Menggugat Genosida, Dituduh Antisemit: Dilema Aktivis Pro-Palestina di Universitas Yale

Aksi protes mahasiswa di berbagai kampus di Amerika Serikat semakin memanas setelah pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump yang menyerukan tindakan tegas terhadap aktivis pro-Palestina. Trump menyatakan, “Satu hal yang akan saya lakukan adalah mengusir ke luar negeri setiap mahasiswa yang melakukan protes.”, mengutip The Washington Post pada Senin, 27 Mei 2024.[1] Seruan ini tidak hanya mengguncang dunia politik, tetapi juga dunia pendidikan. Aksi-aksi solidaritas yang semula damai kini berhadapan dengan ancaman dari aparat keamanan, sementara mahasiswa yang terlibat semakin merasa terpinggirkan.

Inilah Kecerdikan Trump Menangkan Nominasi Calon Presiden Partai Republik  di Pilpres 2024 Amerika
Kandidat presiden dari Partai Republik mantan Presiden Donald Trump berbicara pada rapat umum kampanye Sabtu, 9 Maret 2024 (Sumber: AP Photo/Kompas.TV)

Ketegangan ini kembali mencuat dua pekan terakhir, ketika aksi damai di Universitas Yale terhadap kunjungan Menteri Israel yang ekstremis Itamar Ben-Gvir menghadapi respons keras yang memicu kekhawatiran akan upaya pembungkaman suara-suara kritis di kampus. Ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat bagi dialog dan perbedaan pendapat justru semakin terancam oleh tekanan politik dan kebijakan yang membatasi kebebasan berekspresi.

Aksi protes di Universitas Yale dimulai pada Selasa malam, 22 April, sekitar pukul 18.00 waktu setempat, dengan diikuti oleh sekitar 25 mahasiswa. Jumlah peserta terus bertambah hingga mencapai puncaknya pada pukul 21.30, ketika para demonstran mulai mendirikan tenda sebagai bentuk penolakan terhadap kebijakan Universitas. Yale Daily News mencatat bahwa aksi ini merupakan salah satu bentuk aktivisme mahasiswa terbesar dalam beberapa waktu terakhir di kampus tersebut.[2]

Universitas Yale menjadi salah satu dari sejumlah institusi pendidikan di Amerika Serikat yang terdampak oleh kebijakan eksekutif Donald Trump, yang hendak memerangi antisemitisme. Trump mengancam akan mendeportasi mahasiswa internasional atau siapapun yang terlibat dalam aksi protes pro-Palestina. Dalam lembar fakta kebijakan tersebut, Trump menjanjikan “tindakan segera” dari Departemen Kehakiman untuk menindak “ancaman teroris, pembakaran, vandalisme, dan kekerasan terhadap komunitas Yahudi Amerika,”serta akan mengerahkan seluruh sumber daya federal untuk menghadapi apa yang ia sebut sebagai “ledakan antisemitisme di kampus dan di jalan-jalan,” sejak serangan 7 Oktober 2023 oleh kelompok perlawanan di Israel.

Banyak pengunjuk rasa pro-Palestina membantah mendukung kelompok perlawanan Hamas atau terlibat dalam tindakan antisemit. Mereka menegaskan bahwa demonstrasi ialah ekspresi perlawanan terhadap serangan militer Israel di Gaza.[5] Mereka menegaskan bahwa aksi mereka berlandaskan kemanusiaan dan bertujuan mengakhiri kekerasan terhadap warga sipil, bukan sebagai bentuk kebencian terhadap komunitas Yahudi. Para demonstran juga menekankan pentingnya membedakan antara kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel dan sentimen antisemitisme, yang kerap disalahartikan sebagai satu hal yang sama.

