Kemunafikan Moral Barat di Tengah Genosida Gaza

Ditulis oleh: Amir Rotem*

Gaza, NPC – Pada 24 Oktober 2023, dua setengah minggu setelah serangan Hamas terhadap Israel, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza melaporkan rekor kelam: serangan bom Israel di Jalur Gaza telah membunuh 704 penduduk sipil Palestina hanya dalam 24 jam terakhir. Keesokan harinya, penulis Mesir-Kanada, Omar El Akkad, mengunggah sebuah kalimat yang kini terkenal di X:

“Suatu hari nanti, ketika semuanya sudah aman, ketika tidak ada lagi risiko pribadi untuk menyebut sesuatu sebagaimana adanya, ketika sudah terlambat untuk meminta pertanggungjawaban siapa pun, semua orang akan selalu merasa bahwa mereka menentang hal ini sejak awal.”

Kalimat tajam itu—yang telah ditonton lebih dari 10 juta kali—terus membekas di benak El Akkad hingga Februari 2025, saat ia menjadikannya sebagai judul buku ketiganya. One Day, Everyone Will Have Always Been Against This (Suatu Hari, Semua Orang Akan Selalu Mengaku Menentangnya) adalah karya non-fiksi pertamanya setelah dua novel yang mendapat pujian luas. Buku ini merupakan kumpulan esai yang mengkritisi kegagalan dan kemunafikan liberalisme Barat, khususnya dalam menanggapi kampanye pembersihan etnis oleh Israel di Jalur Gaza.

Kisah hidup El Akkad sendiri memberinya sudut pandang yang kaya dan kompleks. Ia lahir di Kairo, lalu keluarganya pindah ke Qatar, tempat ia bersekolah di sekolah internasional Amerika. Saat usianya 16 tahun, mereka bermigrasi ke Kanada.

“Pagi terakhir saya di Qatar, suhu diperkirakan mencapai 40 derajat Celsius, atau sekitar 110 derajat Fahrenheit,” tulisnya dalam buku itu. “Sekarang, diperparah oleh sesuatu yang disebut wind chill, yang belum pernah saya dengar sebelumnya, suhu di Montreal bisa turun hingga minus 30 atau 40 derajat. Pada titik itu, perbedaan antara Celsius dan Fahrenheit tak lagi berarti.”

Kenangan itu, dari seorang anak berkulit gelap yang hidup di dunia kulit putih, menggambarkan benturan budaya yang mengguncang fondasi pribadi dan menguak struktur masyarakat yang tersembunyi. Namun meskipun berasal dari dunia Timur Tengah, perspektif El Akkad sangat tertanam dalam masyarakat Barat.

“Saya sudah bersekolah di sekolah Inggris dan Amerika sejak usia lima tahun,” katanya dalam wawancara setelah bukunya terbit. “Saya sangat akrab dengan dunia ini sejak kecil.”

“Selama satu setengah tahun terakhir, ada perasaan keterlibatan pribadi yang membuat retakan-retakan kecil yang saya lihat sejak kecil terasa seperti bagian dari keretakan besar. Ini adalah kisah tentang keterputusan: ada sesuatu yang selama ini saya sandarkan dalam hidup saya. Sekarang saya merasa terlepas darinya, tapi saya juga belum tahu apa yang ada di sisi seberangnya,” lanjutnya.

Pengalaman keluar masuk dari dunia “Barat” memberinya bahasa yang kaya dan berbobot.

“Tak lama setelah saya lahir, tahun 1982,” tulisnya, “orang yang membunuh Presiden Mesir Anwar Sadat dihukum tembak. Selama bertahun-tahun, seluruh negeri hidup di bawah tekanan darurat militer. Untuk keluar rumah di malam hari, dibutuhkan alasan resmi—jika tidak, siap-siap dihadang tentara yang membuat pos pemeriksaan di setiap persimpangan. Saya belajar, ini adalah ciri masyarakat yang gagal: keharusan untuk selalu memiliki alasan sah hanya untuk bisa ada.”

Penangkapan acak terhadap ayahnya mempercepat keputusan keluarga untuk pindah ke Qatar. Di sana, El Akkad menyaksikan pola hidup ekspatriat yang aneh.

