Ribuan Warga Israel Berdemo Tuntut Gencatan Senjata dan Bebaskan Tawanan

Yerusalem, NPC – Ribuan warga Israel turun ke jalan di berbagai kota pada Sabtu (17/5), menuntut pemerintah Netanyahu segera menyepakati pertukaran tawanan dengan faksi-faksi Palestina di Gaza, meski harus menghentikan perang.

Saluran televisi Channel 12 melaporkan bahwa demonstrasi besar-besaran itu digelar untuk menekan pemerintah agar segera menyelesaikan “kesepakatan” yang menjamin pembebasan tawanan Israel dari Gaza.

Sementara itu, Yedioth Ahronoth menyebut bahwa ribuan orang berkumpul di Tel Aviv, Rehovot, dan Haifa, membawa poster-poster yang menuntut penghentian perang serta menuding Netanyahu dan pemerintahnya mengabaikan nasib warga Israel yang ditawan di Gaza. Beberapa tokoh terkemuka seperti mantan Perdana Menteri Ehud Barak dan sejumlah perwira militer turut bergabung dalam demonstrasi.

Namun protes damai ini tak berlangsung mulus. Pendukung sayap kanan Israel menyerang para demonstran. Polisi menangkap delapan pelaku penyerangan dan membawa mereka untuk diinterogasi.

Aksi ini berlangsung seiring dengan dimulainya putaran baru negosiasi di Doha, ibukota Qatar, dalam upaya mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan.

Sumber-sumber dari media Israel menyebut, garis besar kesepakatan yang dibahas mencakup pembebasan segera terhadap 10 tawanan Israel dalam kondisi hidup, serta gencatan senjata selama 1,5 hingga 2 bulan.

Dalam kesepakatan ini, Hamas disebutkan akan menyerahkan daftar nama tawanan, hidup maupun meninggal,  10 hari setelah kesepakatan mulai diberlakukan.

Skema ini mirip dengan usulan yang pernah diajukan oleh utusan AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, yang ditolak oleh Netanyahu namun tidak ditolak oleh Hamas.

Menurut rencana Witkoff, para tawanan akan dibebaskan dalam dua tahap, separuh pada hari pertama gencatan senjata, dan sisanya setelah negosiasi tentang penghentian perang selesai selama masa gencatan senjata dua bulan. Israel memperkirakan masih ada 58 tawanan mereka di Gaza, 20 di antaranya dipastikan masih hidup.

Sementara itu, lebih dari 9.900 warga Palestina ditahan di penjara-penjara Israel, banyak diantaranya dilaporkan mengalami penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis hingga menyebabkan kematian, menurut berbagai laporan media dan organisasi HAM.

Namun, keengganan Israel untuk memberikan komitmen menghentikan perang menimbulkan keraguan dari pihak Hamas. Mereka khawatir Israel akan mengingkari kesepakatan kapan saja, sebagaimana yang terjadi dalam gencatan senjata sebelumnya.

 

Di sisi lain, kekerasan Israel terhadap Gaza terus meningkat. Pada Jumat (16/5), militer Israel mengumumkan perluasan serangan besar-besaran dalam operasi yang mereka sebut sebagai kampanye “Gerobak Gideon,” yang bertujuan untuk menguasai seluruh wilayah Gaza.

Dalam lima hari terakhir, intensitas pembantaian di Gaza meningkat tajam. Selama kunjungan Presiden AS Donald Trump ke kawasan, yang menjanjikan “masa depan lebih baik dan akhir dari kelaparan” bagi warga Gaza, Israel telah membunuh lebih dari 378 warga Palestina hanya dalam tiga hari, angka yang empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan korban selama empat hari sebelumnya yang berjumlah sekitar 100 orang.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel telah melakukan genosida sistematis di Gaza dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, menewaskan dan melukai sekitar 174.000 warga Palestina, mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan. Selain itu, lebih dari 11.000 orang masih dinyatakan hilang.

(T.RS/S:AnadoluAgency)

 

You might also like