Tentara Israel menjaga kendaraan yang berisi tahanan Palestina yang diikat dan ditutup matanya di Gaza. (Foto: Moti Milrod/AP)
Tak hanya perempuan, laki-laki Palestina juga mengalami berbagai serangkaian kekerasan seksual yang dilakukan oleh militer pendudukan Israel. Kekerasan seksual telah digunakan sebagai senjata sistematis Israel, yang berarti telah menjadi bagian dari strategi penyiksaan dan kontrol yang diterapkan oleh otoritas, khususnya dalam sistem penahanan dan interogasi. Kejahatan ini bukan fenomena baru, melainkan telah berlangsung selama beberapa dekade, sebagaimana dibuktikan oleh berbagai penelitian dan investigasi.
Zionisme telah mengkonstruksi wacana tersendiri tentang identitas penduduk asli Palestina sebagai kelompok yang inferior, terbelakang, dan misoginis. Sebenarnya, pemberian label seperti ini telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam praktik pendudukan kolonial. Di sisi lain, Israel telah mempromosikan kepada publik demi kepentingan citranya, bahwa negaranya merupakan tempat berlindung yang “beradab”, modern, ramah feminis, juga inklusif terhadap komunitas LGBTQI+.[1] Artinya, isu kekerasan seksual yang sering diperjuangkan oleh kelompok-kelompok tersebut sebenarnya dipahami secara kolektif sebagai kejahatan yang tidak dapat diterima secara moral maupun sosial. Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kekerasan seksual terhadap laki-laki Palestina, khususnya oleh militer Israel, tetap terjadi dan bahkan seolah telah menjadi praktik yang dianggap normal oleh otoritas. Hal ini tampaknya telah berbanding terbalik dengan upaya Israel yang membentuk citra negaranya sebagai tempat yang “beradab” tadi.
Pada tahun 2017, Sekretaris Jenderal PBB menerbitkan laporan yang bertujuan untuk mendokumentasikan kekerasan seksual di zona konflik selama tahun 2016. Istilah penggunaan kekerasan seksual ini merujuk pada tindakan pemerkosaan, perbudakan seksual, prostitusi paksa, kehamilan paksa, aborsi paksa, penyiksaan paksa, sterilisasi, perkawinan paksa, dan segala bentuk kekerasan seksual lainnya yang setara yang dilakukan terhadap perempuan, laki-laki, anak perempuan, ataupun anak laki-laki. Namun, laporan tersebut tidak melibatkan Israel sebagai otoritas yang juga melakukan tindakan tersebut. Seakan-akan Israel dapat dijauhkan dari bingkai topik kekerasan seksual.[2] Dalam laporan terbaru PBB pada September 2024 dan Maret 2025, tercatat peningkatan signifikan kasus kekerasan seksual sejak 7 Oktober 2023, yang dilakukan oleh militer Israel. Perwakilan Khusus Sekretaris Jenderal untuk Kekerasan Seksual dalam Konflik (SRSG-SVC), Pramila Patten, mengatakan bahwa impunitas terus terjadi telah membuat pelaku semakin berani dan korban semakin bungkam.[3] Lewat laporan tersebut, diuraikan pula bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dijalankan oleh otoritas Israel, termasuk kepada laki-laki Palestina.

Bukti bahwa kekerasan seksual terhadap laki-laki Palestina telah berlangsung sejak lama dapat ditemukan dalam penelitian yang dilakukan oleh Daniel J.N. Weishut, seorang psikolog klinis dan akademisi yang mengajar di Bar Ilan University (Ramat Gan, Israel). Penelitiannya mengkaji ratusan kesaksian dari database PCATI (Public Committee Against Torture in Israel) yang dikumpulkan antara tahun 2005 hingga 2012. Para penyintas yang diwawancarai sebagian besar berasal dari wilayah Tepi Barat, Palestina. Dari laporan tersebut terungkap bahwa korban penyiksaan seksual dan penganiayaan berusia antara 15 hingga 43 tahun dengan rata-rata usia 24 tahun dan 9 diantaranya merupakan anak di bawah umur.[4] Para pelaku kekerasan seksual dalam laporan ini dibagi menjadi empat kategori:
Dari yang dilaporkan, bentuk-bentuk kekerasan seksual yang dilaporkan di antaranya:[5]
Jika di atas adalah berbagai laporan yang datang sejak 2005-2012, maka berikut adalah laporan yang datang sejak peristiwa 7 Oktober 2023. Data ini telah dirilis oleh Komisi Penyelidikan PBB untuk Wilayah Palestina yang Diduduk pada 13 Maret 2025 dalam sidang ke-58 Dewan HAM PBB. Berikut laporan kasus kekerasan seksual yang dialami oleh para laki-laki Palestina:[6]
Kasus-kasus di atas hanyalah sebagian kecil dari deretan bukti yang berhasil terdokumentasi. Perlu ditekankan bahwa masih banyak laporan lain yang belum terungkap karena berbagai faktor. Sebagian korban memilih diam karena trauma mendalam, stigma sosial yang melekat pada laki-laki korban kekerasan seksual, dan perasaan kehilangan harga diri akibat perlakuan yang merendahkan martabat mereka.
