Di Tengah Genosida Penduduk Palestina, Israel dan Suriah Akan Normalisasi Hubungan

Gaza, NPC – Berdasarkan laporan media Israel pada Sabtu (28/06/2025), yang mengutip sumber dari Suriah, negara Zionis Israel dan Suriah dilaporkan akan menandatangani perjanjian damai sebelum akhir tahun 2025,.

“Menurut isi kesepakatan tersebut, Israel akan secara bertahap menarik pasukannya dari seluruh wilayah Suriah yang didudukinya setelah serangan ke zona penyangga pada 8 Desember 2024, termasuk puncak Gunung Hermon,” tulis i24NEWS.

Israel telah menduduki Dataran Tinggi Golan sejak Perang Enam Hari pada tahun 1967. Setelah Perang Yom Kippur tahun 1973, sebuah zona penyangga tanpa militer dibentuk di wilayah tersebut.

Setelah kelompok militan Hayat Tahrir al-Sham (HTS) menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad pada bulan Desember, tantara penjajah Israel kembali menguasai wilayah baru di zona penyangga dan bahkan melampauinya.

Tentara penjajah Israel juga secara rutin melakukan operasi militer hingga jauh ke dalam wilayah Suriah sebelum kemudian mundur kembali. Israel juga melancarkan serangan udara besar-besaran yang bertujuan menghancurkan hampir seluruh sistem pertahanan rudal dan kemampuan militer canggih milik Suriah.

Sumber dari Suriah yang diwawancarai i24NEWS mengatakan bahwa kesepakatan ini akan sepenuhnya menormalisasi hubungan antara kedua negara, dan menyebut Dataran Tinggi Golan akan menjadi “taman perdamaian”.

Pada 27 Juni, Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyampaikan bahwa Presiden AS Donald Trump berharap Suriah akan menjadi negara berikutnya yang menormalisasi hubungan dengan Israel dengan bergabung dalam Abraham Accords.

“Presiden sangat berharap semakin banyak negara di kawasan ini yang bergabung dalam Abraham Accords,” kata Leavitt kepada para wartawan,  sambil menyoroti bahwa Trump telah membahas hal ini secara langsung dengan Presiden de facto Suriah yang baru, Ahmad al-Sharaa.

Leavitt menyebut bahwa ketika Presiden Trump bertemu dengan Presiden Sharaa, salah satu permintaan utamanya adalah agar Suriah menandatangani Abraham Accords.

“Kami ingin melihat perdamaian yang panjang dan abadi di Timur Tengah, dan inilah jalan ke depan,” ujar Leavitt.

Israel dan Suriah telah terlibat dalam pembicaraan langsung dan tidak langsung yang difasilitasi oleh Uni Emirat Arab (UEA) sejak setidaknya bulan Mei.

Pada tahun 2011, Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya memulai operasi rahasia untuk menggulingkan pemerintahan Assad. Operasi perubahan rezim yang diberi nama “Operation Timber Sycamore” oleh CIA ini melibatkan dukungan terhadap kelompok ekstremis, termasuk yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, untuk menjatuhkan Assad.

Operasi ini berujung pada naiknya pemimpin HTS, Sharaa, mantan komandan ISIS yang dikenal dengan nama Abu Mohammad al-Jolani, sebagai presiden de facto negara tersebut.

Dalam wawancara akhir Mei dengan Jewish Journal, Sharaa menyatakan keterbukaan mengejutkan terhadap Israel dan mengusulkan model baru kerja sama keamanan regional berdasarkan kepentingan bersama, menurut laporan i24NEWS.

Operation Timber Sycamore

Operation Timber Sycamore adalah operasi rahasia yang diluncurkan oleh Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA) bersama sekutunya, seperti Arab Saudi, sekitar tahun 2012. Tujuan utama operasi ini adalah untuk menjatuhkan pemerintahan Presiden Suriah, Bashar al-Assad, dan menggantinya dengan rezim yang lebih pro-Barat. Dalam pelaksanaannya, CIA memberikan dukungan berupa senjata, pelatihan militer, dan dana kepada kelompok-kelompok pemberontak yang menentang Assad. Namun, banyak dari kelompok yang didukung tersebut ternyata merupakan milisi ekstremis, termasuk yang memiliki keterkaitan dengan Al-Qaeda.

Operasi ini dirahasiakan dari publik dan baru diketahui secara luas beberapa tahun kemudian. Akibat dari Timber Sycamore sangat besar, termasuk meningkatnya konflik bersenjata di Suriah, tumbuhnya kekuatan kelompok radikal seperti ISIS dan Hayat Tahrir al-Sham (HTS), serta terjadinya krisis kemanusiaan yang menyebabkan jutaan warga Suriah mengungsi. Banyak pihak mengkritik operasi ini karena dinilai justru memperburuk situasi dan tidak mencapai tujuan awalnya. Pada akhirnya, Operation Timber Sycamore dihentikan secara resmi oleh Presiden Donald Trump pada tahun 2017 karena dianggap tidak efektif dan berisiko tinggi.

Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan terus meningkatkan serangan ke Gaza, seiring dengan upaya pelaksanaan rencana Presiden AS, Donald Trump, untuk memindahkan penduduk Palestina dari wilayah tersebut. Sejak Oktober 2023, lebih dari 50.700 penduduk Palestina telah meninggal dunia akibat genosida brutal Israel di Gaza yang didukung Amerika Serikat, di mana sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak.

Pada November lalu, Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanannya, Yoav Gallant, atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza. Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas agresinya di wilayah Gaza.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

You might also like