Judul buku: Roadmap Nabawiyyah Pembebasan
Penulis: Prof. Dr. Abd al-Fattah Muhammad El-Awaisi
Penerbit: ISA (Institut Al-Aqsa)
Tebal: 552 halaman
Tahun Terbit: 2022
Ketika bicara soal pembebasan Palestina, yang langsung terlintas dalam benak kita seringkali adalah peperangan dan perlawanan bersenjata. Tidak sepenuhnya salah sebenarnya, sebab Israel dan sekutunya memang mengerahkan kekuatan militer besar-besaran untuk memperluas wilayah pendudukan. Kita sering melihat kehancuran di Gaza akibat rudal, roket, dan bom. Israel juga menggunakan teknologi canggih seperti drone Hermes 900 untuk intelijen dan pengintaian, helikopter Apache dengan meriam kaliber 30 mm, serta sistem pertahanan udara Iron Dome untuk menangkis serangan roket.[1] Dengan demikian, sangat wajar jika kita bersikap reaktif untuk lekas-lekas mengirimkan pasukan militer melawan militer Israel.
Namun, bagaimana jika sebenarnya ada jalan utama lain? Sebuah strategi sunyi, tapi visioner yang telah dipraktikkan oleh suri tauladan umat manusia, yakni Nabi Muhammad sejak lebih dari 1400 tahun lalu? Artinya, jalan ini merupakan step paling pertama sebelum fase pertempuran militer, tetapi sering kita lupakan.
Itulah gagasan utama dalam buku yang hendak kita ulas ini, sebuah buku karya Prof. Dr. Abd. Al-Fattah El-Awaisi. Ia merupakan seorang ulama terdepan dalam bidang keilmuan Baitul Maqdis yang juga lahir dari tanah Baitul Maqdis. Seorang pakar di bidang Hubungan Internasional yang menjadi aset penting dalam ribath di garis pertahanan ilmu pengetahuan. Buku ini bukan sekedar catatan sejarah atau tafsir politik, tapi sebuah peta jalan spiritual dan strategis yang disusun untuk menjawab satu pertanyaan besar: bagaimana step by step dalam membebaskan Baitul Maqdis berdasarkan jejak Nabi yang sifatnya tidak ekslusif untuk suatu agama atau golongan tertentu saja?
Kita diajak memahami suatu pendekatan yang begitu berbeda dari narasi umum kebanyakan tentang perjuangan dalam membebaskan Baitul Maqdis. Tak hanya berbicara soal tank atau peluru, tapi juga tentang akhlak, visi jangka panjang, dan bangunan peradaban. Sebuah tiang penyangga yang mesti dikokohkan dahulu agar dapat menjadi payung kuat ketika hendak melakukan perlawanan berikutnya.
“Liberate your mind before liberate your land”
Prof El-Awaisi menyadari bahwa umat hari ini masih belum menganggap penting keilmuan dalam tahap pembebasan Baitul Maqdis. Ia menekankan pentingnya ilmu pengetahuan melalui refleksi terhadap wahyu pertama Al-Qur’an, yakni perintah “Iqra” (bacalah) yang bahkan diulang dua kali. Selain itu, kata-kata seperti “pena”, “mengajarkan”, dan “mengetahui” juga hadir dalam ayat-ayat awal, menunjukkan betapa sentralnya peran ilmu dalam membebaskan akal dan membangun peradaban.
Tak sampai di situ, perintah membaca tersebut berarti menjadi seruan untuk memberikan perhatian lebih pada ilmu, keterampilan atau kemampuan perangkat penunjang proses belajar dan mengajar, serta memahami, berpikir, dan menulis. Contoh paling nyata dapat kita lihat dari fase kenabian di Makkah, saat Nabi Muhammad membina generasi awal Islam dengan fokus pada pembentukan mentalitas “Iqra”, sebelum di fase Madinah beliau membangun sistem politik, ekonomi, dan pertahanan.
Prof. El-Awaisi menunjukkan bahwa kecintaan umat Islam terhadap Baitul Maqdis masih bersifat emosional dan belum didukung oleh pemahaman ilmiah yang sistematis. Cinta yang belum berdasarkan pada sistem pengetahuan sempurna. Berapa tahun Baitul Maqdis dijajah hingga hari ini? 116 tahun! Dimulai sejak 1917 ketika Inggris datang menguasai Baitul Maqdis. Rentang waktu yang panjang ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan pendekatan yang lebih strategis dan berbasis pengetahuan.
