Ketegangan antara Iran dan Israel kembali memuncak, memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan udara, retorika balas dendam, hingga eskalasi militer membuat dunia menoleh pada dua kekuatan besar yang saling berhadapan. Namun di balik sorotan yang terang terhadap konflik dua kekuatan besar itu, kabar dari Palestina justru meredup. Jeritan rakyat Gaza yang masih terjebak di tengah blokade, penderitaan di Tepi Barat yang kian terpuruk, serta krisis kemanusiaan yang belum usai, perlahan menghilang dari radar pemberitaan dunia. Apakah Palestina kembali menjadi isu yang hanya dijadikan alat tawar, namun terlupakan ketika peluru berhenti menyalak? Artikel ini akan mengungkap perkembangan terkini di Palestina yang luput dari sorotan, saat konflik Iran-Israel memanas dan perhatian dunia perlahan menjauh dari penderitaan rakyat di Gaza dan Tepi Barat.

Gaza menghadapi kekeringan buatan manusia karena sistem airnya rusak di tengah serangan Israel yang terus berlangsung di wilayah Palestina yang terkepung, menurut badan anak-anak PBB (UNICEF). “Anak-anak akan mulai meninggal karena kehausan … Hanya 40 persen fasilitas produksi air minum yang masih berfungsi,” kata juru bicara UNICEF, James Elder, kepada wartawan di Jenewa pada hari Jumat. “Kami jauh di bawah standar darurat dalam hal air minum untuk masyarakat di Gaza,” tambahnya. UNICEF juga melaporkan peningkatan 50 persen pada anak-anak usia enam bulan hingga lima tahun yang dirawat karena malnutrisi dari April hingga Mei di Gaza, serta setengah juta orang yang mengalami kelaparan. Badan tersebut menyatakan bahwa sistem distribusi bantuan yang didukung AS dan dijalankan oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF) “membuat situasi yang sudah putus asa menjadi lebih buruk.”[1]

Krisis energi yang akut di Gaza kini menjadi ancaman utama bagi kelangsungan hidup warga di wilayah yang dijajah, menurut peringatan terbaru dari Dewan Pengungsi Norwegia (NRC). Dalam laporan yang dirilis pada Senin (23/06/2025), NRC menyoroti bahwa “penolakan akses energi secara sengaja”, termasuk listrik dan bahan bakar, telah merusak penyediaan kebutuhan dasar masyarakat di Jalur Gaza.[2] Peringatan ini menambah kekhawatiran atas memburuknya krisis kemanusiaan akibat blokade ketat Israel di tengah konflik bersenjatanya dengan Hamas.
Sejak Maret, Israel menghentikan pasokan makanan, udara, dan bahan bakar ke Gaza, membuat 2,1 juta penduduk terjebak dalam kegelapan total, menurut data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA). Pasokan listrik yang sangat terbatas telah melumpuhkan layanan vital, terutama di sektor kesehatan.[3]
“Di Gaza, energi bukan soal kenyamanan, melainkan soal kelangsungan hidup,” tegas Benedicte Giaever, Direktur Eksekutif NORCAP, unit tanggap darurat NRC. Ia menambahkan bahwa ketika keluarga tidak bisa memasak, rumah sakit berhenti beroperasi, dan pompa air tidak berfungsi, dampaknya langsung terasa dan sangat menghancurkan.[4] Oleh karena itu, kebutuhan energi harus menjadi prioritas dalam setiap respons kemanusiaan internasional.
NRC mencatat bahwa minimnya pasokan listrik telah mengganggu pelayanan kesehatan secara serius: operasi darurat tertunda, ventilator dan inkubator tidak berfungsi, serta mesin dialisis terhenti. Fasilitas desalinasi udara juga berhenti bekerja, menyebabkan 70 persen rumah tangga kehilangan akses air bersih. Akibatnya, banyak keluarga terpaksa membakar sampah plastik untuk memasak, hal tersebut tentunya membahayakan kesehatan mereka.[5]
Selain itu, kekurangan listrik meningkatkan risiko kekerasan berbasis gender setelah malam tiba. “Warga Gaza sudah terlalu lama terjebak dalam lingkaran kekerasan, blokade, dan kekurangan. Namun krisis saat ini menghadirkan tingkat keputusasaan baru yang mengancam kehidupan sehari-hari serta harapan jangka panjang mereka untuk pemulihan,” ujar Jan Egeland, Sekjen NRC, sambil mendesak komunitas internasional menjamin akses energi bagi warga Gaza.[6]

Sejak Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) mulai beroperasi pada akhir Mei, lebih dari 300 warga Palestina telah tewas dan hampir 3.000 lainnya luka-luka akibat serangan militer Israel di sekitar lokasi distribusi bantuan yang dikelola yayasan tersebut. Insiden mematikan ini terjadi di tengah kelanjutan agresi Israel yang dituding bersifat genosida terhadap warga dan wilayah Gaza yang terkepung.[7] GHF, yang didukung oleh Amerika Serikat dan bekerja sama dengan Israel, sepenuhnya bergantung pada jalur distribusi bantuan yang dikendalikan Israel, seperti Pelabuhan Ashdod dan perbatasan Karem Abu Salem. Setiap hari, ratusan warga Palestina yang kelaparan berkumpul di sekitar truk bantuan dengan harapan mendapatkan makanan untuk keluarga mereka. Namun, lokasi distribusi ini justru menjadi sasaran tembakan pasukan Israel.
