Di tengah perang yang terus berkecamuk di Jalur Gaza, militer Israel dihadapkan pada krisis yang jauh lebih dari sekedar kekurangan logistik atau kegagalan strategi tempur. Perang ini telah menggerus ketahanan mental para prajurit penjajah, mengungkap sisi rapuh dari kekuatan militer yang selama ini berusaha disembunyikan dari publik. Kurangnya personel memaksa Israel mengambil langkah ekstrem: memanggil kembali tentara yang sebelumnya dinyatakan tidak layak bertugas karena mengalami gangguan stres pasca-trauma (PTSD), bahkan termasuk mereka yang menderita gangguan mental permanen.
Kejadian ini menegaskan betapa krusialnya peran moral dan stabilitas psikologis dalam mempertahankan kekuatan tempur. Lalu, apa yang mendorong militer Israel nekat mengambil risiko sebesar ini?
Di balik klaim kekuatan militer yang terus digembar-gemborkan, terdapat kenyataan kelam yang berusaha ditutup-tutupi oleh militer Israel. Hal ini berkaitan dengan meningkatnya angka bunuh diri karena gangguan mental di kalangan tentara penjajah sejak pecahnya perang di Gaza. Data resmi Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menunjukkan bahwa kasus bunuh diri di kalangan tentara aktif, baik yang menjalani dinas reguler maupun sebagai pasukan cadangan, mengalami peningkatan yang signifikan.
Antara 7 Oktober 2023 hingga akhir tahun 2023, tercatat tujuh tentara aktif tewas karena bunuh diri. Angka ini melonjak drastis pada tahun 2024, mencapai 21 kasus. Meski demikian, IDF menolak merilis data resmi untuk tahun 2025, dengan dalih bahwa statistik baru akan dipublikasikan di akhir tahun. Perlu dicatat pula, statistik IDF tidak mencakup tentara yang bunuh diri saat tidak dalam masa tugas (aktif)[1] Hal ini dibuktikan dalam kasus tragis yang menimpa Roi Wasserstein (24 tahun), seorang prajurit cadangan dari unit bantuan medis Brigade Lapis Baja ke-401. Ia bunuh diri setelah lebih dari 300 hari bertugas di Jalur Gaza. Menurut laporan Radio Angkatan Darat, Wasserstein beberapa kali menceritakan kepada keluarga dan teman-temannya mengenai “pemandangan mengerikan” yang ia alami selama perang. Ia menyelesaikan masa tugas terakhirnya pada Mei 2025, namun karena tidak sedang bertugas resmi saat kematian (bunuh diri), militer Israel menolak mengakui dirinya sebagai prajurit yang gugur.[2]

Sementara itu, menurut laporan independen dari Haaretz , setidaknya 17 tentara aktif telah bunuh diri sepanjang tahun ini, dan sedikitnya 12 mantan tentara yang sudah tidak lagi bertugas aktif meninggal karena bunuh diri akibat gangguan mental yang diyakini berkaitan dengan dinas militer mereka. Sebagian besar dari mereka terlibat langsung dalam perang saat ini, sementara yang lain merupakan korban psikologis dari operasi militer di masa lalu.[3]
Sejak perang dimulai, hampir 19.000 prajurit yang terluka telah mendapatkan perawatan dari Departemen Rehabilitasi. Dari jumlah itu, sekitar 10.000 orang mengalami trauma psikologis. Mereka bergabung dengan lebih dari 7.500 klaim baru PTSD yang berasal dari perang-perang sebelumnya, termasuk Perang Yom Kippur 1973. Semua klaim ini diajukan setelah 7 Oktober 2023.[4]
Saat ini, Departemen Rehabilitasi menangani lebih dari 80.000 orang, jumlah tertinggi dalam sejarah Israel. Dari total itu, lebih dari 26.000 orang menderita gangguan kesehatan mental. Diperkirakan pada tahun 2028, jumlah pasien akan meningkat hingga 100.000 orang, dan setengahnya kemungkinan besar mengalami cedera psikologis. Pejabat di dalam departemen secara terbuka mengakui bahwa mereka kesulitan memberikan layanan, dan dalam banyak kasus gagal memenuhi kebutuhan semua pasien.[5] Organisasi peduli penyintas PTSD setempat meyakini bahwa angka sebenarnya jauh lebih tinggi dari yang diketahui publik, karena sejumlah besar kasus tidak pernah dilaporkan secara formal atau ditangani secara medis.[6]
Dalam situasi ini, militer Israel terjebak dalam dilema besar, kekurangan personel di medan perang membuat mereka memanggil kembali prajurit yang secara medis seharusnya tidak lagi bertugas, termasuk mereka yang mengalami PTSD atau gangguan mental berat. Keputusan ekstrem ini menunjukkan betapa gentingnya kondisi moral dan logistik di tubuh militer Israel, dan mengungkap bahwa perang di Gaza tidak hanya menelan korban dari pihak Palestina, tetapi juga secara perlahan menghancurkan para prajurit penjajah dari dalam.
