Operation Gideon’s Chariots: Operasi Militer Israel yang Picu Reaksi Global

Pemandangan yang menunjukkan pasukan pendudukan Israel dan kendaraan mereka di dekat pagar Israel-Gaza. (Sumber: Reuters /TRTWorld)
Pemandangan yang menunjukkan pasukan pendudukan Israel dan kendaraan mereka di dekat pagar Israel-Gaza. (Sumber: Reuters /TRTWorld)

Israel kembali melancarkan operasi darat berskala besar di Jalur Gaza yang diberi nama Operation Gideon’s Chariots, setelah memberlakukan blokade total selama lebih dari dua bulan. Tekanan dari komunitas internasional pun terus menguat, termasuk dari Amerika Serikat, yang mendesak dilaksanakannya kembali gencatan senjata serta dibukanya akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.[1]

Dengan latar kondisi tersebut, apa sebenarnya isi dan tujuan dari Operation Gideon’s Chariots yang kini menjadi fokus agresi militer Israel di Gaza?

Apa itu Operation Gideon’s Chariots ?

Operation Gideon’s Chariots merupakan invasi darat skala besar yang dilakukan Israel di wilayah selatan dan utara Gaza, menyusul rentetan serangan udara yang sebelumnya menewaskan ratusan warga Palestina dan melumpuhkan sistem layanan kesehatan di sana. Dengan dukungan angkatan udara yang masif, Israel mengklaim operasi ini sebagai bagian dari upaya penekanan terhadap Hamas. Serangan ini dimulai tepat setelah hari kedua perundingan gencatan senjata di Doha berakhir.

Seperti operasi-operasi sebelumnya, Israel memilih untuk meningkatkan intensitas serangan saat proses negosiasi sedang berlangsung, dengan tujuan untuk memberikan tekanan maksimal kepada Hamas. Menariknya, serangan ini diluncurkan tak lama setelah Presiden AS Donald Trump menyelesaikan kunjungan ke Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab, tanpa mengunjungi Israel.[2] Hal ini memperkuat kesan bahwa Israel ingin menunjukkan kekuatan dan kemandiriannya dalam menghadapi konflik ini.

Tujuan Utama Operasi

Israel telah meluncurkan tahap awal operasi militer besar bertajuk Operation Gideon’s Chariots di Jalur Gaza. Operasi ini secara resmi diklaim bertujuan memperluas kendali operasional militer, membebaskan sandera yang masih ditahan, dan menghancurkan kekuatan militer Hamas. Namun, banyak pihak memandang serangan ini sebagai bagian dari kampanye genosida terhadap rakyat Palestina.

Serangan darat berskala besar ini disertai dengan pengerahan pasukan untuk merebut wilayah-wilayah strategis, menyusul persetujuan kabinet perang Israel pada 5 Mei 2025 untuk menduduki Gaza secara penuh. Dalam tiga hari terakhir, lebih dari 370 warga Palestina tewas akibat serangan intensif tersebut, menambah jumlah korban sejak Oktober 2023 menjadi lebih dari 64.000 jiwa.[3] Mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, sementara ribuan lainnya masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Serangan ini dinilai sebagai eskalasi paling brutal dalam konflik yang telah berlangsung lebih dari satu setengah tahun.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menghadapi kritik keras dari sejumlah kalangan di dalam negeri, termasuk dari keluarga para sandera, karena dinilai gagal memprioritaskan pemulangan mereka.[4] Netanyahu juga menolak sejumlah proposal dari Hamas untuk menghentikan perang melalui jalur diplomatik. Bahkan, sepekan sebelum operasi dimulai, beredar bocoran pernyataannya yang mengisyaratkan rencana pemindahan paksa penduduk Gaza.

