‘Kami Telah Melakukan Kejahatan Perang’: Pengakuan Mengejutkan Mantan PM Israel Ehud Olmert

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menunjukkan peta solusi dua negara pada tahun 2008. Foto: BBC

Ehud Olmert pada bulan Mei 2025. Artikel opininya di Haaretz mengatakan perang pemerintah Israel “tidak memiliki peluang untuk berhasil”. Foto: Ariel Schalit/AP/The Guardian“Pemerintah Israel saat ini sedang melancarkan perang tanpa tujuan, tanpa sasaran atau perencanaan yang jelas dan tanpa peluang untuk berhasil. Sejak berdirinya, Negara Israel tidak pernah melancarkan perang seperti itu. Geng kriminal yang dipimpin oleh Benjamin Netanyahu telah membuat preseden yang tak tertandingi dalam sejarah Israel di bidang ini juga.”[1]

Pernyataan tajam ini bukan datang dari pengamat luar, melainkan dari Ehud Olmert, mantan Perdana Menteri Israel sendiri. Dalam sebuah opini yang diterbitkan situs web Israel Haaretz yang menggemparkan, Olmert tak hanya mengkritik strategi militer negaranya, tetapi juga secara terbuka menyebut bahwa Israel telah melakukan kejahatan perang. Pengakuan ini mengguncang opini publik internasional dan menambah tekanan terhadap pemerintah Israel untuk mempertanggungjawabkan tindakannya dalam konflik berkepanjangan dengan Palestina.

Siapa Ehud Olmert ?

Ehud Olmert adalah seorang politikus Israel yang menjabat sebagai wali kota Yerusalem (1993–2003) dan sebagai perdana menteri Israel (2006–2009). Ehud Olmert, yang sebelumnya menjabat sebagai wali kota Yerusalem (1993–2003), mulai dikenal di tingkat nasional setelah dipanggil oleh Perdana Menteri Ariel Sharon pada 2003 sebagai Wakil Perdana Menteri dan Menteri Perdagangan.

Sebagai penasihat utama Sharon, Olmert memainkan peran kunci dalam kebijakan penarikan Israel dari Gaza dan Tepi Barat. Pada 2006, setelah Sharon mengalami stroke, Olmert menjadi Perdana Menteri sementara dan memimpin partai Kadima untuk memenangkan pemilu. Di bawah kepemimpinannya, Israel terlibat dalam Perang Lebanon 2006 yang berakhir dengan kegagalan, memicu kritik baik domestik maupun internasional. Meskipun berusaha melanjutkan kebijakan Sharon terkait penyelesaian dengan Palestina, tuduhan korupsi mulai merusak reputasinya.

Pada 2008, Olmert dituduh menerima suap dan mengumumkan pengunduran dirinya setelah pemilihan internal partai. Ia digantikan oleh Benjamin Netanyahu pada 2009. Olmert kemudian didakwa atas kasus korupsi terkait suap dan proyek apartemen Holyland, dan meskipun dibebaskan dari sebagian dakwaan, ia dijatuhi hukuman penjara, yang akhirnya dikurangi dan dibebaskan bersyarat pada 2017 setelah menjalani 16 bulan penjara.[2]

Pada tahun 2008, Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menawarkan kepada Presiden Palestina Mahmoud Abbas usulan perdamaian bersejarah berupa solusi dua negara, yang mencakup pembentukan negara Palestina di lebih dari 94% wilayah Tepi Barat, dengan 4,9% wilayah itu dianeksasi Israel, ditukar dengan wilayah yang setara di sepanjang perbatasan Gaza dan Tepi Barat. Yerusalem akan dibagi, sementara “cekungan suci” dikelola oleh komite internasional yang terdiri dari Israel, Palestina, Yordania, Arab Saudi dan AS. Namun Abbas menolak menandatangani peta tanpa berkonsultasi dengan para ahli, dan meskipun menyetujui pertemuan lanjutan, hal itu tidak pernah terjadi. Situasi politik Israel, skandal korupsi yang menjerat Olmert, serta kekerasan di Gaza, juga turut andil menggagalkan inisiatif ini.[3]

Mantan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert menunjukkan peta solusi dua negara pada tahun 2008. Foto: BBC

Berbagai Pernyataan Ehud Olmert terkait Tindakan Israel di Palestina

Berikut beberapa narasi penting yang pernah disampaikan oleh Ehud Olmert menanggapi Tindakan Pemerintah Israel di Palestina:

1. Netanyahu adalah orang yang paling disalahkan atas kematian para sandera

Dalam wawancara dengan FRANCE 24 yang diterbitkan pada (09/03/2024), mantan Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, menyatakan bahwa Perdana Menteri Binyamin Netanyahu pada akhirnya harus bertanggung jawab atas kematian tragis enam sandera di Gaza.