Menurut hasil investigasi internal militer yang dipublikasikan pada Minggu (3/8/2025), sebagian besar kasus bunuh diri terbaru di kalangan tentara Israel disebabkan oleh trauma psikologis akibat perang yang masih berlangsung. Faktor-faktor pemicu antara lain penempatan yang terlalu lama di zona konflik, pengalaman menyaksikan kekejaman di medan tempur, serta kehilangan rekan sesama prajurit.[7]
“Sebagian besar kasus bunuh diri berhubungan langsung dengan kompleksitas situasi yang diciptakan oleh perang. Perang memiliki konsekuensi,” ujar seorang pejabat senior Pasukan Pertahanan Israel (IDF) kepada penyiar publik Kan, menekankan hubungan erat antara paparan pertempuran dan meningkatnya angka bunuh diri di kalangan tentara.[8]
Merespons temuan tersebut, IDF menyatakan tengah melakukan evaluasi menyeluruh dan memperkuat langkah-langkah dukungan kesehatan mental. Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperluas pelatihan bagi para komandan agar mampu mengenali tanda-tanda tekanan psikologis pada prajurit mereka. Selain itu, IDF juga menambah jumlah tenaga kesehatan mental secara signifikan: 200 petugas untuk prajurit aktif, 600 untuk pasukan cadangan, serta memperkuat 1.000 personel yang telah bertugas sejak awal perang.[9]

Kondisi yang dialami militer Israel hari ini menunjukkan bahwa agresi brutal yang mereka lancarkan ke Jalur Gaza tidak hanya membawa penderitaan bagi rakyat Palestina, tetapi juga menciptakan kehancuran bagi internal militer Israel sendiri. Lonjakan kasus bunuh diri, trauma psikologis, dan keputusan nekat memanggil kembali tentara yang secara medis tak layak, menandakan keterpurukan moral dan kekacauan struktural dalam tubuh militer penjajah.
Sementara tentara-tentara Israel runtuh akibat beban perang yang mereka ciptakan sendiri, rakyat Gaza tetap berdiri, bertahan, dan melawan dengan keberanian luar biasa. Ini adalah pertarungan antara penjajah yang rapuh dan keteguhan yang tak tergoyahkan. Mendukung Gaza hari ini bukan sekadar pilihan politik, itu adalah keharusan moral dalam menghadapi ketidakadilan dan kehancuran yang ditimbulkan oleh arogansi kekuasaan.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
[1] Tom Levinson, “Israeli-Reservist-Roi-Wasserstein-Dies-By-Suicide-After-300-Days-Of-Combat-Duty,” Haaretz, 31 Juli 2025. https://www.haaretz.com/israel-news/2025-07-31/ty-article/.premium/israeli-reservist-roi-wasserstein-dies-by-suicide-after-300-days-of-combat-duty/00000198-5fe9-d013-af9f-5fed30e00000.
[2] Zein Khalil dan Tarek Chouiref, “7th Israeli soldier commits suicide this month after serving 300 days in Gaza war,” Anadolu Agency , 31 Juli 2025. https://www.aa.com.tr/en/middle-east/7th-israeli-soldier-commits-suicide-this-month-after-serving-300-days-in-gaza-war/3647328.
[3] Tom Levinson, “Israeli-Reservist-Roi-Wasserstein-Dies-By-Suicide-After-300-Days-Of-Combat-Duty,” Haaretz, 31 Juli 2025. https://www.haaretz.com/israel-news/2025-07-31/ty-article/.premium/israeli-reservist-roi-wasserstein-dies-by-suicide-after-300-days-of-combat-duty/00000198-5fe9-d013-af9f-5fed30e00000.
[4] Tom Levinson, “7 Israeli Soldiers Died by Suicide in July. PTSD Veterans Are Trying to Stop the Next One,” Haaretz, 3 Agustus 2025. https://www.haaretz.com/israel-news/2025-07-31/ty-article/.premium/israeli-reservist-roi-wasserstein-dies-by-suicide-after-300-days-of-combat-duty/00000198-5fe9-d013-af9f-5fed30e00000.
[5] Tom Levinson, “7 Israeli Soldiers Died by Suicide in July. PTSD Veterans Are Trying to Stop the Next One,” Haaretz, 3 Agustus 2025. https://www.haaretz.com/israel-news/2025-07-31/ty-article/.premium/israeli-reservist-roi-wasserstein-dies-by-suicide-after-300-days-of-combat-duty/00000198-5fe9-d013-af9f-5fed30e00000.
[6] Tom Levinson, “Israeli-Reservist-Roi-Wasserstein-Dies-By-Suicide-After-300-Days-Of-Combat-Duty,” Haaretz, 31 Juli 2025. https://www.haaretz.com/israel-news/2025-07-31/ty-article/.premium/israeli-reservist-roi-wasserstein-dies-by-suicide-after-300-days-of-combat-duty/00000198-5fe9-d013-af9f-5fed30e00000.
[7] Stav Levaton dan Emanuel Fabian, “IDF suicides tied to combat trauma, internal probes said to reveal,” The Times of Israel, 3 Agustus 2025, https://www.timesofisrael.com/idf-suicides-tied-to-combat-trauma-internal-probes-said-to-reveal/.
[8] Ibid.
[9] Yonah Jeremy Bob, “’War has consequences’: IDF admits increased soldier suicide rate connected to war,” The Jerusalem Post, 3 Agustus 2025, https://www.jpost.com/israel-news/article-863101.