Dr. Alaa Al–Najjar: Dokter yang Menyelamatkan Anak-anak Gaza, Saat Israel Membakar Suami dan Anaknya dalam Serangan Bom

Jalur Gaza, NPC – Di tengah pengabdian merawat rakyat Palestina yang menjadi korban serangan Israel di Rumah Sakit al-Tahrir, Jalur Gaza, Dr Alaa al-Najjar menerima kabar paling memilukan dalam hidupnya. Jenazah anak-anaknya sendiri dibawa masuk ke rumah sakit tempat ia bekerja dalam kondisi hangus dan tak bisa dikenali.

Dr Alaa adalah seorang dokter anak yang bertugas di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Gaza selatan. Pada Jumat (23/05/2025), ia berangkat kerja bersama suaminya, Dr Hamdi al-Najjar. Tak lama setelah mengantar istrinya ke rumah sakit, Hamdi pulang ke rumah. Namun beberapa waktu kemudian, sebuah serangan udara Israel menghantam rumah mereka di kawasan Qizan al-Najjar.

Dari sepuluh anak mereka, sembilan gugur seketika. Anak tertua baru berusia 13 tahun, dan yang paling kecil baru enam bulan. Anak kesepuluh selamat namun mengalami luka serius. Sang ayah juga menderita luka parah dan dirawat di ruang intensif.

Anak-anak itu hangus di depan matanya

Rekaman dari Pertahanan Sipil Palestina memperlihatkan kobaran api masih membakar rumah keluarga al-Najjar saat tim penyelamat menggali reruntuhan. Tanpa alat berat dan diburu waktu, mereka berteriak-teriak memanggil, berharap masih ada yang selamat. Tujuh jenazah ditemukan dan dibawa ke Rumah Sakit Nasser. Dua lainnya, termasuk bayi enam bulan, masih terkubur di bawah reruntuhan.

Ali al-Najjar, adik Hamdi, adalah orang pertama yang sampai ke lokasi. “Seseorang menelpon, dan mengatakan bahwa rumah kakaknya dihantam serangan bom Israel. Saya langsung lari ke sana,” ujarnya. Ia menemukan Hamdi, tergeletak tak sadarkan diri. Seorang anak juga terkapar di dekatnya, sementara api terus melahap rumah.

“Saya gendong keponakan saya Adam dan sepupu yang luka, melarikan mereka ke rumah sakit,” kata Ali.

Ali mengaku mereka masih belum menemukan dua anak yang hilang, Yahya yang berusia 13 tahun, dan Sidra, si bayi enam bulan. “Bahkan ibunya tidak bisa mengenali jenazah mereka. Tubuh mereka begitu hangus hingga tak bisa dibedakan,” tuturnya. Ia pun bertanya-tanya: “Mengapa rumah saudara saya yang jadi sasaran? Apa karena istrinya seorang dokter?”

Perempuan yang tangguh

Enam bulan lalu, tak lama setelah melahirkan anak bungsunya, Alaa tetap bersikeras kembali bekerja. Gaza tengah dilanda krisis, dan ribuan anak membutuhkan perawatan medis. Ia memilih untuk merawat anak-anak lain, bahkan jika itu berarti meninggalkan anak-anaknya sendiri di rumah.

Dr Yousef Abu al-Rish, Wakil Menteri Kesehatan Palestina, menyaksikan langsung bagaimana Alaa berdiri dengan tenang di depan ruang operasi, menunggu kabar tentang satu-satunya anak yang selamat. “Saya menyangka akan melihat seorang ibu yang hancur. Tapi yang saya lihat adalah sosok yang tenang, sabar, penuh keimanan,” katanya.

Dengan tabah, dokter Ela al-Najjar duduk di samping ranjang rumah sakit, menggenggam tangan anak satu-satunya yang selamat dari serangan bom Israel. Ia baru saja kehilangan sembilan buah hatinya dalam serangan udara Israel yang menghantam rumah mereka, hanya beberapa saat setelah ia berangkat kerja. Kini, ia menatap wajah putranya yang terluka, berjuang di antara hidup dan mati, sembari menahan duka.

“Saya tidak pernah menyangka bahwa perempuan tabah itu adalah orang yang baru saja kehilangan hampir semua anaknya.”

Petugas kesehatan yang menjadi korban

Tragedi keluarga Alaa al-Najjar hanyalah satu dari ribuan kisah memilukan yang terjadi di Gaza. Menurut Bulan Sabit Merah Palestina, lebih dari 1.400 tenaga medis telah gugur akibat serangan Israel sejak 7 Oktober 2023. “Di Gaza, bukan hanya dokter yang jadi sasaran. Agresi ini telah melenyapkan keluarga-keluarga utuh,” kata Dr Munir al-Bursh, Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina.

(T.RS/S:MiddleEastEye)

 

You might also like