Pada hari Rabu, tank-tank Israel menembaki kerumunan yang sedang memberikan bantuan, menjatuhkan sedikitnya 59 orang, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan dalam eskalasi kekerasan terkini. Video yang tersebar luas menunjukkan jenazah bergelimpangan di jalan, beberapa masih memegang kantong tepung. Dalam tiga minggu terakhir, lebih dari 420 warga Palestina dilaporkan tewas di dekat tiga titik distribusi bantuan di wilayah tengah dan selatan Gaza. Saksi mata melaporkan bahwa mereka ditembaki oleh pasukan darat Israel dan drone bersenjata saat menunggu bantuan. Serangan ini tidak hanya menyebabkan kematian, tetapi juga melukai banyak orang yang kini sulit mendapatkan perawatan medis karena sistem kesehatan Gaza telah akibat hancurnya serangan Israel. Banyak korban luka menderita penderitaan berat karena tidak tersedianya fasilitas pengobatan yang memadai.
GHF mulai beroperasi pada 27 Mei, setelah hampir tiga bulan Gaza mengalami pemblokiran total terhadap masuknya bantuan kemanusiaan. Yayasan ini mengklaim hadir untuk menanggapi ancaman kelaparan akut yang menimpa lebih dari dua juta penduduk Gaza, seperti yang telah diperingatkan oleh PBB. Berbeda dengan mekanisme distribusi bantuan yang biasa dikoordinasikan oleh PBB, GHF menggunakan perusahaan swasta keamanan bersenjata asal AS dan mengelola penyaluran bantuan secara independen. [8] Namun, pendekatan ini menuai kritik. Para pengamat yang menilai GHF juga mendukung strategi Israel untuk mendorong warga Palestina pindah ke wilayah Gaza bagian selatan yang semakin sempit. Israel, yang secara historis menentang dominasi PBB dalam distribusi bantuan kemanusiaan untuk Palestina, membela model GHF sebagai upaya untuk mencegah jatuhnya bantuan ke tangan Hamas.
Sebuah laporan dari Euro-Med Human Rights Monitor mengungkap bahwa Israel juga memanfaatkan kelompok senjata lokal bernama “Geng Abu Shabab.” Kelompok ini diperkirakan dibentuk dan dipersenjatai oleh militer Israel, mengenakan seragam bertuliskan “Layanan Kontra-Terorisme Palestina,” dan terlibat dalam penjarahan bantuan, mengendalikan kepadatan, serta menembaki warga sipil atas koordinasi dengan pasukan Israel.[9] Mereka bahkan dilaporkan menjual kembali bantuan PBB di bawah perlindungan militer. Selain itu, keterlibatan tentara bayaran asing dari perusahaan militer swasta AS dalam pertempuran langsung di Gaza yang beroperasi bersama pasukan Israel dipandang sebagai pelanggaran terhadap Konvensi PBB tentang Tentara Bayaran tahun 1989. Praktik ini dapat disarankan sebagai pembunuhan di luar hukum, penggunaan senjata perang, dan pelanggaran hukum humaniter internasional.

Pasukan pendudukan Israel kembali menutup akses Masjid Al-Aqsa bagi jamaah Muslim Palestina pada Ahad (22/6/2025), hingga pemberitahuan lebih lanjut.[10] Para jamaah diminta meninggalkan area halaman masjid oleh otoritas keamanan Zionis, tanpa kepastian kapan akses akan dibuka kembali. Menurut kesaksian warga setempat, polisi Israel hanya mengizinkan pegawai, pekerja, dan penjaga masjid untuk masuk ke dalam kompleks Al-Aqsa, mengikuti instruksi baru dari Komando Front Dalam Negeri Israel. Laporan ini dikonfirmasi oleh Quds Press.
