Gaza, NPC – Cindy McCain, Kepala Eksekutif Program Pangan Dunia (WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebagaimana dilansir MEE, pada Senin (26/05/2025), membantah tuduhan bahwa Hamas mencuri bantuan makanan yang dikirimkan ke Gaza. Ia juga tidak setuju dengan penggunaan kata “penjarahan” untuk menggambarkan warga sipil yang mengambil makanan dari truk bantuan karena kelaparan.
“Dengar, orang-orang sangat putus asa. Mereka melihat truk bantuan dari WFP datang, dan mereka langsung berlari menghampiri. Ini tidak ada hubungannya dengan Hamas atau kejahatan terorganisir,” kata McCain kepada saluran televisi Amerika, CBS.
“Ini murni karena mereka benar-benar kelaparan dan berjuang untuk bertahan hidup.” kata Cindy McCain.
Cindy McCain adalah istri dari mendiang Senator John McCain, tokoh Partai Republik yang dikenal mendukung kebijakan militer AS dan sempat mencalonkan diri melawan Barack Obama pada Pilpres 2008. Ia meninggal dunia pada tahun 2018.
Setelah mendukung Joe Biden dalam Pilpres 2020, Cindy diangkat menjadi Duta Besar AS untuk Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) pada 2021. Dua tahun kemudian, ia menjabat sebagai Direktur Eksekutif WFP, hanya beberapa bulan sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya perang serta pengepungan Israel terhadap Gaza.
Dalam wawancaranya di program Face The Nation CBS hari Minggu lalu, Cindy menyerukan kepada para pemimpin dunia agar mendesak Israel membuka kembali perbatasan Gaza dan memperbolehkan pengiriman bantuan masuk.
“Kami akan terus membawa makanan dan berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk membantu operasional roti dan memastikan semua bisa berjalan. Tapi sekali lagi, kami tidak bisa melakukannya tanpa tekanan dari komunitas internasional,” jelasnya.
“Kita tidak boleh hanya duduk diam dan menyaksikan orang-orang ini mati kelaparan tanpa upaya diplomatik dari luar untuk membantu,” kata Cindy McCain.
Israel kembali menutup total akses ke Gaza pada awal Maret dan menolak melanjutkan tahap kedua dari perjanjian gencatan senjata. Sejak itu, PBB dan berbagai lembaga kemanusiaan dunia menyatakan bahwa wilayah Gaza kini mengalami kelaparan.
Bahkan sebelum perang dimulai, Gaza membutuhkan sekitar 500 truk bantuan setiap hari untuk mencukupi kebutuhan penduduknya, karena wilayah ini telah berada di bawah blokade militer Israel sejak tahun 2007.
“Mereka sangat, sangat putus asa,” kata Cindy. “Saya pernah mengalami kerusuhan pangan beberapa tahun lalu, jadi saya benar-benar mengerti kondisi seperti ini.”
Pada hari Senin (26/05/2025), kantor berita Reuters mengutip sumber-sumber di Gaza yang mengatakan bahwa kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas mengeksekusi empat orang karena mencuri bantuan dari truk yang berhasil masuk ke Gaza.
Empat orang tersebut diduga terlibat dalam insiden minggu lalu, di mana enam petugas keamanan lokal meninggal dunia akibat serangan udara Israel saat mereka berusaha mencegah perampokan truk bantuan, menurut laporan Reuters.
Beberapa truk yang berhasil masuk ke Gaza tampaknya datang melalui organisasi Gaza Humanitarian Foundation (GHF), sebuah inisiatif kontroversial hasil kerja sama AS-Israel yang bertujuan memotong jalur distribusi bantuan PBB di Gaza.
GHF berencana menggunakan kontraktor swasta asal AS untuk mendistribusikan makanan di titik-titik tertentu yang dikendalikan Israel di Gaza. Namun, CEO GHF, seorang mantan Marinir AS, mengundurkan diri pada hari Minggu, dengan menyatakan bahwa tidak mungkin menjalankan rencana tersebut tanpa melanggar prinsip-prinsip seperti kemanusiaan, netralitas, ketidakberpihakan, dan independensi, yang tidak akan saya kompromikan.
Cindy mengatakan kepada CBS bahwa truk bantuan yang masuk minggu ini hanyalah “setetes air di lautan. Saat ini, ada 500.000 orang di Gaza yang mengalami krisis pangan ekstrem dan bisa berada di ambang kelaparan jika kita tidak segera membantu mereka,” tutupnya.
(T.FJ/S: MEE)