Aib Dunia Internasional: Israel Bom Kapal Bantuan ke Gaza di Tengah Laut, Tidak Ada yang Bertindak

Gaza, NPC – Sebuah drone milik Israel menyerang kapal bantuan Freedom Flotilla yang sedang dalam perjalanan menuju Gaza pada Jumat dini hari (02/05/2025). Serangan tersebut menyebabkan lubang besar di badan kapal, memicu kebakaran, dan membuat kapal terancam tenggelam.

Kapal tersebut membawa bantuan kemanusiaan, 12 awak kapal, 4 penumpang sipil, dan puluhan aktivis hak asasi manusia. Saat diserang, kapal berada di perairan internasional dekat Malta dan dilaporkan berangkat dari Tunisia.

Pemerintah Malta mengeluarkan pernyataan yang mengonfirmasi bahwa seluruh awak kapal berhasil diselamatkan dan kapal masih berada di perairan internasional. Tidak ada korban luka yang dilaporkan.

“Pada pukul 00:23 waktu Malta, sebuah kapal Freedom Flotilla menjadi sasaran serangan drone. Bagian depan kapal diserang dua kali, menyebabkan kebakaran dan kerusakan pada lambung kapal,” kata Koalisi Freedom Flotilla dalam pernyataan resmi. Mereka juga menyebutkan bahwa sinyal SOS telah dikirim.

CNN mengutip pejabat media Koalisi Freedom Flotilla yang menyatakan bahwa serangan itu menyebabkan kapal mulai tenggelam.

Zaher al-Birawi, ketua Komite Internasional untuk Mengakhiri Blokade Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa drone Israel bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Tim media Freedom Flotilla menyebutkan bahwa hanya Siprus yang merespons sinyal darurat mereka.

Media Israel, Channel 12, tahun lalu melaporkan bahwa pasukan Israel telah mulai latihan militer untuk menghadapi kemungkinan intersepsi terhadap armada kapal bantuan tersebut.

Pada tahun 2010, pasukan komando Israel menyerbu rombongan kapal Freedom Flotilla yang sedang membawa bantuan menuju Gaza. Serangan dari helikopter itu menewaskan sembilan warga sipil Turki dan melukai 30 orang lainnya dari berbagai negara.

Serangan terbaru ini terjadi di tengah penutupan total semua perbatasan menuju Gaza, sehingga aliran bantuan ke wilayah tersebut terhenti sepenuhnya.

Rumah sakit di seluruh Gaza berada di ambang kehancuran total karena kekurangan pasokan medis yang sangat dibutuhkan, membuat tenaga medis hampir tidak bisa merawat banyaknya penduduk sipil Palestina yang terluka setiap hari.

“Di seluruh Gaza, pasokan makanan sangat terbatas dan kasus kekurangan gizi meningkat dengan cepat. Pekan lalu, salah satu mitra kami menyaring 1.300 anak di Gaza utara dan menemukan lebih dari 80 kasus malnutrisi akut — meningkat dua kali lipat dibanding pekan sebelumnya,” kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

PBB, Human Rights Watch (HRW), dan berbagai organisasi internasional lainnya menuduh Israel menggunakan kelaparan sebagai senjata perang, yang merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum kemanusiaan internasional.

Simbol Perlawanan Damai dan Solidaritas Global

Gaza saat ini mengalami krisis kemanusiaan ekstrem, di mana rumah sakit lumpuh, makanan langka, dan anak-anak menderita kelaparan. Kapal Freedom Flotilla membawa harapan berupa obat, makanan, dan solidaritas. Ketika kapal itu diserang, harapan itu ikut dihancurkan.

Ini bukan hanya serangan terhadap kapal, tetapi pelanggaran hukum internasional. Kapal berada di wilayah netral di perairan internasional, membawa sipil dan bantuan kemanusiaan. Namun tetap dijadikan target. Bagi rakyat Gaza, ini adalah bukti bahwa bahkan hukum dunia tak mampu melindungi mereka.

Hal yang lebih menyakitkan adalah minimnya reaksi dari negara-negara besar. Meskipun serangan itu jelas melanggar hukum dan moral kemanusiaan, hanya sedikit negara yang bersuara tegas. Rakyat Palestina merasa semakin terisolasi dan ditinggalkan.

Freedom Flotilla bukan sekadar kapal bantuan, tapi simbol perlawanan damai dan solidaritas global. Ketika simbol itu dibom, bagi rakyat Palestina di Gaza, itu seperti pesan bahwa tidak ada tempat aman, tidak ada yang benar-benar peduli.

Freedom Flotilla merupakan sekelompok misi kemanusiaan internasional yang bertujuan untuk menantang blokade laut Israel terhadap Jalur Gaza dan mengantarkan bantuan kemanusiaan langsung ke wilayah tersebut. Inisiatif ini dimulai oleh berbagai organisasi pro-Palestina dan aktivis dari seluruh dunia, termasuk Freedom Flotilla Coalition, yang terdiri dari beberapa kelompok dari berbagai negara.

(T.FJ/S: The Cradle)

 

You might also like