Pertama, yang perlu kita tekankan dari dampak adanya kekerasan seksual adalah trauma mendalam yang mengancam psikologis korban. Dampak ini tidak memandang gender, karena banyak laporan yang datang dari kalangan laki-laki bahwa mereka mengalami ketakutan dan gangguan psikologis. Rasa malu juga membayangi para korban yang mengalami penyiksaan dan pelecehan seksual selama di penjara Israel. Mustafa Jamal Kahlout, diwawancara oleh ABC di dalam tendanya di Rafah. Ia menceritakan pengalaman buruknya selama di penjara, termasuk menyampaikan rasa malunya ketika berbicara mengenai pelecehan seksual yang dialaminya. Saat itu, tentara Israel memasukkan sesuatu ke dalam anusnya, dan Mustafa mengakui bahwa hal tersebut amat memalukan untuk dibicarakan. Ia memahami tindakan tentara tersebut bertujuan untuk menghancurkan moral tahanan Palestina.[7]
Selain itu, para korban dari kalangan laki-laki kemungkinan besar dapat mengalami gangguan seksualitas akibat kekerasan seksual yang dilakukan oleh militer Israel. Salah satunya adalah disfungsi seksual, yang mana dampak ini umum terjadi di antara para korban yang mencakup penurunan minat seksual, ketidakmampuan untuk mempercayai pasangan, ketakutan dan keengganan terhadap aktivitas seksual, hingga disfungsi ereksi.[8] Dampak ini merupakan pelanggaran serius terhadap hak-hak pribadi dan martabat manusia.
Pada 8 Agustus 2024, terbit berita dari media NPR yang mendokumentasikan peristiwa penahanan tentara Israel atas tuduhan penyerangan seksual terhadap seorang tahanan dari Gaza. Hal ini sempat menjadi perbincangan panas publik, karena menjadi salah satu kasus kekerasan paling menonjol yang diselidiki oleh pihak berwenang selama konflik. Seorang pejabat medis Israel menyampaikan bahwa tahanan Gaza tersebut mengalami luka yang serius, yakni cedera rektum yang mengancam jiwanya. Ia mengatakan bahwa bukti tersebut menunjukkan tanda adanya serangan seksual dari benda asing yang dimasukkan. Kejadian mengerikan ini diakui oleh pejabat medis tersebut.[9]
Dengan demikian, kekerasan seksual bukan sekadar efek sampingan dari kolonialisme pendudukan, tetapi telah menjadi bagian dari logika dasar pendudukan Israel atas Palestina. Para akademisi mencatat bahwa aksi pendudukan Israel atas Palestina merupakan fenomena yang dirasialkan, diseksualisasikan, dan digenderkan.
Penulis: Nadea Salsabila Putri
Sumber:
[1] Rabab Abdulhadi, “Israeli Settler Colonialism in Context: Celebrating (Palestinian) Death and Normalizing Gender and Sexual Violence,” Feminist StudieS 45, no. 2–3 (2019): 570.
[2] Kathryn Medien, “Israeli Settler Colonialism, ‘Humanitarian Warfare,’ and Sexual Violence in Palestine,” International Feminist Journal of Politics 23, no. 5 (2021): 9.
[3] “UN Special Representative on Sexual Violence in Conflict, Ms. Pramila Patten, Expresses Serious Concerns over Reported Instances of Rape and Other Forms of Sexual Violence against Palestinian Detainees,” United Nations, September 9, 2024, https://www.un.org/sexualviolenceinconflict/press-release/un-special-representative-on-sexual-violence-in-conflict-ms-pramila-patten-expresses-serious-concerns-over-reported-instances-of-rape-and-other-forms-of-sexual-violence-against-palestinian-detainee/.
[4] Daniel J.N. Weishut, “Sexual Torture of Palestinian Men by Israeli Authorities,” Reproductive Health Matters 23, no. 46 (2015): 74.
[5] Ibid., 75–78.
[6] Independent International Commission of Inquiry on the Occupied and Palestinian Territory, including East Jerusalem, and Israel, “‘More than a Human Can Bear’: Israel’s Systematic Use of Sexual, Reproductive and Other Forms of Gender-Based Violence since 7 October 2023” (Human Rights Council Fifty-eighth session, March 13, 2025), 22–25.
[7] Lauren Day, “Gazan Men Who Say They Were Detained by Israeli Army Detail Shocking Allegations of Physical and Sexual Abuse,” ABC News, April 19, 2024, https://www.abc.net.au/news/2024-04-19/allegations-of-gaza-abuse/103692464.
[8] Weishut, “Sexual Torture of Palestinian Men by Israeli Authorities,” 72.
[9] Daniel Estrin, “Israel Detains Soldiers on Allegations of Sexual Assault of a Detainee from Gaza,” NPR, August 8, 2024, https://www.npr.org/2024/08/08/nx-s1-5057410/israel-detains-soldiers-on-allegations-of-sexual-assault-of-a-detainee-from-gaza.