Jalur Gaza, NPC – Jalur Gaza dilaporkan mengalami lonjakan kasus penyakit lumpuh layu (Acute Flaccid Paralysis), gangguan saraf langka yang menyerang anak-anak secara tiba-tiba dan menyebabkan lemahnya otot parah hingga kehilangan kemampuan bergerak.
Salah satu anak yang terjangkit adalah Asil Rami Saad (10 tahun), yang tiba-tiba roboh tanpa gejala awal. Dokter mendiagnosa bahwa dia mengalami radang saraf yang menyebabkan tubuhnya menjadi sangat lemas. Meskipun ada sedikit perbaikan setelah menjalani fisioterapi dan pengobatan namun kondisinya memprihatinkan.
Keluarga Rami sendiri mengalami kesulitan besar dalam memenuhi kebutuhan medis dan gizi untuknya. Mereka tinggal di tenda di pusat Kota Gaza setelah mengungsi dari Shuja’iyya, dalam kondisi jauh dari standar hidup layak.
Pada hari Selasa, (05/08/2025), Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan 95 kasus sindrom Guillain‑Barré, termasuk 45 anak-anak, dan memperingatkan penyebaran yang “cepat dan mengkhawatirkan” di antara penduduk. Hal ini diakibatkan pencemaran air dan malnutrisi yang merupakan buah dari strategi perang Israel untuk membuat rakyat Gaza kelaparan.
Direktur Jenderal Kementerian, Dr. Munir Al‑Barsh, menyatakan bahwa tiga penderita telah meninggal diantaranya dua anak di bawah usia 15 tahun. Penyakit yang biasanya muncul satu kasus per tahun, kini menyebar dengan jumlah yang luar biasa dalam waktu singkat.
Dia menjelaskan, sindrom ini dimulai dengan hilangnya kemampuan menggerakkan otot secara tiba-tiba, biasanya dari kaki ke atas, dan bisa menyebabkan gangguan pernapasan hingga kematian bila tidak ditangani.
Pada tanggal 22 Juli, Kementerian Kesehatan mencatat 45 kasus lumpuh layu dalam periode dua bulan, Juni dan Juli. Lonjakan ini belum pernah tercatat sebelumnya, dan disebabkan karena memburuknya kondisi lingkungan di Gaza, terutama akibat masalah sanitasi, dan kekurangan gizi.
Al‑Barsh menekankan bahwa penyakit ini adalah akibat langsung dari air yang tercemar dan gizi buruk. Ia menyebut penyebaran penyakit ini sebagai “alarm serius atas runtuhnya sistem kesehatan dan bencana kemanusiaan” akibat blokade yang melarang masuknya obat-obatan dan nutrisi penting yang membunuh rakyat Gaza secara perlahan.