Gaza, NPC – Setidaknya 102 penduduk sipil Palestina yang kelaparan meninggal dunia setelah ditembak pasukan Israel dalam delapan hari terakhir di dekat pusat distribusi bantuan yang dikelola oleh Gaza Humanitarian Foundation (GHF), lembaga yang didukung oleh Amerika Serikat dan kerap menuai kontroversi.
Menurut Kantor Media Pemerintah Palestina di Gaza pada Selasa (03/06/2025), sebanyak 102 penduduk Palestina di Gaza meninggal dunia dan 490 lainnya luka-luka akibat tembakan Israel di sekitar lokasi distribusi bantuan GHF yang berada di wilayah Rafah (Gaza Selatan) dan Koridor Netzarim (Gaza Tengah) sejak mekanisme bantuan baru Israel dimulai pada 27 Mei.
Pemerintah Palestina menuduh Israel melakukan “kejahatan mengerikan yang disengaja dan berulang”, dengan mengatakan bahwa Israel sengaja memancing penduduk Palestina yang kelaparan ke pusat bantuan lalu menembaki mereka.
“Pusat distribusi ‘bantuan’ yang katanya untuk kemanusiaan ini berada di zona merah yang terbuka dan berbahaya, di bawah kendali militer penjajah (Israel). Tempat-tempat ini telah berubah menjadi lokasi pembantaian massal, karena menarik orang-orang yang kelaparan akibat kelaparan parah dan blokade total,” ungkap Kantor Media Palestina di Gaza.
“Para warga yang datang mencari bantuan lalu ditembaki dengan sengaja dan tanpa belas kasih, menggambarkan betapa jahatnya proyek ini dan menunjukkan tujuan aslinya,” sebut pemerintah Palestina di Gaza.
Kantor Media Gaza juga menyerukan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Keamanan PBB, dan seluruh organisasi hak asasi manusia untuk segera bertindak, mengambil tanggung jawab moral dan hukum mereka, serta menekan Israel agar membuka jalur bantuan resmi tanpa syarat dan tanpa campur tangan militer.
Serangan terbaru terjadi pada Selasa pagi, ketika pasukan Israel menembaki penduduk Palestina yang sedang menunggu bantuan makanan di daerah al-Alam, Rafah, yang membunuh 27 orang dan melukai 90 lainnya.
Sejumlah lembaga di bawah PBB telah mengutuk keras serangan terhadap warga sipil dan pekerja bantuan di Gaza. Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR), Volker Turk, menyatakan bahwa serangan ini akan “menambah tragedi atas tragedi”, dan hanya akan “menambah penderitaan pada populasi Palestina yang sudah menderita kondisi yang sangat buruk”.
Dunia Internasional Belum Banyak Berbuat
Meski ada kecaman dari berbagai negara dan organisasi internasional, langkah nyata untuk menekan Israel masih sangat minim. Embargo senjata, sanksi ekonomi, atau tindakan hukum internasional hampir tidak terdengar, padahal bukti-bukti kejahatan terhadap warga sipil terus bermunculan setiap hari.
Sejumlah aktivis kemanusiaan internasional dan pegiat hak asasi manusia mengecam keras sikap pasif negara-negara Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam merespons agresi Israel terhadap penduduk sipil Palestina di Jalur Gaza. Mereka menilai bahwa diamnya komunitas global, khususnya negara-negara kuat, adalah bentuk keterlibatan tidak langsung dalam genosida yang sedang berlangsung.
Rami Shaath, aktivis HAM asal Mesir-Palestina, menyimpulkan dengan pernyataan tajam, “Jika dunia tak menghentikan Israel, maka dunia sedang ikut serta dalam kejahatan itu. Diam adalah bentuk persetujuan”.
Sementara itu, Ken Roth, mantan Direktur Eksekutif Human Rights Watch, juga menyuarakan kritik tajam terhadap respons lembaga internasional.
“PBB seharusnya bertindak sebagai penjaga perdamaian dan keadilan, bukan penonton diam. Ketidaktegasan mereka terhadap pelanggaran HAM oleh Israel adalah kegagalan moral yang nyata,” kata Ken Roth.
Sejak 7 Oktober 2023, dengan dukungan Amerika Serikat, secara keseluruhan, Israel telah membunuh lebih dari 54.000 penduduk Palestina di Jalur Gaza, termasuk setidaknya 16.000 anak-anak. Selain itu, lebih dari 10.000 orang dinyatakan hilang dan diduga meninggal, sementara hampir 120.000 lainnya mengalami luka-luka.
Bulan lalu, pihak berwenang di Gaza mengungkapkan bahwa 65 persen korban jiwa adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Selain itu, lebih dari 2.180 keluarga Palestina telah dimusnahkan oleh serangan Israel.
Hingga Mei 2025, lebih dari 100.000 ton bahan peledak telah dijatuhkan di Gaza, jumlah ini jauh melebihi total bom yang dijatuhkan di Dresden dan Hamburg dalam Operasi Gomorrah, serta London saat Blitz pada Perang Dunia II, yang seluruhnya berjumlah sekitar 32.300 ton.
(T.FJ/S: Quds News, MEE, SPNA)