Bahkan Orang Mati Pun Tak Aman di Gaza: Israel Hancurkan Kuburan, Tulang-tulang Berserakan

Ditulis oleh: Nadera Mushtha*

Gaza, NPC – Suatu hari, adik laki-laki saya yang berusia 13 tahun terbangun dalam kondisi sulit bernapas. Ia menceritakan bahwa ia bermimpi bertemu dengan kakek kami. Kakek kami telah wafat pada tahun 2017 dan dimakamkan di Pemakaman Al-Sharqiya, yang terletak di sebelah timur Kota Gaza, dekat perbatasan yang diduduki. Dalam mimpinya, kakek memberitahunya bahwa ia kehilangan kakinya akibat sebuah bom yang menghantam makamnya.

Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Pemakaman Al-Sharqiya selama genosida ini berlangsung. Itu adalah pemakaman terbesar di Gaza, tempat peristirahatan terakhir bagi sebagian besar penduduk sipil sipil Gaza. Tidak ada yang bisa menjangkaunya karena wilayah tersebut sangat berbahaya—tentara Israel menembak siapa pun yang mencoba mendekat. Kini, semua penduduk sipil Gaza ingin tahu nasib pemakaman itu. Banyak yang takut tempat itu telah diratakan dengan tanah dan dihancurkan.

Seorang pria pernah berkata kepada saya, “Keluarga dan orang-orang tercinta kami dimakamkan di sana. Kami punya hak untuk tahu nasib mereka”. Seorang ayah dari lima syuhada mengatakan, “Kami harus tahu apa yang terjadi agar bisa memindahkan jenazah mereka dengan hormat ke makam yang layak.” Seorang perempuan di jalan, dengan suara sedih, berkata, “Kami tak tahu di mana para jenazah kami berada, dan kami pun tak tahu kapan giliran kami menyusul.”

Penjajahan ini tidak menunjukkan rasa hormat terhadap rakyat Palestina—baik yang hidup maupun yang telah meninggal. Seolah-olah, bahkan tempat peristirahatan kami pun dianggap sebagai ancaman. Mereka juga menyerang bagian dari Pemakaman Ibn Marwan yang bersejarah dan sudah sangat tua. Pemakaman ini berada di dekat lingkungan Al-Shujaiya, tempat saya tinggal. Saya melihat langsung kuburan-kuburan yang hancur, dengan tulang-belulang berserakan setelah pemboman. Jadi, sangat mungkin bahwa Pemakaman Al-Sharqiya juga mengalami nasib yang sama—dihancurkan dan dinodai.

Selama genosida ini, kami kesulitan untuk menguburkan para syuhada. Tak satu pun dari mereka yang dimakamkan di Pemakaman Al-Sharqiya karena tempat itu sudah tidak bisa diakses. Kini, para syuhada dimakamkan dengan berbagai cara. Ada yang dikuburkan di pemakaman lama, bahkan di atas makam yang sudah ada. Ada juga yang dimakamkan di jalanan atau di halaman rumah. Beberapa masih tertimbun reruntuhan rumah mereka. Ketika keluarga mencoba mencari jenazah lebih dari setahun setelah mereka gugur, yang ditemukan hanyalah tulang-belulang.

Lebih dari itu, ribuan syuhada tidak memiliki makam. Mereka gugur dengan tubuh hancur atau menghilang tanpa jejak. Banyak yang masih dinyatakan hilang. Tak ada yang tahu di mana mereka berada, bagaimana mereka wafat, atau di mana jasad mereka sekarang. Di seluruh penjuru Gaza, ditemukan banyak kuburan tanpa nama. Israel bahkan menahan ratusan jenazah syuhada. Orang tua ingin memakamkan anak-anak mereka dengan layak, tapi hak dasar itu pun tak diberikan.

Seluruh wilayah penuh reruntuhan, beberapa penduduk sipil Gaza terpaksa mendirikan tenda di atas makam-makam yang rusak di Pemakaman Ibn Marwan. Bayangkan, bagaimana seorang anak bisa tidur di malam hari di atas tanah yang dulunya dipenuhi jasad orang yang telah tiada? Bagaimana seorang anak perempuan bisa mencari perlindungan di kamar mandi yang berada dekat dengan makam? Bagaimana seorang ayah bisa menenangkan anak-anaknya, padahal mereka berlindung di atas kuburan?

Bayangkan, suatu hari Anda ingin mengunjungi makam kakek Anda, tapi yang Anda temukan hanyalah tanah lapang yang hancur, tanpa batu nisan, tanpa nama, tanpa kenangan. Ini bukan cerita fiksi. Ini adalah kenyataan pahit yang dihadapi banyak orang di Gaza saat ini. Di Gaza, bahkan yang telah meninggal pun tak aman. Kami bahkan tidak bisa berziarah ke makam orang-orang tercinta. Kalau pun bisa, yang ditemukan hanya puing-puing dan tulang.

Bayangkan, Anda kembali dari pengungsian di Gaza bagian selatan dan ingin mengunjungi makam ibu Anda. Tapi yang Anda lihat adalah batu nisannya telah hancur, pemakamannya pun lenyap. Lalu Anda bertemu seorang pria yang memberitahu bahwa pemakaman darurat yang dibangun selama perang pun ikut hancur akibat bom. Ia mengumpulkan tulang-tulang yang berserakan dan menguburnya dalam satu makam massal.

Bayangkan pula, semua anggota keluarga yang baru saja berpulang dimakamkan dalam satu liang besar. Kemudian Anda mendengar bahwa wilayah tempat nenek moyang Anda dimakamkan juga diserbu. Setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan, Anda kembali ke sana dan hanya menemukan jasad leluhur Anda berserakan di tempat berbeda—tubuh mereka hancur dan kain kafan mereka tersobek, berserakan di tanah.

Genosida ini harus dihentikan. Kota kami yang dulu damai bagi yang hidup dan yang mati, kini berubah menjadi kota penuh reruntuhan dan kematian. Kami ingin merasa aman. Kami ingin bisa tidur dan yakin bahwa kami akan terbangun esok pagi. Kami ingin melihat masa depan yang dulu kami impikan sejak kecil. Kami ingin bisa mengunjungi makam orang-orang tercinta kami untuk menghormati dan mengenang mereka.

___

Nadera Mushtha adalah penulis dan penyair dari Gaza yang belajar pendidikan bahasa Inggris di Universitas Islam Gaza. Tulisannya dipublikasikan di Al Jazeera, Electronic Intifada, dan Washington Report on Middle East Affairs.

(T.FJ/S: Mondoweiss)

 

You might also like