Ribuan Warga Israel Geruduk Markas Partai Likud, Tuntut Netanyahu Bebaskan Sandera Gaza

Tel Aviv, NPC –  Kemarahan rakyat Israel terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meledak pada Rabu (28/5), saat ribuan orang turun ke jalan dan ratusan lainnya menyerbu markas Partai Likud di Tel Aviv.

Aksi ini dilakukan menyusul 600 hari sejak dimulainya agresi militer Israel ke Jalur Gaza, dan menjadi simbol penolakan publik terhadap kepemimpinan Netanyahu yang mengorbankan warga negaranya sendiri demi kelangsungan politik pribadi.

Puluhan pengunjuk rasa menerobos gedung Metzudat Ze’ev, markas resmi Likud, melilitkan rantai di tubuh mereka dan mengikat diri di tangga dalam gedung. Polisi bertindak represif, mencoba menyeret mereka keluar secara paksa. Di luar, ratusan demonstran memblokade jalan-jalan utama sambil mengenakan topeng wajah Netanyahu dan para menterinya, serta pakaian oranye ala narapidana hukuman mati, sindiran keras terhadap rezim yang mereka anggap menjatuhkan vonis mati kepada para sandera di Gaza.

Aksi ini merupakan bagian dari protes nasional keluarga sandera dan para pendukungnya, menuntut kesepakatan nyata demi membebaskan lebih dari 120 warga Israel yang masih ditawan Hamas. Mereka menuding Netanyahu sengaja memperpanjang perang, menolak kesepakatan-kesepakatan yang dapat menyelamatkan nyawa para sandera, semata-mata untuk mempertahankan dukungan dari koalisi ekstrem kanan yang sewaktu-waktu bisa menjatuhkan kekuasaannya.

“600 hari kami tanpa orang tercinta, dan pemerintah berdarah ini dengan sadar meninggalkan mereka demi kursi kekuasaan,” demikian pernyataan keras dari keluarga para sandera yang dibacakan oleh mantan sandera Keith Siegel di Lapangan Sandera, Tel Aviv.

Kritik paling tajam ditujukan kepada dua menteri garis keras, Bezalel Smotrich dan Itamar Ben-Gvir, yang disebut lebih memilih pendudukan permanen atas Gaza ketimbang menyelamatkan nyawa warga negaranya sendiri. “Keluarga kami dijadikan tumbal ambisi kekuasaan,” lanjut pernyataan tersebut.

Anat Angrest, ibu dari salah satu sandera, Matan Angrest, menantang para pejabat pemerintah untuk membayangkan jika anak mereka sendiri yang disandera. “Saya berdiri di sini sebagai seorang ibu yang dikhianati oleh negaranya sendiri. Jangan pikir ini tak bisa terjadi pada Anda,” katanya dengan suara bergetar.

Sementara itu, kelompok keluarga korban dan sandera dari serangan 7 Oktober 2023, menggelar protes terpisah di kediaman Ketua Knesset Amir Ohana. Mereka menuntut pembubaran parlemen dan menuding pemerintah secara terang-terangan menolak bertanggung jawab atas kegagalan pertahanan pada serangan 7 Oktober.

Forum Keluarga Sandera dan Orang Hilang juga mengirim surat kepada kepala negosiator sandera, Ron Dermer, menuntut pengunduran dirinya karena dinilai gagal total, tidak satu pun sandera berhasil dibebaskan sejak ia menjabat.

Netanyahu meluncurkan kampanye militer brutal ke Gaza yang hingga kini telah membunuh lebih dari 54.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Namun hingga hari ini, belum ada tanda-tanda pembebasan para sandera tersisa. Sebaliknya, Netanyahu justru memanfaatkan situasi perang untuk menunda sidang kasus korupsinya yang tertunda akibat darurat nasional yang berkepanjangan.

(T.RS/S:MEMO)

 

You might also like