Jakarta, NPC – Nusantara Palestina Center (NPC) resmi meluncurkan dan membedah buku berjudul Badai Al-Aqsa: Eksistensi, Harga Diri dan Kemanusiaan dalam gelaran Islamic Book Fair (IBF) 2025. Acara ini diselenggarakan di Panggung Kreasi, Jakarta Convention Center (JCC), pada Jumat (20/6), dan menghadirkan sejumlah narasumber penting dari kalangan akademisi dan peneliti.
Peluncuran buku ini menghadirkan Agung Nurwijoyo, B.A., M.Sc., peneliti dari Center for Documentation and Consultation El-Sharq (CDC El-Sharq) sekaligus penulis Badai Al-Aqsa. Turut hadir pula Pizaro Gozali Idrus, M.A., Ph.D (Cand.), pengamat Timur Tengah dan jurnalis internasional, serta Prof. Yon Machmudi, Ph.D., Guru Besar Ilmu Sejarah dan Kajian Timur Tengah dari Universitas Indonesia.
Buku Badai Al-Aqsa merupakan hasil riset kolaboratif antara CDC El-Sharq dan Nusantara Palestina Center (NPC), yang diterbitkan pada tahun 2025. Buku ini merekam secara kronologis dan analitis rangkaian peristiwa besar yang dikenal sebagai Thufan Al-Aqsa atau Badai Al-Aqsa sejak 7 Oktober 2023 hingga hari ke-200, sekaligus menyoroti dinamika narasi global yang menyertainya.
Dalam pemaparannya, Agung Nurwijoyo menjelaskan latar belakang penyusunan buku serta proses penelitian yang dilalui. Ia menilai bahwa peristiwa 7 Oktober 2023 telah menjadi titik balik dalam peta opini global mengenai Palestina. Termasuk berhasil menjeda wacana normalisasi negara-negara Arab dengan Israel,
“Badai Al-Aqsa dalam tempo satu tahun merubah hal itu semua. Fokus (dunia) semua ke Palestina, negara-negara yang sudah melakukan normalisasi, khususnya yang ingin melakukan normalisasi seperti Arab Saudi misalkan meng-hold dulu rencana tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu, Pizaro Gozali Idrus menyampaikan apresiasi atas peran NPC dalam mendorong penerbitan buku-buku riset yang mendalam terkait Palestina. Ia menekankan bahwa hal ini merupakan bentuk keseriusan NPC dalam bidang edukasi yang tidak banyak dilakukan oleh lembaga kemanusiaan,
“Saya kira jarang ya, lembaga kemanusiaan yang dengan serius mendukung kerja-kerja riset. Biasanya lembaga kemanusiaan ya sudah, hanya bergerak untuk menyalurkan donasi saja,” pungkasnya.
Pizaro juga memaparkan perkembangan geopolitik internasional yang terjadi sejak meletusnya Badai Al-Aqsa, serta bagaimana posisi negara-negara besar dalam merespons krisis kemanusiaan tersebut.
Prof. Yon Machmudi dalam paparannya mengajak publik untuk memahami peristiwa Badai Al-Aqsa sebagai bagian dari sejarah panjang penjajahan dan agresi atas Palestina. Ia menekankan bahwa konflik ini bukan semata insiden terkini, melainkan kelanjutan dari proses kolonialisme sejak 1917, artinya telah dimulai sejak 100 tahun yang lalu.
Lebih lanjut, ia menegaskan perlunya keteguhan sikap politik Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina di tengah dinamika eskalasi militer kawasan.
“Kepentingan Indonesia adalah mengawal Palestina Merdeka, selesai,” tegasnya.
Menutup acara, seluruh narasumber sepakat bahwa Indonesia sebagai bangsa besar harus meninggalkan legacy dalam perjuangan Palestina. Untuk memperkuat dampak dan jangkauan perjuangan tersebut, mereka mendorong pentingnya masifikasi gerakan yang terstruktur dan kolektif.
Penerbitan buku Badai Al-Aqsa merupakan bagian dari komitmen advokasi NPC di ranah edukasi dan intelektual. Sebagai lembaga kemanusiaan, NPC tidak hanya bergerak dalam penyaluran bantuan, tetapi juga aktif membangun kesadaran publik melalui pendidikan dan penerbitan riset-riset strategis.