Dalam bab pertamanya, El-Awaisi menyoroti bahwa upaya-upaya ilmiah di masa lalu telah memainkan peranan penting dalam persiapan pembebasan yang pertama dan kedua. Pertama, Umar bin Khattab tidak membebaskan Baitul Maqdis tanpa persiapan, ia justru membebaskannya dengan ilmu pengetahuan yang tersusun sistematis yang mengandung rancangan strategi yang disusun oleh Nabi Muhamad selama hidupnya. Begitu pula dengan pembebasan dari cengkeraman Tentara Salib pada 1187 M, yang didahului oleh upaya panjang dari para ulama seperti ‘Imaduddin dan Nuruddin sebelum akhirnya dituntaskan oleh Salahuddin al-Ayyubi. Hal ini ditegaskan sendiri oleh Salahuddin manakala mengatakan kepada bala tentaranya bahwa janganlah mengira bahwa dirinya yang membebaskan tanah tersebut dengan pedang, sesungguhnya telah dibebaskan melalui pena Qadhi Al-Fadhil.
Rumusan pembebasan Baitul Maqdis menurut Nabi Muhammad bukanlah berasas respons sesaat, melainkan bagian dari perencanaan strategis jangka panjang. Strategi ini dibangun atas tiga fondasi utama: persiapan pengetahuan, persiapan politik, dan persiapan militer. Persiapan pengetahuan berpusat pada proses pengokohan pemahaman terhadap istilah “Baitul Maqdis”, menanamkan harapan pada jiwa para sahabat dan fokus pada kabar gembira mengenai pembebasan, menjadikan Baitul Maqdis sebagai bahan diskusi, dan rutinitas Nabi Muhammad membaca surah Al-Isra setiap malam dan Al-Kahfi setiap Jumat.
Adapun untuk persiapan politik, berpusat pada larangan para sahabat untuk mengunjungi Masjidil Aqsha dalam keadaan terjajah. Larangan ini bukan bentuk ketidakpedulian, melainkan upaya membangun kesabaran dan menghindari tindakan reaktif, agar tidak tergesa-gesa. Nabi Muhammad juga pernah mengirimkan surat kepada Heraklius, yang saat itu menguasai Jerusalem. Sementara persiapan militer terwujud dalam peperangan dan pemberangkatan detasemen-detasemen untuk mengamankan peta geopolitik. Misalnya, melalui tindakan untuk mengamankan garis depan utara dan kawasan perbatasan Suriah dari bahaya kaum Romawi. Nabi juga pernah menggunakan waktunya di Tabuk untuk mengadakan perjanjian-perjanjian damai di sejumlah tempat menuju kawasan Baitul Maqdis, terutama melakukan perjanjian dengan pemimpin kota Ayla (Aqabah, posisi ini strategis dan sangat dekat dengan Baitul Maqdis).
Meski pembebasan Baitul Maqdis berhasil melalui tangan Umar bin Khattab setelah wafatnya Rasulullah, beliau lah yang justru berperan dalam membuat blueprint atau rancangan strategisnya. Persiapan pengetahuan justru menjadi fase yang memakan waktu paling lama, tetapi menjadi fondasi asas dari rencana strategis Rasulullah. Sebab, perencanaan politik dan militer tidak akan berhasil jika dibangun tanpa fondasi ilmu.
Ada satu hal penting yang masih jarang kita pahami, bahwa pembebasan”Palestina” dalam konteks modern ini, seolah-olah dipisahkan kaitannya dengan Bumi Syam. Seolah-olah Palestina merupakan negara yang berdiri sendiri tanpa ada kaitannya dengan wilayah sekitarnya. Demikianlah Teori Lingkaran Keberkahan Baitul Maqdis yang diinisiasi oleh Prof. El-Awaisi. Sebab, berdasarkan sejarah, pembebasan wilayah sekitar Palestina dari cengkeraman rezim diktator, korupsi, yang bergandengan dengan kepentingan asing, akan mengiringi pembebasan Palestina.
Perlu ditegaskan terlebih dahulu, bahwa Baitul Maqdis sejak dulu hingga hari ini bukanlah ekslusif bagi satu agama atau komunitas tertentu saja. Bukanlah khusus bagi umat Islam, Nasrani, ataupun Yahudi saja. Melainkan siapapun berhak tinggal dengan damai di dalamnya, tanpa perlu merasa terancam.
