Gaza, NPC – Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, pada Senin (12/05/2025), kembali melontarkan pernyataan keras terhadap kelompok pejuang Palestina di Gaza, khususnya Hamas. Ia mengungkapkan bahwa Israel telah menerima “dukungan dari Amerika Serikat untuk membuka pintu neraka di Gaza”.
Dalam konferensi pers pada Senin, Ben-Gvir menyatakan bahwa mengalahkan Hamas adalah tujuan utama pemerintah Israel. Ia juga mengatakan bahwa Israel harus segera bertindak dan melancarkan serangan militer yang menentukan untuk mengalahkan Hamas. Ia menolak pengiriman bantuan ke Gaza dan justru mendorong agar penduduk Palestina di Gaza “keluar”.
“Kita harus berhenti menunda-nunda dan segera menyerang dengan kekuatan penuh untuk menyingkirkan Hamas. Bukan membawa bantuan, tapi mendorong warga untuk pergi dari Gaza,” ujar Ben-Gvir.
Ben-Gvir menegaskan bahwa pembebasan sandera hanya bisa dilakukan dengan kekuatan militer. Pernyataan ini muncul bertepatan dengan kabar pembebasan seorang tentara Israel-Amerika, Aidan Alexander, oleh Hamas pada hari yang sama. Alexander sebelumnya ditawan sejak 7 Oktober 2023.
Beberapa hari sebelumnya, Ben-Gvir juga mengatakan bahwa Israel harus terus berperang hingga mencapai kemenangan penuh. Menurutnya, pendekatan militer total adalah satu-satunya jalan untuk membawa pulang para sandera dari Gaza. Pernyataan ini muncul di tengah perdebatan sengit di dalam pemerintahan Israel mengenai perluasan operasi militer di wilayah tersebut.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebagaimana dilansir RT Arabic, pada Senin (12/05/2025), memperingatkan bahwa blokade Israel yang telah berlangsung lebih dari sembilan pekan terhadap Jalur Gaza bisa membahayakan kehidupan sekitar 2,1 juta penduduk yang tinggal di wilayah tersebut. PBB menyerukan agar blokade ini segera dihentikan demi menyelamatkan nyawa penduduk sipil.
Dalam pernyataan resminya, Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyebutkan bahwa stok bantuan dari lembaga-lembaga kemanusiaan internasional hampir habis. Hal ini terjadi karena blokade total yang diberlakukan Israel kini memasuki bulan ketiga, yang bisa memperburuk krisis kemanusiaan secara drastis.
Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) juga sebelumnya menegaskan bahwa sejak 2 Maret lalu, Israel melarang masuknya semua jenis bantuan kemanusiaan, medis, dan barang dagangan ke Gaza. Akibatnya, kehidupan penduduk Palestina di Gaza yang sangat bergantung pada bantuan tersebut kini berada dalam bahaya serius.
Situasi ini menambah kekhawatiran dunia atas kondisi kemanusiaan di Gaza. Saat ini, kebutuhan akan makanan, air bersih, dan obat-obatan sangat mendesak, sementara penduduk Palestina di Gaza terus hidup dalam kondisi yang digambarkan sebagai krisis kemanusiaan terburuk dalam sejarah wilayah tersebut.
(T.FJ/S: RT Arabic)