Dalam pernyataan tertutup kepada Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset, Netanyahu menyebut bahwa penghancuran besar-besaran terhadap rumah-rumah warga akan membuat penduduk Gaza tidak memiliki tempat untuk kembali. Ia menyatakan bahwa satu-satunya hasil yang tak terelakkan dari kondisi ini adalah keinginan mereka untuk bermigrasi keluar dari Gaza.[5] Pernyataan ini memperkuat kekhawatiran bahwa tujuan militer Israel bukan hanya untuk mengalahkan Hamas, melainkan juga untuk mengosongkan wilayah Gaza dari penduduk aslinya.

Apa yang Terjadi di Gaza Sejak Operasi Dimulai? 

Para pelayat membawa jenazah selama pemakaman warga Palestina yang tewas dalam serangan Israel di Gaza. (Sumber: Reuters/TRTWorld)

Sejak operasi militer diumumkan secara resmi, setidaknya 144 orang tewas akibat serangan udara intensif Israel, dengan 42 korban jiwa di wilayah utara Gaza, termasuk lima jurnalis. Di wilayah selatan, khususnya al-Mawasi, Khan Younis, sedikitnya 36 orang tewas dan lebih dari 100 lainnya luka-luka akibat serangan yang menargetkan kamp-kamp pengungsi.

Dalam sepekan menjelang operasi darat, Israel melancarkan lebih dari 670 serangan yang diklaim menyasar infrastruktur milik Hamas, baik di atas maupun di bawah tanah. Namun, banyak laporan menyebutkan bahwa serangan tersebut secara tidak proporsional mengenai warga sipil, termasuk keluarga yang tengah mengungsi. Selama lima hari terakhir, tercatat 370 warga Palestina tewas, sementara Israel mengeluarkan perintah evakuasi massal dari Khan Younis dan memperingatkan akan dilakukannya “serangan skala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya”.[6]

Target Serangan

Israel mengklaim bahwa seluruh serangan ditujukan kepada infrastruktur dan elemen Hamas, namun kredibilitas klaim tersebut semakin dipertanyakan seiring banyaknya fasilitas sipil, termasuk rumah sakit, yang menjadi target. Direktur Jenderal rumah sakit di Gaza, Muhammad Zaqout, menyebut serangan terhadap fasilitas medis sebagai tindakan sistematis, sementara Rumah Sakit Indonesia di Gaza utara tak lagi dapat beroperasi akibat pengepungan, mengancam nyawa ribuan pasien.

Direktur rumah sakit Marwan al-Sultan menggambarkan situasi ini sebagai “bencana” dan mendesak perlindungan internasional bagi tenaga medis. Rumah Sakit Al-Awda di Jabalia dan Rumah Sakit Eropa di Gaza selatan juga diserang, sementara dalam beberapa hari terakhir Israel mengklaim telah membunuh Mohammad Sinwar—pemimpin Hamas di Gaza—bersama Zakaria Sinwar dan tiga anaknya melalui serangan udara di Gaza tengah.[7]

Respon Hamas

Hamas mengecam keras serangan Israel terhadap warga sipil di Khan Younis, mereka menyebutnya sebagai “kejahatan brutal” dan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Mereka juga menuding Amerika Serikat turut bertanggung jawab atas eskalasi kekerasan, karena memberikan dukungan politik dan militer kepada Israel. Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa dengan perlindungan tersebut, pemerintah AS ikut bertanggung jawab langsung atas jatuhnya korban sipil di Gaza, termasuk anak-anak, perempuan, dan lansia.[8]

Reaksi Dunia Internasional

Kecaman internasional terhadap tindakan Israel di Gaza semakin tajam. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyuarakan keprihatinan mendalam atas meluasnya serangan dan mendesak diberlakukannya gencatan senjata segera. Pemerintah Jerman juga menyampaikan kekhawatiran bahwa operasi militer ini hanya akan memperburuk krisis kemanusiaan dan menghambat upaya perdamaian. Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot menekankan pentingnya distribusi bantuan kemanusiaan yang cepat dan tanpa hambatan, sejalan dengan desakan tujuh negara Eropa; Islandia, Irlandia, Luksemburg, Malta, Slovenia, Spanyol, dan Norwegia, yang menyatakan bahwa dunia sedang menyaksikan “bencana kemanusiaan buatan manusia” di Gaza.[9]

