Tel Aviv, NPC – Pasukan Bersenjata Yaman yang berafiliasi dengan gerakan Ansarallah (Houthi) mengumumkan pada hari Rabu (23/04/2025), bahwa mereka telah melakukan dua operasi militer terhadap target vital Israel dan menyatakan bahwa serangan tersebut berhasil.
Juru bicara militer Yaman, Brigadir Jenderal Yahya Saree, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa,
“Pasukan rudal dari Pasukan Bersenjata Yaman telah melakukan operasi militer khusus yang menargetkan sasaran vital musuh Zionis di wilayah pendudukan Haifa dengan rudal balistik hipersonik.”
Yahya Saree menambahkan bahwa rudal tersebut berhasil mencapai sasarannya, dan sistem pertahanan udara Israel gagal mencegatnya.
“Serangan ini menyebabkan ketakutan dan kepanikan di kalangan pemukim Zionis, lebih dari dua juta orang melarikan diri ke tempat perlindungan,” lanjutnya.
Serangan ke Tel Aviv
Selain itu, Saree juga mengungkapkan bahwa Angkatan Udara Yaman melakukan operasi militer lain dengan drone jenis Yaffa, menargetkan sasaran penting di kota Yaffa (Tel Aviv) yang diduduki.
Menurut Saree, operasi ini merupakan bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina yang tertindas dan para pejuangnya, serta penolakan terhadap genosida yang dilakukan Israel di Gaza dengan dukungan Amerika Serikat.
Media The Times of Israel melaporkan bahwa rudal balistik yang ditembakkan dari Yaman memicu sirene peringatan di wilayah utara Israel pada Rabu pagi, dan membuat lebih dari satu juta orang bergegas menuju tempat perlindungan. Namun, militer Israel mengklaim bahwa rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara mereka.
Serangan Udara AS ke Yaman
Sementara itu, pada Selasa malam, pesawat tempur AS dilaporkan melakukan empat serangan udara di distrik al-Salem, provinsi Saada, utara Yaman. Serangan lain juga diluncurkan ke Pulau Kamaran di Laut Merah, serta dua serangan udara di distrik al-Salif, wilayah barat Yaman.
Serangan-serangan ini terjadi setelah Pasukan Bersenjata Yaman (YAF) berhasil menjatuhkan drone tempur MQ-9 milik AS di wilayah udara Yaman, tepatnya di lepas pantai provinsi Hajjah. Drone tersebut dituduh sedang melakukan misi “spionase.”
Yahya Saree menjelaskan bahwa drone itu ditembak jatuh dengan rudal darat-ke-udara buatan dalam negeri, dan menambahkan bahwa ini adalah drone MQ-9 ketujuh yang berhasil dijatuhkan selama April 2025, serta yang ke-22 sejak YAF memulai operasi militernya untuk mendukung Gaza.
YAF juga mengklaim telah meluncurkan dua operasi militer yang menargetkan kapal induk AS USS Harry S. Truman dan USS Carl Vinson, beserta kapal perang pengawalnya di Laut Merah dan Laut Arab.
Jumlah Korban di Gaza Sangat Mengerikan
Sejak Israel membatalkan kesepakatan gencatan senjata pada 18 Maret 2025, serangan udara besar-besaran terus diluncurkan ke seluruh Jalur Gaza, membunuh dan melukai ribuan penduduk sipil Palestina.
Serangan Israel ini dimulai sejak 7 Oktober 2023, setelah serangan oleh kelompok perlawanan Palestina di wilayah selatan Israel. Sejak saat itu, militer Israel melancarkan perang yang oleh banyak pihak disebut sebagai genosida, yang telah menewaskan lebih dari 51.000 orang Palestina, melukai lebih dari 116.000 orang, dan 14.000 lainnya masih hilang.
Meskipun banyak negara di dunia telah mengecam tindakan Israel, hampir tidak ada langkah nyata untuk menghentikan kekerasan tersebut.
Israel saat ini dalam penyelidikan oleh Mahkamah Internasional (ICJ) atas dugaan kejahatan genosida, dan beberapa pejabat tinggi, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, telah secara resmi menjadi buronan oleh Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
Tragisnya, tindakan ini masih terus didukung, dibela, dan dibiayai oleh Amerika Serikat dan beberapa negara Barat lainnya.
(T.FJ/S: Palestine Chronicle, Almayadeen)