Gaza, NPC – Organisasi medis internasional Doctors Without Borders atau Dokter Lintas Batas (MSF), sebagaimana dilansir MEE, pada Jumat (08/08/2025), menyebut bahwa program bantuan dari Gaza Humanitarian Foundation (GHF) yang didukung oleh Israel dan Amerika Serikat adalah sistem kelaparan dan dehumanisasi yang telah diatur.
Dalam sebuah laporan yang diterbitkan hari Kamis berjudul “Ini Bukan Bantuan. Ini Pembunuhan yang Terorganisir”, MSF menyatakan bahwa GHF tidak memiliki pengalaman dalam menyalurkan bantuan secara aman. Akibatnya, proses distribusi bantuan justru menyebabkan kekerasan ekstrem dan kematian.
Titik Distribusi Bantuan Dianggap Perangkap Maut
Akibat pola kekerasan dan kejahatan yang terus terjadi di lokasi pembagian bantuan, tim MSF mulai memantau media sosial GHF untuk mencari informasi tentang lokasi pembagian, agar tim medis bisa bersiap di tempat yang tepat.
Banyak organisasi internasional dan aktivis HAM mengecam titik distribusi bantuan yang dikelola GHF sebagai “perangkap maut”.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setidaknya 1.700 orang dibunuh sejak 27 Mei 2025 ketika mencoba mendapatkan bantuan, dan sebagian besar korban ditemukan di dekat lokasi distribusi GHF.
Meskipun GHF mengklaim hanya menggunakan semprotan merica dan tembakan peringatan untuk mengendalikan kerumunan, kesaksian yang dikumpulkan MSF menunjukkan bahwa serangan terhadap penduduk sipil Palestina yang kelaparan bersifat menyasar dan membabi buta.
“Tim kami terbiasa menghadapi konflik, tapi mereka tidak siap melihat penduduk sipil yang kelaparan meninggal dan terluka saat mencoba mencari bantuan. Mereka juga tidak siap menangani penduduk Palestina yang kelaparan dan tidak bersenjata, yang ditembak seperti hewan, bahkan ketika mereka dikurung dalam pagar besi,” tulis laporan itu.
Luka Tembak Tepat Sasaran, Serangan Sengaja Menargetkan Tubuh Manusia
Seorang manajer perawat MSF pada Juli lalu mengatakan bahwa ada kaitan jelas antara distribusi bantuan dan korban luka tembak yang datang ke klinik.
“Saya melihat orang-orang membawa kantong makanan, lalu korban mulai berdatangan hampir bersamaan. Saya punya pasien dengan luka tembak yang dibawa masuk menggunakan kantong plastik yang sebelumnya mereka pakai untuk membawa makanan,” ujarnya.
Menurut data MSF, 96 persen korban luka di lokasi GHF adalah laki-laki muda, kebanyakan berusia di bawah 30 tahun. Selain itu, kelompok rentan seperti lansia, penyandang disabilitas, dan penderita penyakit kronis tidak mendapatkan bantuan sama sekali.
MSF juga mencatat banyak pria datang ke klinik dalam kondisi berdebu dan penuh pasir, karena harus tiarap di tanah untuk menghindari serangan.
“Skema GHF menunjukkan bentuk lain dari dehumanisasi terhadap penduduk Palestina di Gaza, terutama para pemuda, dan semua ini terjadi dengan dalih kemanusiaan,” lanjut laporan tersebut.
MSF menambahkan bahwa “presisi anatomi” pada luka tembak menunjukkan bahwa serangan memang sengaja diarahkan ke tubuh manusia, bukan tembakan sembarangan. MSF menyebut lukanya sangat presisi dan ditargetkan ke tubuh atas dan kepala menunjukkan niat untuk menyakiti, bukan sekadar intimidasi. Data dari Titik Distribusi 2 di Rafah, selatan Jalur Gaza data korban menunjukkan:
Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa beberapa tentara anonim menyatakan mereka telah diinstruksikan oleh atasan untuk melepaskan tembakan terhadap penduduk sipil Palestina yang antre untuk mendapatkan bantuan, meskipun mereka tidak dianggap mengancam. Senjata berat seperti mesin-mesin dari tank, granat, dan mortir bahkan disebut digunakan untuk menghalau kerumunan penduduk yang kelaparan tersebut.
Klaim Israel Dinilai Tidak Masuk Akal
Militer Israel mengklaim bahwa serangan hanya ditujukan pada orang-orang yang dianggap mengancam pasukan penjaga. Namun, MSF menyebut klaim itu “sangat tidak masuk akal”, apalagi terdapat korban anak-anak di antara korban luka.
MSF juga menegaskan bahwa semua lokasi distribusi bantuan dikuasai penuh oleh militer Israel, sehingga kehadiran kelompok bersenjata Palestina di area itu sangat tidak mungkin.
Laporan MSF diakhiri dengan seruan kepada Israel untuk mengakhiri skema bantuan GHF, mencabut blokade terhadap Gaza, dan seruan untuk kembali bekerja sama dengan PBB dalam menyalurkan bantuan kemanusiaan
“Bantuan kemanusiaan adalah wujud dari kemanusiaan kita bersama. Tujuannya untuk meringankan penderitaan, melindungi kehidupan, dan menjaga martabat, berdasarkan kebenaran sederhana bahwa setiap nyawa manusia itu berharga,” sebut MSF.
MSF menegaskan bahwa setiap “penyaluran bantuan” yang justru menimbulkan kematian massal, korban luka-luka, dan trauma selama lebih dari dua bulan adalah penghinaan terhadap makna kata kemanusiaan.