Bagi mereka, menyuarakan solidaritas terhadap Palestina adalah bagian dari hak konstitusional atas kebebasan berbicara dan berekspresi di ruang publik maupun akademik. Maya Berry, direktur eksekutif Arab American Institute, sebuah kelompok hak sipil nonpartisan, mengatakan kelompoknya sangat terganggu oleh adanya dugaan pencampuran kritik terhadap Israel dengan antisemitisme. Berry mengatakan perintah tersebut akan berdampak buruk pada kebebasan berbicara di seluruh AS.[6]

Berbagai kelompok mahasiswa di Universitas Yale telah lama menyuarakan dukungan terhadap Palestina, termasuk dengan mendesak universitas agar tidak terlibat dalam tindakan yang mereka nilai sebagai bentuk genosida, serta menyerukan agar lembaga pendidikan tetap fokus pada misi akademik dan kemanusiaan. Dalam sejumlah aksi unjuk rasa, mereka membawa spanduk bertuliskan slogan-slogan seperti “Buku bukan bom” dan “Menjauh dari perang,” serta mengenakan sarung tangan lateks merah yang melambangkan tangan berlumuran darah, sebagai bentuk protes simbolik atas kekerasan yang terjadi di Gaza. Spanduk lain bertuliskan “Cabut tuntutan” dan “Lindungi kebebasan berbicara,” sebagai respons atas penangkapan 45 orang dalam aksi demonstrasi yang dibubarkan secara paksa oleh aparat di sekitar kampus New Haven, Connecticut, pada tahun 2024.[7]

Unjuk rasa Pro-Palestina di Kampus-kampus AS Terus Berlangsung, Apa  Penyebabnya? | tempo.co
Para pengunjuk rasa berkumpul di sudut Grove dan College Streets setelah sebuah perkemahan di Beinecke Plaza dibubarkan. Demonstran pro-Palestina menyerukan Yale untuk menarik investasi dari produsen senjata militer, di New Haven, Connecticut, AS, 22 April 2024. (Sumber: REUTERS/Melanie Stengel)

Aksi protes mahasiswa pro-Palestina di kampus-kampus Amerika Serikat, khususnya di Universitas Yale, menunjukkan meningkatnya ketegangan antara kebebasan berekspresi dan tekanan politik. Pernyataan kontroversial Donald Trump yang mengancam akan mendeportasi mahasiswa asing memperburuk situasi dan memicu kekhawatiran akan pembungkaman suara kritis.

Meski dituduh antisemit, para demonstran menegaskan bahwa aksi mereka bertujuan mengkritisi kekerasan militer Israel dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan, bukan kebencian terhadap komunitas Yahudi. Kondisi ini menyoroti ancaman nyata terhadap kebebasan akademik dan hak sipil di tengah iklim politik yang semakin represif.

Penulis: Fuad Nur Zaman, Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam, UIN Jakarta

Sumber:

[1] Josh Dawsey, Karen DeYoung, and Marianne LeVine, “Trump Told Donors He Will Crush Pro-Palestinian Protests, Deport Demonstrators,” The Washington Post, May 27, 2024, https://www.washingtonpost.com/politics/2024/05/27/trump-israel-gaza-policy-donors/, accessed April 25, 2025.

[2] Yolanda Wang, Nora Moses, and Karla Cortes, “We’re Here to Stay the Night: Pro-Palestinian Protesters Erect Tents on Beinecke Plaza,” Yale Daily News, April 22, 2025, https://yaledailynews.com/blog/2025/04/22/were-here-to-stay-the-night-pro-palestinian-protesters-erect-tents-on-beinecke-plaza/, accessed April 25, 2025.​

[3] “Mahasiswa Pro-Palestina Berkemah di Universitas Yale Protes Kunjungan Menteri Israel,” Islam Times, 24 April 2025, https://www.islamtimes.com/id/news/1204510/mahasiswa-pro-palestina-berkemah-di-universitas-yale-protes-kunjungan-menteri-israel, diakses 25 April 2025.

[4] Andrea Shalal and Susan Heavey, “Trump Administration to Cancel Student Visas of Pro-Palestinian Protesters,” Reuters, January 29, 2025, https://www.reuters.com/world/us/trump-administration-cancel-student-visas-all-hamas-sympathizers-white-house-2025-01-29/, accessed April 25, 2025.​

[5] Ibid.

[6] Ibid.

[7] Michelle McLoughlin and Steve Gorman, “Yale Graduates Stage Pro-Palestinian Walkout of Commencement,” Reuters, May 20, 2024, https://www.reuters.com/world/us/yale-graduates-stage-pro-palestinian-walkout-commencement-2024-05-20/, accessed April 25, 2025.

You might also like