“Di Timur Tengah, saya melihat orang Barat datang dan langsung mengurung diri di perumahan tertutup dan pertemanan yang juga tertutup,” jelasnya. “Sikap memisahkan diri ini sudah begitu normal, hingga orang Barat bisa hidup puluhan tahun di tempat seperti Qatar tanpa benar-benar bersentuhan dengan budaya lokal. (Betapa mengejutkannya, bertahun-tahun kemudian, ketika saya pindah ke Barat dan justru menemukan tuduhan seperti itu ditujukan pada orang seperti saya. Katanya kami tidak mau belajar bahasa, budaya, atau berasimilasi (menyesuaikan diri dengan lingkungan baru),”

Meski demikian, ia berusaha menyesuaikan diri.

“Saya tahu semua ini bukan untuk saya, tapi saya bisa membangun rumah dalam sistem ini,” tulisnya. “Saya percaya, bukan pada batas atas apa yang akan dilakukan masyarakat ini terhadap orang seperti saya, tapi pada batas atas apa yang akan mereka izinkan untuk dilakukan terhadap diri mereka sendiri, terhadap hak, kebebasan, dan prinsip mereka.”

Selama satu dekade, El Akkad bekerja sebagai jurnalis internasional di surat kabar besar Kanada. Ia meliput dari Afghanistan selama perang AS, dari Kairo saat Arab Spring, dan dari Washington. Meski dibentuk untuk bersikap kritis, ia tetap percaya pada keadilan narasi Barat. Sampai akhirnya, keyakinan itu runtuh.

Pasir di Roda Genosida

Sebagai pencerita, El Akkad mulai melihat pola narasi yang terus berulang di kalangan warga Barat berkulit putih yang “beritikad baik”. Kekaguman pada masyarakat adat yang melawan penjajah. Namun, kekaguman itu nyaris tidak pernah berlaku untuk perlawanan Palestina. Bagi orang Arab sepertinya, selalu ada tuntutan untuk meminta maaf.

“Nyatanya, sekeras apa pun saya mengecam, itu tidak pernah cukup,” tulisnya. “Saya berasal dari etnis, agama, dan posisi dalam sistem kasta dunia Barat yang tidak mengenal batas cukup dalam hal kecaman. Kami hanya boleh melakukan satu hal, dan satu hal saja: mengutuk, meminta maaf, diam atas kekejaman yang dilakukan siapa pun, asalkan bukan pihak yang diasumsikan sebagai musuh oleh mereka.”

“Tidak cukup,” lanjutnya, “untuk mengatakan saya membenci Hamas dengan alasan yang sama seperti saya membenci hampir semua pemerintah di Timur Tengah, pemerintahan yang menjadikan kekerasan sebagai prinsip, yang brutal terhadap kelompok minoritas, dan mengklaim diri sebagai pelindung sah satu agama.”

Menurut El Akkad, salah satu ciri khas liberalisme Barat adalah:

“Asumsi bahwa dalam sejarah, perlawanan yang mulia adalah satu-satunya bentuk perlawanan yang boleh dikenang. Tapi saat kejahatan masih terjadi, saat tanah masih dirampas, saat warga pribumi masih dibunuh, setiap bentuk perlawanan disebut sebagai terorisme dan harus dihancurkan demi peradaban. Baru setelah tanah cukup banyak dirampas dan cukup banyak warga pribumi dibunuh, barulah aman untuk mengenang perlawanan itu.”

Buku ini ditulis di AS, sebelum kemenangan Trump, saat pemerintahan Biden berbohong, menutupi kejahatan perang Israel, dan membanjiri negara itu dengan senjata untuk menghancurkan Gaza. Berulang kali, El Akkad mengungkapkan rasa jijiknya atas tuntutan untuk memilih antara keburukan yang nyata dengan sesuatu yang hanya sedikit lebih baik.

“Ketika negara-negara terkaya di dunia memutus pendanaan kepada satu-satunya badan yang mencegah ribuan warga sipil mati perlahan karena kelaparan, itu disebut ‘langkah bijak melawan terorisme,’” tulisnya. “Tapi ketika pemilih memutuskan untuk tidak ikut memilih siapa pun yang membiarkan kelaparan itu terjadi, mereka dicap bodoh, atau lebih buruk, dianggap pendukung fasisme.”

El Akkad menyoroti suara-suara perlawanan: dari Aaron Bushnell, prajurit AS yang membakar dirinya di depan kedutaan Israel di Washington, hingga Rasha Abdulhadi, penyair Palestina-Amerika queer yang menyerukan:

“Di mana pun kamu berada, berapa pun jumlah pasir yang bisa kamu lemparkan ke roda genosida, lakukan sekarang. Segenggam? Lemparkan. Seujung kuku? Kikis dan lemparkan. Ganggu sebisamu.”