Israel menyatakan bahwa keenam sandera tersebut “dibunuh secara brutal oleh teroris Hamas”, namun klaim ini dibantah oleh kelompok tersebut. “Mereka dibunuh oleh Hamas,” kata Olmert. “Namun, Netanyahu bertanggung jawab atas situasi yang menyebabkan kematian keenam sandera ini.” Olmert juga mengatakan bahwa Netanyahu “tidak akan mencapai kesepakatan karena ia memang tidak bermaksud membawa para sandera kembali; ia ingin melanjutkan perang.” Olmert menegaskan: “Hanya ada satu cara untuk membawa para sandera kembali: Israel harus setuju untuk mengakhiri perang. Sesederhana itu.”[4]

Tangkapan layar wawancara France 24 dengan Ehud Olmert. Foto: France 24

2. Sudah saatnya bagi Israel untuk menghentikan perang di Gaza

Dalam sebuah catatan wawancara yang di terbitkan oleh The Guardian pada (30/05/2025), Ehud Olmert menyatakan bahwa sudah saatnya bagi Israel untuk menghentikan perang di Gaza.

Ia mengatakan, “Banyaknya warga sipil tak berdosa yang terbunuh di Gaza adalah tragedi yang tidak dapat diterima. Meski begitu, semua ini merupakan konsekuensi dari perang yang brutal dan seharusnya sudah berakhir sejak awal tahun 2024. Sayangnya, perang terus berlanjut tanpa tujuan yang jelas dan tanpa visi politik bagi masa depan Gaza dan kawasan sekitarnya.”[5]

3. Pemerintah Israel sekarang adalah musuh dari dalam. Mereka telah menyatakan perang terhadap negara dan penduduknya sendiri.

Dalam sebuah catatan wawancara yang di terbitkan oleh The Guardian pada (30/05/2025), Ehud Olmert menyatakan bahwa Saya percaya pemerintah Israel sekarang adalah musuh dari dalam. Pemerintah telah menyatakan perang terhadap negara dan penduduknya. Tidak ada musuh eksternal yang telah kita lawan selama 77 tahun terakhir yang telah menyebabkan kerusakan lebih besar pada Israel daripada apa yang telah ditimpakan kepada kita oleh pemerintah yang dipimpin Itamar Ben-Gvir, Netanyahu, dan Bezalel Smotrich. Tidak ada musuh eksternal yang berhasil menghancurkan solidaritas sosial yang menjadi dasar kekuatan masyarakat Israel dalam semua ujian eksistensial yang dihadapinya sejak 1948, seperti yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah Netanyahu.”[6]

4. Israel telah melakukan kejahatan perang

Dalam sebuah catatan wawancara yang di terbitkan oleh The Guardian pada (27 /05/2025) Olmert seringkali menyatakan bahwa Israel tidak melakukan kejahatan perang di Gaza dan mengklaim dengan keyakinan bahwa “tidak ada satu pun pejabat pemerintah yang memberi perintah untuk menyerang warga sipil Gaza tanpa pandang bulu”.

Namun, dalam beberapa minggu terakhir, Olmert merevisi pernyataannya dengan kalimat “Saya tidak dapat melakukannya lagi,” katanya. “Apa yang kita lakukan di Gaza sekarang adalah perang yang menghancurkan: pembunuhan warga sipil yang tidak pandang bulu, tanpa batas, kejam, dan kriminal. Itu adalah hasil dari kebijakan pemerintah  yang secara sadar, jahat, bengis, dan tidak bertanggung jawab.” “Ya, Israel melakukan kejahatan perang,” pungkasnya.[7]

Berbagai Reaksi Pemerintah Israel atas Pernyataan Ehud Olmert

Dalam wawancara dengan BBC beberapa waktu yang lalu, Olmert menggambarkan konflik yang terus berlanjut ini sebagai “perang tanpa tujuan, perang tanpa peluang untuk mencapai apa pun yang dapat menyelamatkan nyawa para sandera.”[8] yang diikuti oleh ketua partai Demokrat, Yair Golan, mantan wakil kepala staf angkatan darat Israel, yang mengatakan kepada penyiar nasional Kan bahwa “negara yang waras tidak berperang melawan warga sipil, tidak membunuh bayi sebagai hobi, dan tidak bertujuan untuk mengusir penduduk”.[9]

Komentar-komentar tersebut menimbulkan kegaduhan di Israel. Menteri luar negeri Israel, Gideon Sa’ar, menuduh Olmert dan Golan “mengambil bagian aktif dalam kampanye diplomatik, dalam perang propaganda dan dalam perang hukum melawan negara Israel dan IDF”.

