Masa Depan Pelajar Gaza Terkubur Bersama Reruntuhan Sekolah

Jalur Gaza, NPC –  Suara bom dan peluru menggantikan suara lonceng sekolah di Gaza. Sudah 21 bulan, anak-anak dan remaja di Jalur Gaza tak lagi belajar di ruang kelas. Perang genosida yang terus berlanjut sejak 7 Oktober 2023 telah menghancurkan bangunan sekolah, membunuh ribuan guru dan murid, dan merenggut harapan puluhan ribu siswa yang seharusnya menatap masa depan.

Ahmad Ayyub, seorang siswa kelas 12 dari lingkungan Zeitoun, Gaza Timur, seharusnya tahun ini lulus dan mendaftar ke universitas untuk belajar farmasi. Namun perang membuat semua mimpi itu runtuh. Dia mencoba menangkap sinyal internet dari puing-puing agar bisa membaca berita ujian nasional hari pertama di Tepi Barat, tapi yang didapat hanya potongan video para siswa lain yang bisa duduk di ruang ujian.

Ia pun hanya bisa menatap layar ponselnya dari tengah reruntuhan, mengenang bagaimana ia sempat mengikuti kelas darurat secara digital meskipun akses internet sangat terbatas, dan betapa ayahnya pun melarangnya berangkat karena terlalu berbahaya di jalan.

Ahmad terlihat kurus dan lemah, tubuhnya mencerminkan penderitaan panjang akibat blokade makanan dan serangan udara Israel. Ia berkata, “Sudah hampir dua tahun kami tidak mendengar lonceng sekolah. Yang kami dengar hanya tembakan, ledakan roket, dan teriakan anak-anak yang ketakutan.”

Ahmad bukan satu-satunya. Ribuan siswa Gaza seharusnya mengikuti ujian akhir sekolah menengah tahun ini, tetapi semuanya gagal terlaksana. Sementara siswa di Tepi Barat termasuk Yerusalem Timur memulai ujian pada Sabtu pagi, ruang-ruang kelas di Gaza kosong. Sekolah-sekolah telah berubah menjadi puing atau tempat pengungsian.

Rowan Al-Shurafa, yang dikenal sebagai siswi cemerlang, juga kehilangan semangat. Ayah dan kakaknya gugur dalam serangan udara Israel. Sejak itu, dia berkata, “Saya selamat, tapi kehilangan segalanya, bahkan konsentrasi dan keinginan untuk belajar.” Ia mencoba belajar dari tenda, di tengah suara anak-anak menangis, kurangnya air, listrik, dan privasi. “Seperti menanam benih di gurun. Bagaimana saya bisa belajar kalau langit menurunkan api?”

Sementara itu, Neda Saluha juga harus menghadapi kenyataan pahit. Berkali-kali jadwal ujian ditunda, membuat semangatnya hilang. “Saya ingin kuliah teknik. Tapi setiap kali saya membuka buku, saya ingat rumah kami yang hancur dan hati saya juga hancur.”

Kementerian Pendidikan Palestina sempat menjadwalkan ujian pada 13 April lalu, tetapi kembali menundanya karena Israel melanjutkan serangan brutal ke Gaza sejak 18 Maret. Harapan pun berubah jadi kekecewaan.

Menurut data Kementerian Pendidikan, lebih dari 78 ribu siswa di Gaza telah kehilangan kesempatan ikut ujian sekolah menengah selama dua tahun terakhir. Tahun lalu ada 39 ribu siswa yang tak bisa ikut ujian. Hanya sekitar 2.000 siswa Gaza yang bisa ikut ujian tahun ini, itu pun karena mereka berhasil meninggalkan Gaza dan tersebar di 37 negara.

Sejak dimulainya perang pada Oktober 2023, lebih dari 16.470 siswa gugur, lebih dari 25.374 terluka, 914 guru dan tenaga sekolah syahid, dan lebih dari 4.300 lainnya terluka.

Sekitar 4.000 di antara siswa yang terbunuh adalah murid kelas 12, lahir tahun 2006–2007, yang seharusnya menghadapi ujian akhir tahun lalu dan tahun ini.

Tak hanya manusia yang jadi korban. Sistem pendidikan Gaza juga hancur total. Sebanyak 691 guru sekolah dan 219 dosen universitas dibunuh oleh militer Israel. Ribuan lainnya terluka. Hingga Juni 2025, total 143 sekolah dan universitas dihancurkan secara total, 366 lainnya rusak berat. Akibatnya, lebih dari 785 ribu pelajar tak bisa sekolah selama hampir dua tahun.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa hingga 21 Juni 2025, total korban gugur akibat agresi Israel mencapai lebih dari 55.908 jiwa, dengan lebih dari 131.138 orang terluka.

Sejak 27 Mei 2025, sebanyak 450 warga Gaza terbunuh saat berusaha mengambil bantuan kemanusiaan, dan lebih dari 3.400 lainnya terluka. Israel bahkan mengebom tempat-tempat pembagian bantuan makanan.

Sejak serangan kembali dilanjutkan pada 18 Maret, Israel telah menewaskan 5.599 orang dan melukai 19.097 lainnya, sekaligus menghancurkan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tahanan yang dicapai pada Januari.

Apa yang terjadi di Gaza bukan sekadar agresi militer. Ini adalah pembantaian pendidikan, pembunuhan masa depan, dan pemutusan generasi.

Israel tidak hanya menghancurkan rumah, tapi menghancurkan sekolah dan semangat belajar. Di Gaza, harapan tak dibunuh dengan peluru saja, tapi juga dengan penundaan, ketidakpastian, dan penderitaan yang panjang. Masa depan 78 ribu anak muda kini tergantung di ujung senapan.

(T.RS/S:Palinfo)

 

You might also like