Hal yang sulit diabaikan, kata El Akkad, adalah apatisme yang menyambut tindakan-tindakan ini.

“Seseorang menyumbangkan honor bicara ke badan amal yang berusaha mengirim bantuan ke anak-anak yang kelaparan, yang didapat hanyalah keheningan. Seseorang memberi saran pada direktur festival agar mengakui horor yang terjadi, tahu bahwa setelah pengakuan itu, yang muncul hanyalah keheningan atau tepuk tangan sopan yang sebenarnya bentuk keheningan lainnya. Tidak ada masyarakat dalam sejarah yang bisa menyumbang atau bertepuk tangan untuk keluar dari genosida.”

Dihadapkan pada ancaman eksistensial terhadap citra diri mereka sendiri, orang-orang liberal Barat semestinya merenungkan inti argumen El Akkad. Tapi, di luar faksi pro-Israel yang dogmatis, kaum progresif justru cenderung baru mengakui ketidakadilan ketika semuanya sudah terlambat, ketika yang tersisa hanyalah kalimat pasrah seperti: “Ya begitulah,” atau “Kami tak punya pilihan.”

El Akkad menulis bahwa ada sedikit perbedaan antara kaum konservatif dan kaum liberal di dunia Barat saat ini. Kaum konservatif mendukung kekerasan secara terang-terangan dan tanpa rasa malu, seolah-olah dengan bangga menandatangani bom. Sementara itu, kaum liberal juga ikut mendukung, tapi secara tidak langsung dan setengah hati, seperti hanya memberi paraf kecil tanpa berani mengakui sepenuhnya.

El Akkad menekankan pentingnya memberi perhatian pada orang-orang yang tetap bersuara, meskipun dunia memilih diam. Mereka ini sudah merasa tidak nyaman sejak awal, hanya dengan membayangkan bagaimana peristiwa ini akan dikenang suatu hari nanti. Meski begitu, El Akkad tetap menyimpan harapan bahwa dari kehancuran dan penderitaan ini, akan muncul rasa kemanusiaan yang bisa kita banggakan, bukan sesuatu yang membuat kita malu.

Untuk saat ini, katanya, kita punya alasan kuat untuk menolak ikut serta dalam kemunafikan.

El Akkad menulis bahwa ketika genosida mulai dianggap sebagai sesuatu yang “normal”, maka setiap gangguan terhadap keadaan itu, sekecil apa pun, menjadi sangat penting. Setiap aksi kecil perlawanan akan melatih keberanian dan kepekaan kita. Sebaliknya, kalau kita terus memilih untuk berpaling dan diam, kita justru membiasakan diri untuk mengabaikan kekejaman yang lebih besar di masa depan.

Bagi El Akkad, orang-orang yang tidak pernah dilayani oleh sistem justru punya tanggung jawab untuk membayangkan sistem yang lebih baik. Ia mendorong untuk melepaskan diri dari sistem itu, walau tahu sistem bisa merespons dengan kekerasan.

Banyak orang menganggap bahwa berpaling dari sistem adalah tindakan kekanak-kanakan atau tidak berguna. Tapi anggapan itu muncul karena mereka tidak bisa membayangkan bahwa berpaling bukan hanya soal meninggalkan sesuatu, tapi juga bisa berarti berjalan menuju sesuatu yang lebih baik. Bisa saja ada arah atau tujuan lain yang lebih bermakna. Jadi, berpaling bukan berarti putus asa, sinis, atau pasrah, justru itu bisa menjadi bentuk sikap yang lebih jujur dan bermartabat daripada apa pun yang pernah ditawarkan oleh sistem yang ada.

___

*Amir Rotem adalah Pemimpin Redaksi Local Call. Sebelumnya, ia menghabiskan lebih dari dua dekade sebagai editor dan penulis di surat kabar dan majalah di Israel. Ia telah menyunting beberapa program televisi, dan mendirikan majalah sastra triwulanan “Masmerim”. Dalam delapan tahun sebelum bergabung dengan Local Call, ia adalah direktur Departemen Advokasi Publik untuk Gisha, sebuah LSM yang berfokus pada hak Palestina untuk kebebasan bergerak.

(T.FJ/S: 972Mag)

You might also like