Menteri Pendidikan Yoav Kisch mengatakan bahwa Olmert dan Golan telah bergabung dengan “kelompok radikal kiri yang mencemarkan nama baik Israel di kancah internasional”. “Saat pasukan IDF mempertaruhkan nyawa mereka melawan teroris pembunuh yang ingin menghancurkan kita, dia memutuskan untuk menghasut dan menusukkan pisau ke punggung mereka,” kata Kisch. Menteri Kesetaraan Sosial May Golan menuduh Olmert “meludahi muka” tentara Israel. “Tepatnya, ada 58 orang tak berdosa di Gaza,” katanya, merujuk pada sandera Israel yang ditawan di wilayah tersebut.[10]

Sejumlah media Israel menafsirkan pernyataan mantan Perdana Menteri Ehud Olmert sebagai reaksi terhadap kemarahan kelompok sayap kanan yang menentang dimulainya kembali pengiriman bantuan ke Gaza, sekaligus sebagai tanggapan atas retorika keras dari beberapa politisi Israel. Pernyataan Olmert ini tidak hanya mencerminkan kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah saat ini, tetapi juga menggambarkan ketegangan yang semakin keras di dalam tubuh politik Israel sendiri.

Pernyataan Ehud Olmert membuka ruang refleksi penting bagi Israel dan dunia internasional tentang arah kebijakan yang diambil dalam konflik berkepanjangan ini. Kritik dari seorang mantan pemimpin yang pernah memegang kendali tertinggi menunjukkan betapa serius dan kompleksnya situasi saat ini. Di tengah tekanan politik dan konflik yang terus membara, panggilan untuk mengakhiri perang dan mencari solusi yang adil menjadi lebih mendesak dari sebelumnya, demi masa depan yang lebih aman dan berkeadilan bagi semua pihak.

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

[1] Haaretz. “Enough Is Enough: Israel Is Committing War Crimes.” Haaretz, May 27, 2025. https://www.haaretz.com/opinion/2025-05-27/ty-article-opinion/.premium/enough-is-enough-israel-is-committing-war-crimes/00000197-0dd6-df85-a197-0ff64a5c0000.

[2] Encyclopaedia Britannica. “Ehud Olmert.” Britannica.com. Accessed June 4, 2025. https://www.britannica.com/biography/Ehud-Olmert.

[3] BBC News. “Ehud Olmert: Israel’s Former PM Condemns Current Leadership.” BBC News, Accessed June 4, 2025. https://www.bbc.com/news/articles/c4g0dv7rxxvo.

[4] France 24. “Israeli Ex-PM Olmert Says Netanyahu Ultimately to Blame for Death of Hostages.” France 24, September 2, 2024. https://www.france24.com/en/tv-shows/t%C3%AAte-%C3%A0-t%C3%AAte/20240902-israeli-ex-pm-olmert-says-netanyahu-ultimately-to-blame-for-death-of-hostages.

[5] The Guardian. “This War of Destruction Must End.” The Guardian, May 30, 2025. https://www.theguardian.com/commentisfree/2025/may/30/ehud-olmert-gaza-war-of-destruction.

[6] The Guardian. “This War of Destruction Must End.” The Guardian, May 30, 2025. https://www.theguardian.com/commentisfree/2025/may/30/ehud-olmert-gaza-war-of-destruction.

[7] The Guardian. “Former Israeli PM Ehud Olmert Says His Country Is Committing War Crimes.” The Guardian, May 27, 2025. https://www.theguardian.com/world/2025/may/27/former-israeli-pm-ehud-olmert-says-his-country-is-committing-war-crimes.

[8] Ibid.

[9] Anadolu Agency. “Pemimpin Oposisi Israel Bela Pernyataannya tentang Menteri Israel yang Rayakan Kematian Anak-Anak Gaza.” Anadolu Agency, Accessed June 4, 2025. https://www.aa.com.tr/id/dunia/pemimpin-oposisi-israel-bela-pernyataannya-tentang-menteri-israel-yang-rayakan-kematian-anak-anak-gaza/3575151

[10] The Guardian. “Former Israeli PM Ehud Olmert Says His Country Is Committing War Crimes.” The Guardian, May 27, 2025. https://www.theguardian.com/world/2025/may/27/former-israeli-pm-ehud-olmert-says-his-country-is-committing-war-crimes.

You might also like