Sementara itu, Kepala Kemanusiaan PBB Tom Fletcher mengkritik keras rencana AS-Israel untuk mengganti mekanisme distribusi bantuan internasional di Gaza, menyebutnya sebagai “pemborosan waktu,” karena lebih dari 160.000 palet bantuan telah tertahan di perbatasan akibat blokade Israel. Kepala HAM PBB Volker Turk juga menyatakan bahwa kampanye pengeboman Israel bertujuan menciptakan “pergeseran demografis permanen” di Gaza, yang jelas bertentangan dengan hukum internasional. [10]

Pada 19 Mei 2025, Inggris, Prancis, dan Kanada secara kolektif mengeluarkan peringatan tegas kepada Israel, mengecam operasi militer yang telah menewaskan lebih dari 53.000 warga Palestina sebagai “sangat tidak proporsional” dan berpotensi melanggar hukum humaniter internasional. Ketiga negara tersebut menegaskan bahwa jika Israel tidak segera menghentikan serangan dan mencabut pembatasan bantuan, mereka akan mengambil langkah konkret sebagai respons terhadap tindakan brutal Pemerintah Netanyahu.[11]

Penulis: Fuad Nur Zaman

Sumber:

[1] Al Jazeera, “What Is Israel’s New Major Ground Offensive, Operation Gideon’s Chariots?” Al Jazeera, May 19, 2025, https://www.aljazeera.com/features/2025/5/19/what-is-israels-new-major-ground-offensive-operation-gideons-chariots.

[2] Al Jazeera, “What Is Israel’s New Major Ground Offensive, Operation Gideon’s Chariots?” Al Jazeera, May 19, 2025, https://www.aljazeera.com/features/2025/5/19/what-is-israels-new-major-ground-offensive-operation-gideons-chariots.

[3] TRT World, “Israel Announces Widening of Genocide in Gaza with ‘Gideon’s Chariots’ Assault,” TRT World, May 16, 2025, https://trt.global/world/article/c640e6de5fe8.

[4] Al Jazeera, “What Is Israel’s New Major Ground Offensive, Operation Gideon’s Chariots?” Al Jazeera, May 19, 2025, https://www.aljazeera.com/features/2025/5/19/what-is-israels-new-major-ground-offensive-operation-gideons-chariots.

[5] Al Jazeera, “What Is Israel’s New Major Ground Offensive, Operation Gideon’s Chariots?” Al Jazeera, May 19, 2025, https://www.aljazeera.com/features/2025/5/19/what-is-israels-new-major-ground-offensive-operation-gideons-chariots.

[6] Al Jazeera, “What Is Israel’s New Major Ground Offensive, Operation Gideon’s Chariots?” Al Jazeera, May 19, 2025, https://www.aljazeera.com/features/2025/5/19/what-is-israels-new-major-ground-offensive-operation-gideons-chariots.

[7] Ibid.

[8]  Al Jazeera, “What Is Israel’s New Major Ground Offensive, Operation Gideon’s Chariots?” Al Jazeera, May 19, 2025, https://www.aljazeera.com/features/2025/5/19/what-is-israels-new-major-ground-offensive-operation-gideons-chariots.

[9] Ibid.

[10] Ibid.

[11] Komite Nasional Rakyat Palestina, “Inggris, Prancis dan Kanada Ancam Lakukan Tindakan Jika Israel Tak Hentikan Serangan dan Cabut Blokade Bantuan,” KNRP, May 20, 2025, https://knrp.org/inggris-prancis-dan-kanada-ancam-lakukan-tindakan-jika-israel-tak-hentikan-serangan-dan-cabut-blokade-bantuan/.

You might also like