen warga Amerika yang kini mendukung perang Israel di Gaza.
Per Juli 2025, sebanyak 60 persen warga AS menyatakan tidak menyetujui tindakan militer Israel, dan 52 persen memiliki pandangan negatif terhadap Netanyahu, perubahan besar dibandingkan satu setengah tahun lalu.
Gallup menyebut bahwa citra Netanyahu saat ini merupakan yang paling buruk dalam sejarah survei mereka sejak tahun 1990-an, mencerminkan “kerusakan berkelanjutan terhadap citranya”.
(T.FJ/S: MEE)