Penutupan penuh ini terjadi hanya tiga hari setelah pembukaan sebagian akses ke Masjid Al-Aqsa, yang sebelumnya dibatasi maksimal 500 jamaah.[11] Namun, harapan untuk kembali beribadah secara normal seiring dengan kebijakan pengetatan baru yang diberlakukan secara sepihak.
Ketegangan meningkat pada Sabtu malam, ketika pasukan polisi Israel menggerebek seluruh area ruang shalat di kompleks Al-Aqsa, termasuk Kantor Catatan Sipil yang bertugas menjaga masjid dan unit pemadam kebakaran di halaman Kubah Sakhrah. Dalam penggerebekan tersebut, pasukan merusak isi ruangan dan melemparkan mushaf Al-Qur’an ke tanah, dengan dalih melakukan penggeledahan ruang penyimpanan kitab suci. Empat orang penjaga Masjid Al-Aqsa turut ditangkap dalam kejadian tersebut. Mereka adalah Mohammed Arabash, Ramzi Al-Za’anin, Basem Abu Jumaa, dan Iyad Odeh. Setelah menjalani interogasi, keempatnya dibebaskan, namun dikenai larangan memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa selama sepekan, dengan kemungkinan diperpanjang.[12]
Langkah penutupan ini merupakan kelanjutan dari kebijakan perjanjian sebelumnya, termasuk penutupan pada Jumat lalu yang bertepatan dengan dimulainya agresi militer Israel terhadap Iran. Situasi ini menambah ketegangan dan menenangkan kondisi warga Palestina yang selama ini telah mengalami kebebasan beribadah di tempat-tempat suci tersebut.
Di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Israel, nasib rakyat Palestina justru semakin tenggelam dan terlupakan. Di Gaza, jutaan warga hidup dalam krisis: kekurangan makanan, air bersih, listrik, dan layanan kesehatan yang hancur akibat blokade dan serangan terus menerus. Warga yang mencari bantuan malah menjadi sasaran tembak, sementara tempat-tempat suci seperti Masjid Al-Aqsa kembali ditutup dan diserang. Saat perhatian dunia tertuju pada ketegangan dua kekuatan besar, rakyat Palestina terus menderita dalam diam. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak tinggal diam, terus bersuara dan mendukung perjuangan rakyat Palestina demi keadilan, kemanusiaan, dan kemerdekaan yang layak mereka dapatkan.
Penulis: Fuad Nur Zaman
Sumber:
[1] TRT Global, “Gaza menghadapi kekeringan buatan manusia akibat sistem air yang rusak: UNICEF,” TRT Global (Bahasa Indonesia), 23 Juni 2025, https://trt.global/bahasa-indonesia/article/4bfae2bad6e7 (diakses 25 Juni 2025).
[2] Al Jazeera, “Energy crisis adds to survival threats in war-torn Gaza: NGO,” Al Jazeera , 23 Juni 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/6/23/energy-crisis-adds-to-survival-threats-in-war-torn-gaza-ngo (diakses 25 Juni 2025).
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Al Jazeera, “Energy crisis adds to survival threats in war-torn Gaza: NGO,” Al Jazeera , 23 Juni 2025, https://www.aljazeera.com/news/2025/6/23/energy-crisis-adds-to-survival-threats-in-war-torn-gaza-ngo (diakses 25 Juni 2025).
[6] Ibid.
[7] TRT Global, “Perangkap bantuan mematikan Gaza: Lebih dari 300 warga tewas saat mencari bantuan sejak 27 Mei,” TRT Global (Bahasa Indonesia) , 17 Juni 2025, https://trt.global/bahasa-indonesia/article/7fc1d1f7f03f (diakses 25 Juni 2025).
[8] TRT Global, “Mereka datang untuk mencari makanan, tapi yang mereka dapatkan adalah peluru: Pembantaian di tempat bantuan Gaza terus meningkat,” TRT Global (Bahasa Indonesia) , 20 Juni 2025, https://trt.global/bahasa-indonesia/article/224468c43de1(diakses 25 Juni 2025).
[9] TRT Global, “Mereka datang untuk mencari makanan, tapi yang mereka dapatkan adalah peluru: Pembantaian di tempat bantuan Gaza terus meningkat,” TRT Global (Bahasa Indonesia) , 20 Juni 2025, https://trt.global/bahasa-indonesia/article/224468c43de1(diakses 25 Juni 2025).
[10] “Pasukan Zionis Tutup Masjid Al‑Aqsa 4 Hari Berturut‑turut,” Minanews.net , 24 Juni 2025, https://minanews.net/pasukan-zionis-kembali-tutup-masjid-al-aqsa/ (diakses 25 Juni 2025).
[11] Ibid.
[12] Ibid.