Banyak tuduhan yang datang terutama terkait pembebasan Baitul Maqdis pada era Umar bin Khattab yang dinilai telah memarjinalkan umat yang tidak beragama Islam. El-Awaisi membantu membantah tuduhan ini dalam bukunya. Karen Amstrong sendiri menegaskan bahwa kebiasaan para Khalifah Ar-Rasyidun ketika membebaskan kota manapun, mereka akan berpegang pada aturan-aturan yang sudah ada dan tidak berani mengubah fondasi tersebut secara sembarangan. Ketika Umar membebaskan Baitul Maqdis, ia juga telah memberi jaminan keamanan bagi penduduknya, dan tidak pernah menghancurkan tempat ibadah mereka. Umar telah membawa kedamaian kembali, setelah penduduk tanah tersebut terkungkung di bawah kesewenang-wenangan kekuasaan Bizantium.
Jika ada anggapan bahwa pembebasan tersebut mengabaikan hak umat Yahudi, Prof. El-Awaisi dengan rujukan ilmiahnya membantahnya. Justru, para pembebas dari kaum Muslimin telah memberikan jaminan keamanan bagi Yahudi di Baitul Maqdis, seperti kepada kaum Nasrani. Berbeda ketika masa kekuasaan Bizantium, banyak orang-orang Yahudi yang justru mengalami tindakan diskriminasi dan penganiayaan. Meski memang saat pembebasan pertama ini jumlah Yahudi yang hidup di tanah tersebut masih sangat sedikit, tetapi telah diberikan hak yang sama seperti yang diberikan kepada kaum Kristen. Jaminan keamanan ini berupa keamanan atas nyawa, semua harta, tempat ibadah dan agama.
Jika ada anggapan dari sebagian pemeluk agama lain bahwa pembebasan Baitul Maqdis merupakan ancaman bagi para ahli kitab dan akan memicu persaingan antaragama, maka penting ditegaskan bahwa di bawah hukum Islam, Baitul Maqdis bukanlah tempat pengusiran atau penyingkiran siapa pun. Wilayah ini adalah wilayah terbuka bagi setiap umat manusia. Umat Islam tidak berusaha mengusir pemeluk agama lain dari tanah suci ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemujaan tempat yang suci bukan berarti konflik, permusuhan, pembunuhan, penguasaan, atau pengusiran yang lain. Justru pembebasan oleh umat Islam ini mengakhiri konflik berkepanjangan antara umat Kristen dengan Yahudi di bawah kekuasaan Bizantium.

Pertanyaan besar yang muncul setelah seluruh uraian ini adalah: Bagaimana cara konkret membebaskan Baitul Maqdis? Prof. El-Awaisi menegaskan bahwa upaya ini bukanlah proses instan. Justru, yang terpenting bukan hasil akhir semata, tetapi proses yang terarah, terencana, dan berkelanjutan. Sayangnya, hingga kini banyak dari kita belum bergerak dalam satu proses kolektif yang strategis. Perjuangan masih sering bergantung pada reaksi emosional sesaat, yang membuatnya mudah melemah dan kehilangan arah.
Lewat bukunya, berikut adalah cara dari Prof El-Awaisi untuk menciptakan sejarah pembebasan Baitul Maqdis di masa depan:
Demikianlah pemaparan dari buku Prof El-Awaisi mengenai strrategi pembebasan Baitul Maqdis. Kurang lengkap rasanya jika tidak membaca bukunya, sebab ulasan ini hanyalah pengantar singkat untuk selanjutnya memutuskan membaca bukunya dari awal hingga akhir. Banyak sekali pengetahuan yang disampaikan penulis yang bersifat radikal (mengakar), yang membantu kita memahami akar hambatan dan kesalahan yang selama ini menghalangi perjuangan pembebasan Baitul Maqdis.
Penulis: Nadea Salsabila Putri
Daftar Pustaka:
Danur Lembang. “Ini Senjata-Senjata Yang Dipakai Israel Gempur Jalur Gaza.” Kompas.Com. Last modified May 15, 2021. https://www.kompas.com/global/read/2021/05/15/131408570/ini-senjata-senjata-yang-dipakai-israel-gempur-jalur-gaza?page=all.
El-Awaisi, Abd al-Fattah. Roadmap Nabawiyyah Pembebasan Baitul Maqdis. Karanganyar: ISA (Institut Al-Aqsa), 2022.